banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Tak Hanya Kimia, Pengendalian Hama Padi Andalkan Musuh Alami dan Mekanis

Kolaborasi Babinsa dan Pihak Terkait Bantu Serap Hasil Panen Petani Desa Mekarjaya

Bingkaiwarta, MALEBER — Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat langkah strategis pengamanan produksi padi pada Musim Tanam (MT) tahun 2026. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian, upaya ini difokuskan pada penerapan pengendalian hama berbasis keseimbangan ekosistem. Salah satu langkah nyatanya adalah pelaksanaan Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama penggerek batang padi, sebagai tindakan antisipatif menekan risiko penurunan hasil panen sejak tanaman masih dalam fase pertumbuhan awal.

 

banner 728x250

Kegiatan pengendalian dilaksanakan di lahan persawahan binaan Kelompok Tani Kalimati, Desa Cipakem, Kecamatan Maleber, Rabu (06/05/2026), dengan cakupan wilayah seluas 20 hektare. Tanaman yang menjadi sasaran pengendalian merupakan varietas unggul seperti Inpari, Ciherang, serta varietas lokal lainnya, yang saat ini berusia antara 21 hingga 35 hari setelah tanam.

 

Berdasarkan hasil pemantauan dan pengamatan teknis di lapangan, intensitas serangan hama penggerek batang tercatat mencapai angka 10 hingga 18 persen. Angka ini dinilai sudah melewati ambang batas pengendalian, sehingga penanganan cepat, tepat, dan terukur mutlak diperlukan agar serangan tidak meluas dan merugikan.

 

Kegiatan ini dihadiri langsung oleh Camat Maleber, H. Diding Wahyudin, Kepala Desa Cipakem, Uci Sanusi, serta jajaran teknis pertanian, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), penyuluh, dan para petani setempat.

 

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, turun langsung memimpin kegiatan didampingi Kepala Brigade Proteksi Tanaman Pangan, Yudi Prayudi. Dalam arahannya, Wahyu menegaskan bahwa pola pengendalian hama saat ini tidak lagi parsial, melainkan harus menyeluruh dan berbasis sistem ekologi.

 

“Pengendalian hama penggerek batang pada fase vegetatif awal harus dilakukan secara terpadu. Kami mengarahkan petani untuk menjadikan pengamatan rutin, menjaga keseimbangan alam, serta memanfaatkan keberadaan musuh alami sebagai benteng pertahanan utama. Penanganan dengan bahan kimia hanya menjadi langkah tambahan jika memang diperlukan,” tegas Wahyu.

 

Lebih lanjut ia menjelaskan, apabila penggunaan insektisida dianggap perlu, penerapannya harus selektif dan mengacu pada prinsip “Enam Tepat”, yaitu tepat jenis, tepat dosis, tepat waktu, tepat sasaran, tepat cara aplikasi, dan tepat mutu obat. Hal ini bertujuan agar pengendalian efektif, mencegah munculnya resistensi atau kebal pada hama, serta tetap menjaga kelestarian lingkungan pertanian.

Selain pendekatan kimia, strategi yang diterapkan juga mencakup cara mekanis dan kultur teknis, antara lain pengaturan sistem pengairan secara berselang-seling, pembersihan sanitasi lahan, hingga pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sudah terlanjur terserang parah. Langkah ini bertujuan memutus rantai siklus hidup hama agar tidak berkembang biak lebih lanjut.

 

Dari hasil inventarisasi lapangan, diketahui populasi musuh alami hama masih cukup potensial dan berperan besar menekan serangan, antara lain laba-laba Lycosa sp. sebanyak 0,36 ekor per rumpun, dan kumbang Paederus sp. sebanyak 0,13 ekor per rumpun. Keberadaan hewan ini menjadi indikator bahwa ekosistem pertanian masih cukup sehat dan berimbang.

 

Wahyu juga mengingatkan, keberhasilan Gerdal tidak berhenti pada saat kegiatan selesai, melainkan harus diikuti pemantauan berkelanjutan. “Pengamatan pasca-pengendalian adalah kunci utama. Ini bagian dari sistem peringatan dini, agar jika ada perubahan atau gejala serangan kembali, bisa segera ditangani sejak awal,” ujarnya.

 

Ia juga menekankan bahwa keterlibatan aktif petani merupakan faktor penentu keberhasilan di lapangan. “Pengendalian hama itu kerja sama semua pihak. Ketika petani, penyuluh, dan pemerintah bergerak serentak satu arah, maka potensi kehilangan hasil bisa ditekan secara signifikan,” tambahnya.

 

Melalui penerapan pola pengendalian berbasis ekosistem yang semakin matang ini, Pemerintah Kabupaten Kuningan berkeyakinan produktivitas padi dapat tetap terjaga optimal. Langkah ini sekaligus menjadi upaya nyata memperkuat ketahanan pangan daerah, di tengah tantangan perubahan iklim dan dinamika serangan hama yang terus berkembang. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan