Bingkaiwarta, JAKARTA – Kondisi langit Jakarta pada Sabtu (09/05/2026) kemarin yang tampak diselimuti asap pekat berwarna kuning kecoklatan menjadi perbincangan hangat. Bahkan, situs pemantau IQAir menempatkan kualitas udara Jakarta di posisi terburuk pada pagi tersebut.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan akumulasi dari faktor meteorologi dan aktivitas manusia yang terjebak di lapisan atmosfer bawah.
Fenomena Inversi: Polutan Terjebak “Tutup Panci”
Menurut Ardhasena, salah satu penyebab utama pekatnya asap pada Sabtu pagi adalah adanya lapisan inversi yang sangat rendah, yakni di ketinggian sekitar ±178 meter.
“Lapisan inversi ini berperan sebagai ‘penutup’ vertikal yang menghambat pergerakan udara ke atas. Karena angin permukaan juga terpantau lemah (5–10 knot), polutan tidak bisa tersebar secara horizontal maupun vertikal. Akibatnya, polusi terakumulasi tepat di atas permukaan tempat kita beraktivitas,” ujar Ardhasena dalam penjelasannya, Minggu (10/05/2026).
Hadirnya “Smog” dan Berhentinya Pembersihan Alami
Selain faktor fisik, Ardhasena menyebutkan terjadinya pembentukan smog (asap dan kabut). Hal ini dipicu oleh reaksi kimia antara senyawa VOC (Volatile Organic Compounds) dan Nitrogen Dioksida (NO2) dengan sinar matahari yang membentuk ozon permukaan. Proses inilah yang memberikan warna kuning kecoklatan pada langit.
Kondisi ini diperparah dengan absennya hujan di Jakarta sejak 6 Mei lalu.
“Hujan memiliki peran penting melalui proses wet scavenging, yaitu pembersihan alami atmosfer. Tanpa hujan selama beberapa hari berturut-turut, tidak ada mekanisme yang menyapu polutan turun, sehingga partikel PM2.5 terus menumpuk,” tambahnya.
WFH dan Weekend Tidak Cukup Signifikan?
Meski hari Sabtu merupakan waktu libur dan sebelumnya telah diterapkan kebijakan Work From Home (WFH), kualitas udara tidak langsung membaik. Ardhasena menjelaskan bahwa penurunan jumlah kendaraan tidak serta-merta menurunkan polusi jika kondisi atmosfer sedang stagnan.
“Data Satelit Sentinel 5P tetap menunjukkan konsentrasi NO2 yang tinggi di wilayah perkotaan. Jika atmosfer tidak mendukung dispersi—seperti angin lemah dan tidak ada hujan—maka meskipun emisi dikurangi, polutan tetap bertahan di udara dalam waktu lama,” jelasnya.
Data Teknis: Jakarta Masuk Kategori Tidak Sehat
Berdasarkan data pemantauan BMKG pada Sabtu (9/5) kemarin, konsentrasi $PM_{2.5}$ melonjak tajam mulai pukul 00.00 WIB dan mencapai puncaknya pada pukul 07.00 WIB dengan angka 107µg/m³. Angka ini masuk dalam kategori Tidak Sehat.
Imbauan Menuju Musim Kemarau
Mengingat Jakarta mulai memasuki musim kemarau, BMKG memprediksi konsentrasi debu polutan (PM2.5) akan cenderung lebih tinggi di bulan-bulan mendatang. Ardhasena pun memberikan rekomendasi jangka pendek bagi masyarakat Jakarta:
-
Wajib menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan jika udara memburuk.
-
Mengoptimalkan penggunaan transportasi massal dan melakukan uji emisi kendaraan.
-
Menghindari pembakaran sampah dan melakukan penyiraman pada lahan terbuka untuk menekan debu.
-
Menerapkan konsep 9R (Reduce, Reuse, Recycle, hingga Refurbish) untuk mengurangi emisi dari limbah.
“Prediksi kami untuk hari ini dan besok, kondisi (PM2.5) masih berpotensi tinggi di wilayah kota besar Pulau Jawa, termasuk Jakarta. Masyarakat diharapkan tetap waspada terhadap penurunan kualitas udara ini,” pungkasnya. (Abel)













