Bingkaiwarta, GARAWANGI – Dalam rangka mempertahankan seni kebudayaan Wayang Golek, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan Binojakrama Padalangan, di Halaman Balai Desa Garawangi Kecamatan Garawangi, Senin (24/6/2024).
Kegiatan yang diikuti oleh 12 dalang lokal ini dibuka secara resmi oleh Penjabat Bupati Kuningan, Dr Drs H Raden Iip Hidajat. Dalam satu hari penuh, mereka akan bertanding untuk memperebutkan tiga kategori, yaitu cilik, madya dan dewasa. Pemenang akan berkesempatan mewakili Kabupaten Kuningan di perlombaan Binojakrama Padalangan tingkat Provinsi Jawa Barat.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan U Kusmana, S.Sos, M.Si mengatakan, kegiatan Binojakrama Padalangan adalah sebuah kompetensi yang menguji kompetensi seorang dalang dan kekompakan pengiringnya (nayaga).
“Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka mempertahankan seni kebudayaan yang telah ada sejak zaman dahulu dan pernah menjadi kebanggaan masyarakat saat menggelar hajatan atau selamatan,” ujar U Kusmana.
Selain itu, sambung Uu, Binojakrama Padalangan adalah sebuah event yang penyelenggaraannya digelar secara berjenjang hingga tingkat provinsi bahkan sampai pusat. Hal ini dilaksanakan sesuai dengan program kebudayaan nasional yang telah tertuang dalam Undang Undang No 5 Tahun 2017.
“Mudah mudahan dengan penyelenggaraan kegiatan Binojakrama Padalangan tingkat Kabupaten ini, sedikitnya kita dapat mempertahankan budaya Wayang Golek yang ada di Kuningan sekaligus keberadaan para dalang dan nayaganya yang secara generasi ke generasi semakin berkurang,” ungkapnya.
Disamping itu, kata Uu, melalui kegiatan Binojakrama ini, kita dapat menyeleksi dalang yang nantinya akan bertanding atau mengikuti Binojakrama lanjutan di tingkat Provinsi Jawa Barat.
Ditempat yang sama, Iip Hidajat menuturkan, bahwa pelestarian kebudayaan melalui binojakrama ini sangat perlu, selaras dengan peribahasa Hana Nguni Hana Mangke Tan Hana Nguni Tan Hana Mangke.
“Kalimat ini merupakan Bahasa Sunda Kuno yang berarti ada dahulu ada sekarang, tak ada dahulu tak ada pula sekarang. Wayang golek merupakan warisan leluhur yang harus kita pertahankan sampai kapanpun hingga anak cucu kita merasakan keberadaanya,” tutur Iip.
Dikatakan Iip, bahwa dahulu wayang dijadikan alat untuk menyebarkan informasi, termasuk dalam penyebaran agama islam.
“Kedepan kita juga berharap wayang juga dapat dijadikan alat informasi kepada masyarakat luas kaitan dengan kebijakan Pemerintah Daerah,” katanya. (Abel)













