Bingkaiwarta, KUNINGAN – Dalam rangka peningkatan kapasitas dan penguatan kelembagaan petani perkebunan serta peningkatan kompetensi penyuluh, Dinas Perkebunan Provisi Jawa Barat melaksanakan Sosialiasi Kegiatan Penumbuhan dan Penguatan Kelembagaan Petani Perkebunan Tahun 2024, di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, kemarin.
Acara dibuka oleh Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa Barat yang diwakili oleh Rahmat Hidayat selaku Analis Kerja Sama dan Permodalan, bidang SDP Disbun Jabar.
Rahmat mengatakan, tujuan dari kegiatan tersebut untuk meningkatkan kapasitas penyuluh yang membina kelompok tani perkebunan di wilayah Kabupaten Kuningan.

“Kabupaten Kuningan ini memiliki potensi sangat besar untuk komoditas perkebunan. Maka dari itu, kami berharap kedepannya dapat terjalin sinergitas dalam proses pembinaan kelembagaan petani antara penyuluh, kelompok tani dan Dinas baik tingkat kabupaten ataupun provinsi,” ujar Rahmat.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, dalam paparannya menuturkan, berdasarkan data atap (angka tetap Diskatan) tahun 2024, luas areal tanaman perkebunan Kabupaten Kuningan untuk komoditas cengkeh 1.773 Ha, kopi robusta 1.485,25 Ha, kopi Arabika 87,07 Ha, Pala 793,94 Ha, tembakau 95 Ha, kelapa 2.610,08 Ha, kapok 83,04 Ha, lada 113,98 Ha, aren 377,42 Ha dan kemiri 145,29 Ha.
Untuk jumlah produksi tanaman perkebunan Kabupaten Kuningan cengkeh 234,84 Ton dengan jumlah petani 4.467 KK, kopi robusta 472,06 Ton jumlah petani 4.538 KK, kopi arabika 23,20 Ton dengan jumlah petani 380 KK, pala 32,81 Ton dengan jumlah petani 1.172 KK, tembakau 62,37 Ton dengan jumlah petani 295 KK, kelapa 3.174 Ton dengan jumlah petani 14.995 KK, kapok 6, 04 Ton dengan jumlah petani 2.212 KK, lada 27,20 Ton dengan jumlah petani 376 KK, Aren 2.052,07 Ton dengan jumlah petani 960 KK, dan kemiri 36 Ton dengan jumlah petani 710 KK.
“Sementara itu, untuk kelembagaan petani perkebunan terdata sebanyak 141 kelompok tani. Dengan kelas pemula sebanyak 89 kelompok, kelas lanjut 40 kelompok dan kelas lanjut 12 kelompok,” sebutnya.
Dijelaskan Wahyu, kelompok tani tersebut diberikan pendampingan oleh para penyuluh pertanian dalam pengawalan program ketahanan pangan. Pentingnya peran penyuluh pertanian dalam sub sektor perkebunan dalam pemberian konsultasi, edukasi, diseminasi informasi/inovasi, supervisi, fasilitasi dan manajerial.
Wahyu juga menekankan perlunya meningkatkan pemahaman petani tentang pentingnya kelembagaan dalam mengatasi berbagai tantangan yang dihadapi dalam usaha pertanian, termasuk akses pasar, pembiayaan, dan teknologi.
“Dengan memperkuat kelembagaan petani, diharapkan mereka dapat lebih mandiri dan memiliki daya saing yang lebih baik di pasar global,” tandas Wahyu. (Abel)













