banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250

Membangun Keluarga Hebat

banner 120x600

Oleh : Dr. Mualim, MA (Ketua STIS Husnul Khotimah Kuningan)

Keluarga merupakan struktur terkecil dalam masyarakat, namun keberadaannya mempunyai peran yang cukup besar. Baik buruknya tatanan kehidupan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kondisi keluarga yang tinggal dalam lingkungan masyarakat tersebut. Pamela Li, seorang pakar parenting Barat, dalam sebuah artikel yang dimuat dalam situs www.parentingforbrain.com mengatakan bahwa keluarga yang ‘sehat’ merupakan asas atau pondasi masyarakat yang sehat (Healthy families are the building blocks of a healthy society). Bahkan Woodhams V dkk, dalam sebuah artikel yang diterbitkan BMC Health Serv Res menyimpulkan bahwa kesuksesan dan kebahagian hidup seseorang tergantung pada keluarga tercinta yang dimilikinya serta kesehatan hubungan diantara sesama anggota keluarganya. Permasalahannya adalah bagaimana caranya untuk membangun keluarga yang “sehat” (baca : hebat) ? Jawaban terhadap pertanyaan ini penting, sebab belum tentu setiap kita mempunyai keluarga yang “sehat”, karena realitasnya tidak setiap keluarga yang dibangun otomatis menjadi keluarga yang “sehat”, sebaliknya diperlukan usahakan yang tidak mudah untuk mewujudkan keluarga yang “sehat”.

banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280

Antara Pasangan dan Kebahagian

Bahwa rumah tangga yang dibangun oleh dua orang individu (suami dan istri) tidak secara otomatis melahirkan keluarga yang sehat, telah dingatkan Allah SWT dalam Al Quran Surat Ar Rum ayat 21, yang artinya “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” 

Dalam ayat tersebut, ketika Allah menyebutkan kata ‘pasangan’ (istri-istri dari jenismu sendiri..) – baca jodoh – menggunakan kata khalaqa yang artinya menciptakan. Sedangkan ketika Allah menyebutkan rasa kasih-sayang (yang merupakan tujuan pernikahan) menggunakan kata ja’ala yang artinya menjadikan. Penggunaan kata khalaqa dan ja’ala dalam ayat tersebut bukan secara kebetulan, tetapi ternyata mengandung hikmah yang sangat besar. Dalam bahasa Arab kata khalaqa itu mengandung arti taqdiri, yang bermaksud bahwa pasangan atau jodoh itu sudah merupakan taqdir atau ketetapan dari Allah SWT. Artinya manusia ketika mau menikah untuk membangun keluarga, mereka tidak bisa memilih –  milih pasangannya karena memang sudah ditentukan oleh Allah SWT (bahkan sejak manusia masih berada dalam rahim ibunya). Sedangkan kata ja’ala berarti ahdatsa (memunculkan) dan ansya’a (memperbarui) yang mengandung arti ikhtiyari. Artinya untuk mendapatkan kebahagian dan kasih-sayang dalam keluarga perlu adanya ikhtiar atau usaha.

5 (Lima) Langkah Membangun Keluarga Hebat

Lantas bagaimana cara untuk membangun keluarga yang “sehat”? Paling tidak ada 5 (lima) langkah yang dapat dilakukan untuk membangun keluarga “sehat”. Pertama, ciptakan suasana religius dalam keluarga. Suasana religius sangat penting dalam membangun keluarga yang sehat. Orang yang mempunyai tingkat religiusitas (baca:keimanan) yang tinggi, biasanya akan menyandarkan segala urusannya kepada Allah SWT, sehingga kemudian dia mempunyai hubungan yang dengan dengan Allah (hablunminallah) sedangkan Allah adalah Dzat Yang Maha Memberi Kebahagian. Oleh karena itu, wajar jika mereka mempunyai peluang yang besar untuk bahagia, sedangkan kebahagian merupakan modal yang penting dalam membangun keluarga sehat. 

