banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Rombongan Pasis Seskoad Jelajah Objek Wisata Kuningan

Bingkaiwarta, CILIMUS – 14 Pasis Seskoad dan 2 pendamping mengunjungi beberapa objek wisata di Kabupaten Kuningan, diantaranya Gedung Naskah Linggarjati dan Objek Wisata Cibulan, Kamis (21/07/2022).

Tiba di Gedung Naskah Linggarjati, rombongan perwira siswa ini mendapat selayang pandang tentang sejarah Gedung Naskah Linggarjati dari Agus, petugas setempat.

banner 728x250

Dijelaskan, Tahun 1918 tempat ini berdiri di Gubuk milik Ibu Jatisem. Tahun 1921 oleh seorang bangsa Belanda bernama Tersana (Mergen) dirombak menjadi semi permanen. Lalu pada tahun 1930 tempat ini dibangun menjadi permanen dan menjadi rumah tinggal Jacobus (Koos) Van Os (Bangsa Belanda).

Tahun 1935, dikontrak oleh Heiker (Bangsa Belanda) dan dijadikan Hotel bernama Rustoord. Tahun 1942 Jepang menjajah Indonesia dan hotel ini diganti namanya menjadi Hotel Hokay Ryokan. Kemudian tahun 1945 setelah Proklamasi Kemerdekaan RI hotel ini diberi nama Hotel Merdeka.

“Di tahun 1946 digedung ini berlangsung peristiwa sejarah yaitu Perundingan antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Belanda yang menghasilkan Naskah Persetujuan Linggarjati, sehingga akhirnya Gedung ini sering disebut Gedung Naskah Linggarjati,” jelas Agus.

Tampak rombongan Pasis Seskoad begitu antusias mendengarkan penjelasan dari petugas Gedung tentang semua sarana yang ada di dalam gedung, dimana dari setiap sudutnya masih tampak keasliannya.

Usai menikmati indahnya panorama di area Gedung Naskah Linggarjati, rombongan Pasis ini melanjutkan perjalanannya ke Objek Wisata Cibulan di Desa Manis Kidul, Kecamatan Jalaksana.

Di Objek Wisata Cibulan, rombongan disuguhkan dengan suasana alam yang begitu asri. Di tempat ini, selain ada “Ikan Dewa” juga ada petilasan Prabu Siliwangi.

Menurut kisah atau legenda yang berkembang di masyarakat Desa Manis Kidul serta masyarakat Kuningan, Ikan Dewa yang ada di Kolam Cibulan ini konon dulunya adalah prajurit prajurit yang membangkang atau tidak setia pada masa pemerintahan Prabu Siliwangi.

Ikan yang dikenal jenis kancra bodas (putih) yang memiliki warna hitam ini memiliki beberapa keunikan, salah satunya adalah populasi di dalam kolam tersebut. Dan, populasi ikan dewa ini tidak pernah kurang dan memenuhi kolam.

“Ikan ini selalu berkembang biak. Cuma anehnya dari dulu kolam ini tidak pernah penuh dan kurang. Secara logika, harusnya bertambah karena berkembang biak. Padahal di konsumsi juga enggak dan yang mati juga tidak setiap Minggu,” terang Maman salah satu petugas objek wisata setempat.

Keunikan lainnya dari Ikan Dewa ini, kalau mati jasadnya tidak terapung ke atas kolam, akan tetapi tetap berada didasar kolam. Semisal mati, ikan tersebut sama seperti ikan pada umumnya, akan mengeluarkan bau amis.

“Kalau misal ada ikan yang mati, akan tercium bau amis. Mati juga tidak ngambang, tapi kalau mati pasti ketemu. Proses penguburannnya pun layaknya seperti manusia. Ikan ini akan dibungkus dengan kain kafan. Tapi berbeda dengan manusia, jika dikuburkan ikan Dewa itu tidak di sekar ataupun diberi doa,” jelasnya.

Mayor Ckm (K) Nanik Prasetyoningsih, SpPK, M.H, MARS salah satu peserta Pasis Seskoad sangat mengapresiasi indahnya alam Kuningan. “Excellent sekali. Di Kuningan ini ternyata banyak juga objek wisatanya. Udaranya sejuk sekali. Pokoknya, saya suka,” ungkap Nanik sambil menikmati terapi ikan di Kolam Cibulan. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan