Bingkaiwarta, INDRAMAYU – Upaya modernisasi sektor pertanian terus dilakukan pemerintah melalui penerapan Sistem Pertanian Modern Agriculture Advance System (PM-AAS) yang diadaptasi dari sistem pertanian modern di Arkansas, Amerika Serikat.
Program tersebut diterapkan dalam kegiatan penanaman padi bersama Sekretaris Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Husnain dan Bupati Lucky Hakim di Desa Plosokerep, Kecamatan Terisi, Kabupaten Indramayu.
Program PM-AAS tersebut diterapkan di lahan seluas 100 hektare di Kabupaten Indramayu sebagai bagian dari pengembangan pertanian modern nasional. Selain penanaman menggunakan alat modern, proses perawatan tanaman juga dilakukan dengan teknologi penyemprotan menggunakan drone.
Sekretaris BRMP, Husnain menjelaskan, sistem PM-AAS menerapkan pola tanam berbeda dibanding metode konvensional. Salah satu perbedaannya terletak pada populasi tanaman yang lebih rapat sehingga diharapkan mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan.
“Ini tanam padi dengan Sistem PM-AAS, menerapkan teknologi berbeda. Populasinya tinggi, jarak antarbaris itu hampir tidak ada, pupuknya juga berbeda. Lainnya juga kita jaga seperti OPT. Target dari tanaman padi ini 10 ton per hektare. Ada 15 titik di 14 provinsi dengan total keseluruhan 2.000 hektare,” ujar Husnain.
Menurutnya, modernisasi pertanian yang diterapkan merupakan hasil kajian dan inovasi yang kini mulai dipraktikkan di berbagai daerah di Indonesia.
“Modernisasi yang dilakukan itu hasil pemikiran dan hasil kajian. Dengan alat yang disiapkan, tanaman bisa lebih rapat dan produktivitas meningkat hampir 100 persen. Dari sebelumnya sekitar 6 ton bisa menuju 10 ton per hektare,” katanya.
Husnain juga menyebut penggunaan benih memang lebih banyak dibanding sistem tanam biasa. Namun peningkatan kebutuhan benih dinilai sebanding dengan hasil panen yang diperoleh petani nantinya.
Sementara itu, Bupati Indramayu, Lucky Hakim menegaskan modernisasi pertanian harus dilakukan di seluruh lini, mulai dari proses penanaman hingga perawatan tanaman.
“Harga benih memang lebih banyak, tapi murah dibanding hasil yang nanti didapatkan. Modernisasi dilakukan di semua lini, mulai dari penanaman, pembibitan, sampai perawatan. Ada drone-drone yang digunakan untuk penyemprotan pestisida dan lainnya,” ujar Lucky Hakim.
Ia menambahkan, langkah modernisasi dilakukan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di tengah keterbatasan lahan sawah yang terus terancam berkurang akibat pembangunan.
“Tujuannya untuk intensifikasi peningkatan tonase, karena hamparan sawah tidak bisa kita tambah, justru yang ada berkurang. Indramayu sudah punya LP2B sekitar 86 ribu hektare yang tidak bisa diutak-atik,” tegasnya.
Lucky Hakim juga menekankan pentingnya penataan kawasan agar lahan pertanian tetap terjaga dan tidak bercampur dengan kawasan industri.
“Saya tidak mau ada sawah berdampingan dengan pabrik. Sawah ya sawah total. Kawasan industri ada zonanya sendiri supaya tidak mengganggu pertanian,” katanya.
Menurutnya, modernisasi pertanian juga akan menciptakan keseimbangan ekonomi masyarakat. Sebagian tenaga kerja tetap bertahan di sektor pertanian modern, sementara lainnya dapat terserap ke kawasan industri dan ekonomi yang tengah dikembangkan di Indramayu.
Dengan penerapan PM-AAS dan dukungan teknologi modern seperti drone pertanian, Pemerintah berharap produktivitas padi nasional terus meningkat sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia. (ARL)













