banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250


banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Membangun Kembali Tradisi Intelektual Sebagai Momentum Kembali Ke Khittah HMI, ke Ummat dan Bangsa

  • Bagikan

Refleksi Milad/ Dies Natalis ke 75 Himpunan Mahasiswa Islam
( HMI )

Oleh : Ikhsan Bayanuloh

banner 336x280
banner 336x280

Eksistensi HMI tidak terlepas dari peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia. Ketika berdiri pada tanggal 5 Februari 1947, HMI telah menunjukan jati diri dan perannya dalam membentuk tatanan kenegaraan bangsa Indonesia. Melalui dua tujuan dari organisasi kemahasiswaan terbesar dan tertua ini, yakni meningkatkan derajat rakyat Indonesia serta menegakan dan mengembangkan ajaran Islam.

Tujuan tersebut merupakan komitmen berdasarkan keinginan dan kesadaran yang kuat untuk meperbaiki nasib bangsa dan negara Indonesia yang merupakan salah satu bentuk karakter nasional. Komitmen dan idealistis HMI tersebut merupakan sebuah fenomena tersendiri disebabkan dalam diri organisasi, Indonesia dan Islam terpadu dan integrasi secara harmoni sehingga sepanjang sejarah perjuangan bangsa Indonesia kiprah dari kader-kader HMI telah teruji dalam mewarnai berbagai bidang seperti politik, hukum, ekonomi, pendidikan, sosial, budaya dll.

Hampir tidak dapat disangsikan oleh komponen lain di bangsa ini, bahwa kader-kader HMI cukup memainkan peranan penting sebagai lokomotif perubahan dan menjadi bagian dari kontrol sosial dengan menempatkan kaidah kebenaran dan keadilan sebagai nafas perjuangannya. Hal ini tidak terlepas dari kultur yang selalu mengedepankan tradisi intelektualnya dalam menyikapi dan responsif dengan kondisi yang aktual bangsa Indonesia.

Kebesaran sejarah yang telah digoreskan oleh HMI dengan tinta emas dinafasi oleh khittoh perjuangannya yang mendudukan ke-Islaman, ke-bangsaan dan ke-Indonesiaan sebagai motivasi dasar kompas perjuangannya. kini catatan tersebut lambat laun mulai redup dengan hilangnya secara bertahap tradisi yang dulu pernah menjadi kebanggaan kita dalam memberikan kontribusi yang cukup baik dengan memainkan peran terhadap masyarakat yaitu sikap daya kritis serta analitis kadernya yang semakin terkikis dari élan vitalnya sebagai aktivis mahasiswa dalam menyikapi persoalan bangsa.

Keadaan negara Indonesia yang saat ini dihadapkan oleh masalah-masalah sosial yang semakin kompleks, ternyata belum mampu teratasi secara komprehensif. Bangsa yang tengah dilanda dengan berbagai persoalah yang heterogen, seperti krisis sosial berupa konflik horizontal sebagai tindakan atas ketidakpuasan kepada oknum elit yang dilakukan oleh para penguasa, krisis politik yang dipenuhi dengan intrigue kebencian, krisis ekonomi dengan munculnya tragedi krisis financial global, ancaman disintegrasi bangsa, krisis keberagamaan yang berupa ketidakmampuan umat beragama untuk mempromosikan nilai-nilai kebenaran agama sebagai spirit perdamaian dan keadilan, membutuhkan pengawalan dari kader HMI agar tetap menjadi tenda penyejuk bagi seluruh potensi anak bangsa Indonesia.

Beratnya persoalan tersebut telah membawa rakyat Indonesia berjalan tanpa arah demi sekedar mempertahankan hidup semata. Pengangguran, kemiskinan, rasa aman, dan rasa kemanusiaan semakin langka, peristiwa politik yang akan dihadapai bangsa Indonesia saat ini tengah memasuki titik klimaks transisional sehingga kita dihadapkan pada dua pilihan sebagaimana seringkali di torehkan dalam sejarah negara-negara transisional pasca reformasi tahun 1998 yaitu pilihan demokratisasi ataukah kembali pada otoriterianisme. Pilihan ini tertumpu pada pelaku sejarah, bahkan acaman terkoyaknya disintegrasi bangsa tampak di depan mata. Ironisnya hal ini turut menjadi penyebab tingkat kepercayaan terhadap pengusa semakin menurun bahkan akan semakin hilang.

Melihat kondisi tersebut dalam kaitannya dengan cita-cita HMI yakni mewujudkan terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakan adil dan makmur yang diridhai Allah SWT, HMI hendaknya perlu me-review agar tetap istiqomah dengan khittahnya sebagai organisasi sosial dan gerakan intelektual yang populis bukan sebagai organisasi pragmatis dan terlalu elitis. Responsif terhadap keadaan bangsa, merupakan tanggung jawab kita semua terlebih oleh mahasiswa yang notabenenya sebagai penyambung lidah aspirasi masyarakat.

