banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Terobosan Pertanian Kuningan: Petani Binaan Diskatan Panen 12 Ton Padi Per Hektare dengan Metode Organik!

Bingkaiwarta, PASAWAHAN – Inovasi pertanian kembali mengharumkan nama Kabupaten Kuningan! Para petani binaan Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kuningan berhasil mencatatkan rekor panen padi hingga 12 ton per hektare melalui metode Sekolah Lapang Tematik (SL Tematik) dengan pemanfaatan pupuk organik cair (POC). Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa pertanian modern yang ramah lingkungan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.

Kepala Diskatan Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., turun langsung ke lapangan untuk melakukan monitoring sekaligus memberikan arahan teknis kepada petani di lahan demplot Kelompok Tani Simanjangan II, Desa Cidahu, Kecamatan Pasawahan, Senin (17/11/2025).

banner 728x250

Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Plt. Kepala Bidang Penyuluhan Sopyan Pamungkas, UPTD KPP Cilimus, Kepala Desa Cidahu Abdul Munir, serta peserta FFD Sekolah Lapang Tematik.

Dalam arahannya, Dr. Wahyu mengapresiasi capaian luar biasa dari Salakadomas yang berhasil ditunjukkan pada demplot padi varietas unggul yang dipadukan dengan penggunaan Pupuk Organik Cair (POC). Melalui eksperimen budidaya ini, produktivitas mencapai 12 ton per hektare, dari awalnya 5,9 ton per hektare, meski pupuk kimia dikurangi hingga 50 persen—suatu capaian signifikan dibanding metode konvensional.

“Target awal kami memang ingin membuktikan bahwa kombinasi varietas unggul dan POC dapat mencapai 14 ton per hektare. Meski saat ini capaian berada di angka 12 ton, hasil tersebut tetap menjadi prestasi besar bagi tingkat petani. Ini bukan sekadar angka, tetapi bukti bahwa keberanian berinovasi dan konsistensi dalam menerapkan teknologi mampu menghasilkan lompatan besar dalam pertanian,” ungkap Wahyu.

Wahyu menegaskan, bahwa pertanian modern harus mulai meninggalkan ketergantungan penuh pada pupuk kimia dan beralih pada sistem budidaya yang lebih ramah lingkungan.

“Kalau tanah terus dibebani pupuk kimia, ia akan kelelahan, sakit, dan keracunan. Dengan pemupukan organik, kita mengembalikan kehidupan tanah. Hari ini kita membuktikan bahwa pengurangan pupuk kimia hingga 50 persen tetap menghasilkan panen tinggi. Ke depan, kita ingin melangkah lebih jauh sampai petani berani menerapkan organik 100 persen secara bertahap,” tegasnya.

Selain di Salakadomas, keberhasilan demplot Sekolah Lapang Tematik juga terlihat di berbagai desa lain di Kabupaten Kuningan, dengan peningkatan produktivitas yang signifikan. Di Desa Randobawailir, varietas Inpago menghasilkan panen 9,55 ton dari sebelumnya hanya 4,34 ton.

Bahkan di wilayah yang awalnya memiliki produktivitas rendah, pendekatan teknologi melalui SL Tematik menunjukkan lonjakan yang sangat signifikan. Angka-angka ini menjadi bukti nyata bahwa pemanfaatan varietas unggul, POC, dan pendekatan budidaya modern mampu menjadi game changer bagi pertanian di tingkat desa.

“Data ini menunjukkan satu hal, yaitu teknologi bukan ancaman tetapi peluang. Setiap desa memiliki cerita keberhasilan. Bahkan di lokasi yang semula rendah produktivitasnya, kita mampu naik dua hingga tiga kali lipat. Ini bukan teori, tetapi bukti nyata bahwa inovasi dan keberanian mencoba mampu mengubah cara bertani dan hasil panen petani,” terangnya.

Ia menambahkan bahwa indikator keberhasilan petani di era modern tidak lagi ditentukan oleh luas lahan, melainkan oleh kemampuan mengelola lahan secara cerdas.

“Dulu petani disebut berhasil kalau punya sawah luas. Sekarang, petani sukses adalah mereka yang mau belajar, terbuka terhadap inovasi, dan menjadikan teknologi sebagai alat kemajuan. Pertanian kini bukan hanya tradisi, tetapi profesi teknis berbasis ilmu pengetahuan,” ujarnya.

Menutup arahannya, Wahyu menekankan bahwa capaian demplot ini harus menjadi pemicu perubahan bagi desa-desa lainnya.

“Yang kita panen hari ini bukan hanya gabah, tetapi juga ilmu, mentalitas baru, dan inspirasi. Keberhasilan 12 ton ini menjadi testimoni kuat untuk mendorong rasa ingin tahu petani lain. Dan dari situlah perubahan dimulai,” tutupnya.

Sementara itu, perwakilan petani Salakadomas, Rizal, mengungkapkan rasa syukurnya atas pendampingan intensif dari tim Diskatan.

“Awalnya kami ragu mencoba metode ini. Tapi setelah melihat hasilnya, kami yakin teknologi organik memang bisa meningkatkan hasil panen. Ini bukan cerita orang lain, tapi kami sendiri yang merasakannya,” katanya.

Senada, Kepala Desa Cidahu Abdul Munir menyampaikan apresiasi dan optimisme terhadap dampak Sekolah Lapang Tematik bagi warganya.

“Di sini bukan hanya teori, tetapi praktik nyata. Ilmu dan pendampingan seperti ini akan memberi dampak langsung pada kesejahteraan petani Cidahu,” ujarnya.

Program Farm Field Day dan Sekolah Lapang Tematik merupakan bagian dari strategi Diskatan Kuningan dalam mempercepat adopsi teknologi pertanian berkelanjutan, meningkatkan efisiensi usaha tani, serta mencetak petani hebat yang siap bersaing di era modern. Dengan capaian produktivitas yang menembus 12 ton per hektare, Kabupaten Kuningan kembali membuktikan bahwa inovasi bukan hanya slogan, tetapi telah menjadi realitas yang mengubah masa depan pertanian di lapangan. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan