Oleh: Widdiya Permata Sari
(Komunitas Gen Hijrah)
Pernahkah kita merasa, meski hidup di zaman yang serba mudah, batin kita justru terasa semakin lelah? Di balik gedung-gedung tinggi dan layar ponsel yang mengilat, tersimpan sebuah fenomena pahit: masyarakat kita sedang mengalami “keropos jiwa”.
Awal tahun 2026 ini, kita disuguhi rentetan berita yang menyesakkan dada. Mulai dari remaja yang memilih mengakhiri hidup karena perundungan di media sosial, hingga orang dewasa yang terjebak kecemasan akut akibat tekanan ekonomi. Mengapa di saat fasilitas kesehatan dan teknologi semakin maju, angka depresi justru melonjak?
Realitanya, kita sedang hidup dalam “budaya pamer”. Media sosial memaksa kita untuk terus membandingkan diri dengan orang lain. Kita merasa tertinggal (FOMO) jika tidak secepat atau sesukses orang lain di lini masa. Akibatnya, standar kebahagiaan kita tidak lagi diletakkan di hati, melainkan pada jumlah likes dan validasi orang asing. Inilah yang membuat nafsiyah atau kepribadian kita menjadi seperti kaca: tampak indah, tapi langsung hancur saat terkena benturan kecil.
Jika kita bedah lebih dalam, kerapuhan ini terjadi karena kita kehilangan “jangkar” atau pegangan hidup. Dalam sudut pandang Islam, masalah mental ini erat kaitannya dengan pola pikir kita. Kita sering kali dididik untuk mengejar dunia seolah-olah kita akan hidup selamanya, namun lupa membekali jiwa untuk menghadapi kegagalan.
Banyak dari kita yang merasa menjadi “tuhan” atas nasib sendiri. Kita merasa jika sudah bekerja keras, maka hasil harus sesuai keinginan.
Padahal, ada konsep Qada dan Qadar yaitu ketetapan Tuhan yang seharusnya menjadi peredam stres. Allah SWT telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22)
Ketika rencana tidak sejalan dengan realita, mereka yang tidak memiliki sandaran spiritual akan merasa dunianya runtuh. Inilah yang membuat jiwa terasa “kering” meski raga berkecukupan.
Lantas, bagaimana cara menyembuhkan luka jiwa yang terlanjur retak ini? Islam tidak hanya menawarkan pelarian, melainkan jalan pulang yang mendalam untuk menemukan kembali hakikat diri:
Pertama, Rekonstruksi Makna Ujian (Ganti Sudut Pandang):
Sadari bahwa dunia ini bukanlah panggung untuk kesempurnaan, melainkan hamparan luas tempat manusia ditempa. Jika kita menganggap hidup harus selalu bahagia, kita akan terus-menerus kecewa. Namun, jika kita memahami bahwa setiap sesak adalah cara Tuhan memperluas kapasitas hati, maka beban mental akan terasa lebih ringan. Allah SWT telah menetapkan presisi dalam setiap beban
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).
Pahamilah bahwa luka yang Anda rasakan saat ini sudah diukur dengan sangat teliti oleh Sang Maha Pencipta agar tidak sampai menghancurkan Anda, melainkan menguatkan pondasi jiwa Anda.
Kedua, Puasa Visual dan Zuhud Digital (“Diet” Digital):
Di era di mana jempol lebih cepat bergerak daripada zikir, kita butuh jeda dari kebisingan dunia maya. Mulailah membatasi konsumsi konten yang hanya memupuk rasa “kurang” dan “iri”. Kembalilah menundukkan pandangan; bukan hanya dari maksiat, tapi juga dari kemewahan semu yang menjajah kedamaian hati. Rasulullah SAW bersabda
“Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan janganlah melihat kepada orang yang berada di atasmu. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu.” (HR. Muslim).
Fokuslah pada rasa syukur atas apa yang nyata di genggaman, bukan apa yang fana di layar ponsel.
Ketiga, Sinergi Ikhtiar dan Tawakal (Seimbangkan Doa dan Usaha):
Jangan pernah merasa bersalah atau kurang beriman jika Anda perlu mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Mencari obat adalah bagian dari syariat, karena akal dan jiwa juga bisa jatuh sakit. Namun, barengi ikhtiar lahiriah itu dengan “curhat” paling jujur di keheningan sepertiga malam. Jadikan sajadah sebagai tempat paling aman untuk menumpahkan segala rapuhmu tanpa perlu takut dihakimi. Ingatlah janji-Nya:
“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Zikir adalah “obat penenang” paling organik yang tidak hanya menidurkan rasa sakit, tapi menyembuhkan akarnya.
Keempat, Membangun Ukhuwah yang Autentik (Lingkungan yang Merangkul):
Manusia adalah makhluk yang butuh “didengar” sebelum “dinasihati”. Di tengah dunia yang penuh kepalsuan, carilah lingkaran pertemanan yang mencintai Anda karena Allah, bukan karena jabatan atau pencapaian. Jadilah telinga yang sabar dan bahu yang kokoh bagi sesama. Rasulullah SAW mengibaratkan orang mukmin seperti satu bangunan:
“Seorang mukmin dengan mukmin lainnya seperti satu bangunan yang satu sama lain saling menguatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Kita tidak diciptakan untuk memanggul dunia sendirian; terkadang, kesembuhan kita ada pada kebaikan yang kita berikan kepada orang lain yang sama-sama sedang terluka.














