Bingkaiwarta, KUNINGAN – Sektor pertanian Kabupaten Kuningan terus memperkuat peranannya sebagai penopang ketahanan pangan daerah dan regional, dengan tren produksi beras yang meningkat signifikan. Setelah menunjukkan kinerja stabil di 2023 dan 2024, tahun 2025 mencatat lonjakan yang mencengangkan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menegaskan bahwa produksi beras tahun 2025 mencapai 254.124 ton. “Dengan jumlah penduduk sekitar 1.225.493 jiwa dan kebutuhan konsumsi beras 134.191 ton per tahun, kita kembali mencatat surplus sebesar 119.933 ton. Ini menunjukkan tren produksi yang terus naik dan sangat stabil,” ujarnya.
Pada tahun 2023, produksi beras Kuningan tercatat 224.593 ton dengan surplus 93.000 ton, kemudian meningkat sedikit menjadi 225.995 ton dengan surplus 93.070 ton di 2024.
Peningkatan ini didorong oleh luas tanam dan panen yang melampaui target Provinsi Jawa Barat. Data dinas menunjukkan, realisasi luas tanam padi hingga MT 2024/2025 sampai MT 2025 mencapai 64.185 hektare, dengan luas panen 64.188 hektare – jauh di atas target provinsi yang masing-masing 52.975 hektare dan 50.817 hektare. Dari capaian tersebut, produksi gabah mencapai 396.388 ton dengan produktivitas rata-rata 61,75 kuintal per hektare.
Menurut Wahyu, tren positif ini hasil sinergi antara agroklimat yang mendukung dan kebijakan pertanian yang terarah. “Pola kemarau basah dengan curah hujan stabil membuat petani bisa panen hingga dua atau tiga kali setahun tanpa membuka lahan baru,” jelasnya.
Pemerintah Kabupaten Kuningan juga didukung penuh oleh Kementerian Pertanian melalui optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, penyediaan alsintan, benih bersertifikat, dan bantuan stimulan. Capaian ini bahkan mendapat apresiasi dari Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian atas kontribusinya dalam mendukung produksi padi Jawa Barat, yang tahun 2025 mencapai 10,2 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) – sedangkan nasional mencapai 60,37 juta ton GKG.
“Kontribusi Kuningan menunjukkan peran strategis dalam menjaga ketahanan pangan Jawa Barat dan nasional,” tegas Wahyu.
Di tengah surplus, dia memastikan stabilitas harga gabah tetap terjaga dan berpihak petani. Sebagian hasil panen disimpan di gudang petani dan dilepas bertahap, ditambah penyerapan Bulog dengan harga Rp6.500 per kilogram Gabah Kering Panen (GKP). “Kami memastikan peningkatan produksi berjalan seiring dengan perlindungan bagi petani,” katanya.
Dengan demikian, Kuningan semakin menegaskan posisinya sebagai daerah penyangga pangan strategis yang mampu menjaga keseimbangan antara ketersediaan pangan dan kesejahteraan petani. (Abel)














