Bingkaiwarta, CIGUGUR – Siswa-siswi kelas 4 SD Linimasa Kuningan sangat berantusias belajar membatik dengan menggunakan Lilin malam dingin.
Beragam goresan sejarah dari munculnya batik sebagai busana Indonesia. Batik sudah menjadi identitas Indonesia yang diakui oleh lembaga PBB untuk Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, UNESCO sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda sejak tahun 2009.
Membatik bagai kehidupan, mulai dari membuat pola hingga menjadi sebuah karya yang indah. Batik sebagai warisan budaya yang tak boleh punah, berbagai kreasi dan inovasi terus dilakukan sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan zaman.
Galeri Parigi dibawah naungan DPC Pejuang Siliwangi Indonesia Bersatu terus berinovasi dan berkreasi di bidang budaya, membatik malam dingin adalah salah satunya. Dimana proses menyanting dengan cara menggoreskan malam yang limbahnya tidak berbahaya bagi lingkungan. Lilin malam yang dipakai tidak panas dan tidak berbahaya bagi kulit. Cara ini sebetulnya adalah cara lama sebelum adanya lilin malam panas seperti sekarang, dan di Banten disebutnya dengan “Bubur Simbut”.
Pengelola Galeri, Laurent menjelaskan, malam dingin itu sendiri terbuat dari bubur beras ketan dan campuran gula merah. Selain ramah lingkungan batik malam dingin sangat aman untuk anak-anak karena tidak menggunakan lilin malam yang dipanaskan.
Siswa dan siswi Kelas 4 SD Linimasa Kuningan pun tampak begitu menikmati proses menyanting tanpa di bayang-bayang ketakutan akan panas kompor dan polusi dari akibat pembakaran dan pemanasan Lilin malam. Mulai dari menitik kan malam dingin hingga membuat goresan berupa garis yang begitu indah tanpa hambatan sama sekali.
“SD Linimasa Kuningan sebagai sekolah swasta yang merealisasikan kurikulum merdeka secara serius dan menggabungkan dengan alam, mengekspresikan kecintaan terhadap batik dan Tanah Air dengan tidak merusak lingkungan, kita dapat belajar membatik yang aman dan sangat environmentally friendly,” ungkapnya.
Ryan salah satu guru SD Linimasa Kuningan mengakui bahwa anak-anak pun sangat menikmati dan sangat gembira merasakan pendidikan yang benar real tak sebatas teori belaka. “Pelatihan batik yang diselenggarakan Gellery Parigi jelas sangat membantu bagi kami karena hal ini sejalan dengan visi dan misi sekolah,” ujar Ryan.
Ia menambahkan, bagi yang berada di wilayah Kuningan tak perlu jauh-jauh, bisa belajar membatik di kawasan wisata Cisantana, tepatnya di Galleri Parigi Jalan Raya Cisantana- Palutungan Blok Parigi Desa Cisantana dengan menghubungi Contact Person Kang Laurent di nomor 0812-2263-7107
“Dengan hanya mengganti biaya alat (Kain dan Lilin Malam) sebesar Rp. 35.000,-. sudah bisa langsung belajar membatik. Selain belajar batik gratis, kita juga tidak perlu bayar tiket masuk. Disediakan pula makanan tradisional liwet dan makanan minuman kekinian lainya. Jadi tunggu apalagi, membatik beuuu !!!!,” pungkasnya. (Abel)














