Bingkaiwarta, KALIMANGGIS – Carut marut dugaan kasus sunat bansos Program Keluarga Harapan (PKH) kembali terulang. Kali ini terjadi di Desa Wanasaraya, Kecamatan Kalimanggis, Kabupaten Kuningan. Penerima Manfaat (PM), Junaedi, bahkan mengaku pernah unjuk rasa ke pemerintahan desa.
Junaedi mengaku, sejak 2019 mendapat bansos PKH Rp 1.650.000,- tapi sejak kartu ATM termasuk PIN dipegang agen, Ia hanya mendapat Rp 1.350.000. Dari situ Ia merasa sudah sangsi. “Dari awal kartu ATM dipegang sama agen, semua PM itu, termasuk PIN, saya sudah curiga. Beda jumlah cairnya, tidak sama dengan pertama,” ujar Junaedi kepada bingkaiwarta.co.id , Selasa (14/06/2022), dirumahnya.
Ia mengatakan, sekitar 22 Februari 2022 dirinya mendapat celah, agen memberikan kartu ATM kepada dirinya, kemudian 1 hari setelahnya kartu ATM kembali diminta agen. Tapi sebelum diberikan Ia menyempatkan diri menggesek untuk mengecek dulu, ternyata ada saldo Rp1.725.000. Jumlah itu, sama dengan yang pertama kali cair.

Namun, Ia tidak mengambil uang tersebut. Ia menyerahkan kembali kartu ATM miliknya ke agen karena diminta. Ternyata agen tetap memberikan uang pencairan dan struk sejumlah Rp 1.350.000,-.
Karena penasaran, Ia pun mencoba menanyakan kepada keponakan yang kebetulan bekerja di BNI, apakah kartu ATM PKH bisa di print out atau tidak, ternyata jawabnya bisa. Saat keluar print out 2021, ternyata angkanya dari pertama betul Rp 1.725.000,-. Sedangkan 2019 tidak bisa diprint out karena sudah kelamaan.
“Ternyata aslinya Rp 1.725.000,- ,tapi diberikan agen ke saya hanya Rp 1.350.000,- .Bukti print out ada semua di saya,” kata ayah beranak 4 itu, sambil menunjukann print out kartu ATM BNI.
Atas dasar itulah, akhirnya Ia unjuk rasa ke desa untuk meminta penjelasan. Setelah didesak, pendamping akhirnya menerima kesalahan. Ia berkilah melakukan kesalahan itu, karena kena tekanan dari sana-sini. Saat ditanya, apakah sudah minta pergantian uang, Endi mengaku sudah mempertanyakan itu, tapi pendamping jawabnya punya atasan. Atasannya juga punya atasan. Jadi tidak bisa mengembalikan kekurangan dana PKH miliknya.
“Bagi saya, yang penting sudah terus terang lah,” imbuhnya.
Menurut Endi, banyak KPM lain juga bernasib sama seperti dirinya, tapi persoalannya mereka tidak berani protes. Ia hanya ingin dari sekarang kedepan, kartu ATM jangan dipegang sama agen. KPM harus datang ke agen, gesek sendiri.
“Jangan sampai kartu ATM dipegang agen. Enak saja,” tandasnya. (Abel)