Kedua, komunikasi dan transparansi. Kebuntuan komunikasi (lack of communication) merupakan pembunuh nomer satu hubungan persahabatan. Demikian pula halnya dalam keluarga, seringkali keretakan hubungan dalam keluarga terjadi karena adanya kebuntuan komunikasi antara suami dan istri. Sebaliknya keterbukaan komunikasi dan transparansi antara suami istri merupakan modal penting dalam membangun keluarga yang sehat.

Bahkan menurut Profesor Steve Miller, seorang peneliti perusahaan keluarga sekaligus co-founder the Family Enterprise Center di UNC Kenan-Flagler, mengatakan bahwa komunikasi secara terbuka dan transparansi dalam keluarga merupakan kunci kesuksesan jangka panjang dari perusahaan yang dikelola oleh keluarga. 

Ketiga, sediakan waktu bersama keluarga. Tidak bisa dinafikan bahwa banyak urusan yang harus diselesaikan dalam keluarga, sehingga masing-masing anggota keluarga sibuk menyelesaian urusan tersebut. Suami sibuk dengan pekerjaan dan bisnisnya, istri sibuk dengan pekerjaan rumah serta mengurus anak-anaknya. Kesibukan tersebut membuat keduanya jarang memiliki waktu untuk bersama. Jika hal ini terus dibiarkan maka lama-kelamaan akan menyebabkan terjadinya kerenggangan huubungan. Jangan biarakan hal ini terjadi, sebaliknya sediakanlah waktu bersama keluarga (family time), di tengah-tengah kesibukan yang ada. Waktu bersama keluarga sangat penting untuk membangun keluarga yang sehat. Tidak harus lama, tetapi yang penting adalah kualitasnya (quality time). Tidak perlu tempat yang jauh dan tidak perlu dengan biaya mahal, quality time bersama keluarga bisa dilakukan di manapun dan kapanpun. Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan untuk menciptakan quality time bersama keluarga, misalnya; makan bersama, saling bertukar dan berbagi cerita, duduk berdua bersama pasangan, rekreasi hingga membuat rencana bersama.

Keempat, saling membantu dan melengkapi. Keluarga merupakan sebuah tiem.  Sikap saling membantu dan melengkapi sesama anggota, akan menjadikan keluarga tersebut menjadi sehat dan kokoh, selain juga menjadikan masing-masing mempunyai peran dan merasa dihargai. Tentu saja, saling membantu dalam kebaikan bukan justru saling membantu dalam keburukan, sebagaikan diingatkan Allah dalam Al Quran Surat Al Maidah:2, yang artinya: “Dan tolong-menolonglah kami dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran..”

Kelima, pengelolaan keuangan rumah tangga. Membangun keluarga tidak cukup hanya bermodalkan cinta dan rasa suka. Sebaliknya perlu modal harta yang terkadang tidak sedikit jumlahnya. Betapa banyak keluarga yang kandas di tengah jalan, hanya karena masalah harta (baca: faktor ekonomi). Oleh karenanya, pengelolaan ekonomi keluarga sangat penting untuk membangun keluarga yang sehat. Perlu disesuaikan antara pemasukan dan pengeluaran. Jangan sampai pengeluaran lebih besar dari pemasukan, seperti pepatah “besar pasak daripada tiang.” Perlu dibedakan antara kebutuhan dan keinginanan. Bukan semua yang diinginkan merupakan kebutuhan, sehingga harus dipenuhi. Akan lebih baik jika dalam keluarga mempunyai lebih dari satu pintu pemasukan. Misalnya, jika salah satu atau kedua-dua suami istri bekerja, tidak ada salahnya jika tetap merintis suatu usaha. Cara ini akan membantu meningkatkan ekonomi keluarga, sehingga keluarga akan menjadi semakin sehat dan kokoh.

Demikian beberapa langkah untuk membangun keluarga sehat. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi ash shawwab.


banner 336x280
banner 336x280

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!