Namun sayangnya harapan perubahan yang kini didambakan oleh seluruh rakyat Indonesia belum sampai pada kondisi yang memuaskan. Hal ini akibat dari kemunduran tradisi intelektual HMI dalam mengasah pemikiran intelektualitas serta tidak peka terhadap kondisi kekinian sehingga memicu adanya sekat antara strata bawah dan strata atas.

Jika dilihat dari realitasnya, kemunduran tradisi intelektual ini disebabkan oleh tiga faktor, pertama sistem pendidikan tinggi yang belum kondusif untuk pengembangan kemampuan intelektual sehingga terjebak pada formalisme ijazah dan score-oriented. Kedua, situasi politik nasional yang mendorong mahasiswa untuk terlibat pada politik praktis bahkan dihadapkan pada konflik internal yang belum menunjukkan sikap kedewasaan dalam berorganisasi, sehingga mitos bahwa mahasiswa sebagai agent of social and political changes semakin ditinggalkan dan melupakan pengembangan intelektualnya sebagai basis dari identitas kader HMI.

Ketiga sistem rekrutmen dan perkaderan yang cenderung pada kuantitas bukan pada kualitas. Disinilah perlu adanya penyadaran bahwa gerakan sebagai aktivitas dedikasi diri harus didasari oleh pandangan yang jernih mengenai persoalan-persoalan yang menimpa bangsa ini. Pandangan jernih tersebut memiliki perpaduan antara semangat intelektual dan gerakan produktif yang konstruktif dalam mengembangkan semua potensi agar bekerja sama sehingga dapat membangun dengan sinergis potensi yang dimiliki bangsa ini. Pandangan tersebut harus menjadi momentum progresifitas gerakan pencerahan dan kemandirian bangsa.

Pencerahan memang harus dimulai dengan kerja intelektual disertai dengan upaya memberikan solutif dengan mengedepankan independensi tanpa tendensi apapun yang tidak lain adalah untuk mendorong bangsa ini menjadi bangsa yang memiliki kepercayaan diri serta mampu menghadapi tantangan di masa depan. Karena itu, pencitraan dan penguatan intelektual menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam tubuh HMI.

Kepeloporan HMI dalam tradisi intelektual hendaknya harus dimulai kembali dengan mengikhlaskan diri dalam mengedepankan kebebasan berfikir dalam merespon apa yang menjadi realitas fenomena yang terjadi tanpa ada niat penggalangan kekuatan eksklusif untuk penguasaan dan eksploitasi. Idealisme yang dimiliki kader HMI hendaknya disulut kembali dengan mengdepankan api prestatif Dien- Islam melalui penguatan karakter nilai-nilai dasar perjuangan yang menjadi spiririt kaum muda dalam berjuang tanpa kenal lelah.

Kaum muda bukan berarti hanya dominasi berdasarkan umur dan usia lebih dari itu, kaum muda bisa dimaknai sebagai manifestasi sikap reformistik, yakni sikap elaboratif sikap mental dan spiritual untuk mendedikasikan potensi diri dan sosial bagi perubahan kearah yang lebih baik bagi bangsa dan negara. Dengan modal idealisme yang tinggi dan gerakan moral force yaitu himpunan simpul-simpul kebaikan dan keutamaan karakter yang membentuk citra bersih, baik, indah dan benar yang berdampak bukan ditakuti dan dibenci melainkan disegani dan dirindukan, HMI hendaknya mampu menjawab dan memberikan solutif bagi persoalan bangsa, jika HMI tidak ingin menjadi organisasi yang termarjinalkan oleh organisasi kemahasiswaan lain serta perubahan dinamika dan fenomena sosial yang terjadi apakah itu politik, hukum, pendidikan, ekonomi, sosial, budaya dll sehingga catatan tinta emas yang ditorehkan oleh kader HMI sebelumnya menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari peranan HMI saat ini dalam membangun masyarakat madani yang berkeadilan serta mampu mewujudkan apa yang menjadi kehendak rakyat Indonesia sehingga amal perbuatan yang kita berikan merupakan yang terbaik untuk umat dan bangsa dengan berpegang teguh pada motto Yakin Usaha Sampai.

Di usia dies natalis HMI yang ke 75 hendaknya HMI me re-building tradisi intelektualnya sebagai momentum kembali ke khitah HMI, ke-ummat dan bangsa sebagai perwujudan manifestasi perjuangan yang tak kenal henti untuk membawa aspirasi dalam menyongsong perubahan bangsa Indonesia kearah yang lebih baik. Semoga Allah SWT meridhai kita dalam menjalankan aktifitas kita. Aamiin.

Selamat Dies Natalis ke 75 Himpunan Mahasiswa Islam ( HMI ) Semoga langkah perjuangan kita tak pernah berhenti,,

Yakin Usaha Sampai

(Penulis adalah alumni HMI Cabang Kuningan)


banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!