Bingkaiwarta, CIGUGUR – Suasana ceria dan haru menyelimuti tepian kolam renang Hotel Purnama Mulia, Kabupaten Kuningan, pada Sabtu (11/04/2026). Tawa riang terdengar bersahutan berpadu dengan gemercik air dan cahaya matahari yang hangat. Bagi sebagian orang, kegiatan berenang mungkin hal biasa. Namun, bagi 23 peserta penyandang tuna netra yang hadir hari itu, momen tersebut adalah sebuah kemenangan dan pengalaman yang tak ternilai.
Mereka yang berasal dari berbagai kecamatan di Kuningan ini tergabung dalam komunitas Rumah Sahabat Qur’an Kuningan – Netra Berkah Mandiri. Komunitas ini telah bergerak selama tiga tahun terakhir dalam memberikan pembinaan dan harapan bagi anak-anak yang kerap luput dari sorotan. Satu per satu peserta melangkah perlahan menuju kolam, saling menggenggam tangan atau dipandu oleh para relawan. Ragu-ragu sempat terlihat saat pertama kali menyentuh air, namun tak lama kemudian senyum bahagia pun merekah di wajah mereka.
Kegiatan ini bukan sekadar hiburan semata. Di sela-sela keseruan berenang, mereka juga mengisi waktu dengan permainan menyambung ayat suci Al-Qur’an. Suara lantunan ayat yang terdengar menciptakan harmoni yang menyentuh hati. Bagi sebagian peserta, ini adalah pengalaman pertama mereka merasakan sensasi berenang. Air yang mengalir di tubuh mereka menjadi bukti nyata bahwa keterbatasan fisik bukan penghalang untuk menikmati indahnya hidup.
Hj. Evi Sovia Marzuki, pendiri komunitas ini, tampak menatap para peserta dengan mata berkaca-kaca dari sudut kolam. Ia tahu betul bahwa kebahagiaan yang terlihat hari itu adalah buah dari perjuangan panjang. Selama tiga tahun berjalan, komunitas ini harus bertahan dengan fasilitas yang terbatas, dukungan yang minim, serta tanpa adanya donatur tetap.
“Kami hanya ingin mereka punya kesempatan yang sama untuk merasakan kebahagiaan dan pengalaman layaknya anak-anak lain,” ujarnya dengan nada lirih namun tegas.
Di balik kegiatan yang tampak sederhana ini, tersimpan program rutin yang luar biasa. Setiap akhir pekan, dari pagi hingga menjelang waktu salat Dzuhur, anak-anak ini belajar membaca huruf Braille, menghafal Al-Qur’an dengan kaidah yang benar, hingga memainkan alat musik hadroh. Hal yang membanggakan, sebanyak sepuluh tenaga pengajarnya juga merupakan penyandang tuna netra, membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk memberikan manfaat bagi sesama.
Kini, program tersebut telah menjangkau berbagai kalangan, mulai dari siswa sekolah dasar hingga mahasiswa. Namun, di tengah konsistensi tersebut, satu hal yang masih menjadi tantangan adalah minimnya perhatian dari pihak pemerintah daerah. Melalui momen ini, Evi kembali menyuarakan harapan agar ke depannya lebih banyak anak-anak penyandang tuna netra di Kuningan yang bisa mendapatkan akses pembinaan yang serupa.
Di sisi lain, kebaikan datang dari pihak yang tak terduga. Adrian Purnama, pemilik Hotel Purnama Mulia, bersedia menyediakan fasilitasnya secara cuma-cuma. Baginya, bantuan ini bukan untuk mengejar keuntungan atau citra, melainkan bentuk meneruskan warisan nilai kebaikan dari ayahnya, almarhum H. Acep Purnama.
“Ini murni urusan kemanusiaan dan berbagi kebahagiaan,” ucap Adrian singkat.
Hari itu, kolam renang sederhana itu menjadi saksi bahwa kebahagiaan tak selalu butuh hal besar. Cukup dengan adanya kesempatan, kepedulian, dan ruang yang sama, wajah-wajah kecil itu memancarkan cahaya harapan yang tak bisa dilihat oleh mata, namun terasa begitu kuat di hati. Meskipun mereka mungkin tidak bisa melihat dunia, namun mereka mampu merasakannya dengan cara yang jauh lebih dalam.
Dari kolam itu, sebuah harapan mengalir perlahan. Semoga kepedulian seperti ini tidak berhenti sampai di sini, melainkan menggerakkan lebih banyak pihak untuk terlibat. Sebab bagi Rumah Sahabat Qur’an, misi mereka tetap sederhana: menghadirkan cahaya bagi mereka yang tak bisa melihat, serta menumbuhkan harapan di tempat yang sering kali terabaikan. (Abel)













