banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Silaturahmi BTNGC dengan Media: Paparan Konservasi dan Tantangan Gunung Ciremai

 

Bingkaiwarta, CILIMUS – Selasa (23/12/2025) menjadi hari silaturahmi antara Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC) dan wartawan di J&J Cafe, Kecamatan Cilimus, Kuningan. Kegiatan yang juga berisi jumpa pers ini bertujuan untuk menjembatani komunikasi dan memaparkan upaya BTNGC dalam menjaga kelestarian kawasan Gunung Ciremai.

banner 728x250

Kepala BTNGC, Toni Anwar, menegaskan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi yang utuh, berimbang, dan sesuai fakta terkait pengelolaan taman nasional. “Kami berharap informasi yang disampaikan ke publik benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan. Jika ada kegiatan positif seperti pelepasan elang atau program konservasi lainnya, tentu akan kami siapkan data dan referensinya agar bisa diangkat secara tepat,” ujarnya.

Ia juga mendorong pengaktifan kembali forum komunikasi atau grup bersama antara BTNGC dan wartawan agar arus informasi tidak terputus dan tidak terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan.

Toni menjelaskan, Taman Nasional Gunung Ciremai memiliki karakteristik unik dibandingkan taman nasional lain. Sejak ditetapkan pada 2004, kawasan ini terdiri dari wilayah gunung yang berbatasan langsung dengan lahan milik masyarakat, Hak Guna Usaha (HGU), hingga kawasan non-konservasi. “Di beberapa titik memang masih ada persoalan batas kawasan dan klaim lahan dari pihak lain. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama, karena kewenangan kami hanya di dalam kawasan taman nasional,” jelasnya.

Selain itu, BTNGC tengah mengidentifikasi sekitar 1.800 hektare kawasan penyangga di luar taman nasional yang memiliki nilai ekologis tinggi, seperti koridor satwa dan daerah resapan air. Langkah ini sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2024, meskipun aturan turunannya masih menunggu Peraturan Pemerintah.

Menanggapi isu pemanfaatan panas bumi (geothermal), Toni menegaskan bahwa secara regulasi kegiatan tersebut dimungkinkan di kawasan konservasi dengan izin ketat dan kajian mendalam. “Panas bumi kini dikategorikan sebagai jasa lingkungan dan energi baru terbarukan. Namun prinsipnya, setiap pemanfaatan harus aman secara regulasi, teknis, ekologis, sosial, dan ekonomi,” tegasnya. Ia menambahkan, BTNGC tidak berada pada posisi mendukung atau menolak, melainkan memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan tidak merusak fungsi utama konservasi.

Sejak ditetapkan menjadi taman nasional, tutupan lahan Gunung Ciremai menunjukkan tren positif. Dari sekitar 53 persen pada 2004, meningkat menjadi 80 persen pada 2021. “Ini tidak lepas dari perubahan pola pengelolaan dan keterlibatan masyarakat. Dulu ada ribuan penggarap sayuran, kini beralih ke sektor wisata dan kemitraan konservasi,” ungkap Toni.

BTNGC juga mencatat peningkatan data keanekaragaman hayati, termasuk hasil kamera jebak yang merekam keberadaan satwa liar seperti macan tutul. Selain itu, BTNGC telah mengembangkan berbagai inovasi berbasis sumber daya hayati, seperti PGPR (pengatur tumbuh tanaman), anti frost, dan anti hama yang berpotensi menekan biaya produksi pertanian masyarakat.

“Inovasi ini lahir karena kemurnian ekosistem Ciremai masih terjaga. Inilah alasan kenapa kawasan ini harus dipertahankan,” tutupnya. (Abel)


banner 336x280
banner 336x280

Tinggalkan Balasan