banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Puncak Hari Santri 2026, Dirjen Pesantren: Munajat Santri Wujud Bakti dan Kepedulian untuk Negeri

 

Bingkaiwarta, JAKARTA — Direktur Jenderal Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menegaskan bahwa pengabdian santri kepada bangsa tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan dan dakwah, tetapi juga melalui kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan, lingkungan, dan kehidupan masyarakat.

banner 728x250

Hal tersebut disampaikan dalam momentum Munajat Santri untuk Negeri yang berlangsung di Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat (30/10/2026) malam, sebagai puncak rangkaian peringatan Hari Santri 2026.

Kegiatan yang mempertemukan ribuan santri, kiai, pengasuh pesantren, dan tokoh agama tersebut menjadi ruang memperkuat ikhtiar spiritual sekaligus solidaritas sosial terhadap berbagai persoalan yang dihadapi bangsa.

Basnang menjelaskan bahwa munajat merupakan salah satu manifestasi nilai pendidikan pesantren yang menempatkan hubungan spiritual dengan Allah Swt. dan tanggung jawab kemanusiaan sebagai dua hal yang saling berkaitan.

“Munajat Santri untuk Negeri adalah doa santri untuk kebaikan negeri ini, sekaligus juga merupakan perwujudan bakti santri untuk negeri. Santri ingin menghadirkan doa-doa terbaik agar Indonesia senantiasa diberi keselamatan, kedamaian, dan keberkahan,” ujar Basnang.

Menurutnya, keterlibatan santri dalam kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa pesantren memiliki ikatan yang kuat dengan kehidupan bangsa. Santri tidak hanya dididik untuk memahami ilmu agama, tetapi juga dibekali nilai kepedulian, solidaritas, dan tanggung jawab terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut menjadi bagian penting dari pendidikan pesantren yang selama ini mengajarkan keseimbangan antara penguatan spiritual, pembentukan akhlak, dan pengabdian sosial.

*Santri Bermunajat untuk Masyarakat Terdampak Karhutla*

Basnang secara khusus menyampaikan bahwa Munajat Santri untuk Negeri juga menjadi bentuk empati terhadap masyarakat yang terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.

Bencana tersebut menjadi perhatian bersama karena tidak hanya berdampak terhadap lingkungan, tetapi juga kehidupan sosial, kesehatan, serta aktivitas masyarakat di wilayah terdampak.

“Munajat ini juga menjadi bentuk empati santri atas karhutla yang terjadi di berbagai tempat di Kalimantan dan Sumatra. Kami mendoakan agar musibah ini segera teratasi dan saudara-saudara kita yang terdampak diberi kekuatan, kesehatan, dan kemudahan,” katanya.

Menurut Basnang, kepedulian terhadap masyarakat yang menghadapi musibah merupakan bagian dari nilai kemanusiaan yang harus terus ditanamkan dalam kehidupan pesantren.

Tradisi doa bersama yang hidup di lingkungan pesantren tidak hanya mencerminkan kedekatan spiritual, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya saling membantu dan menjaga kehidupan bersama.

Kepedulian tersebut perlu berjalan beriringan dengan langkah nyata dalam membangun kesadaran lingkungan, memperkuat solidaritas, dan membantu masyarakat yang membutuhkan.

Dalam konteks ini, pendidikan pesantren memiliki ruang yang luas untuk menanamkan tanggung jawab ekologis, kesadaran sosial, serta kebiasaan menjaga lingkungan sebagai bagian dari pengamalan nilai-nilai agama.

*Perkuat Pesantren yang Peduli dan Berdaya Saing*

Basnang menambahkan bahwa semangat pengabdian santri perlu terus dikembangkan sejalan dengan transformasi pendidikan pesantren.

Pesantren diharapkan tidak hanya melahirkan lulusan yang memiliki kedalaman ilmu agama dan kematangan akhlak, tetapi juga generasi yang mampu memahami persoalan masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap penyelesaiannya.

Penguasaan ilmu pengetahuan, kemampuan memanfaatkan teknologi, kemandirian ekonomi, serta kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari kompetensi yang semakin relevan bagi generasi santri.

Karena itu, Direktorat Jenderal Pesantren terus menempatkan peningkatan kualitas pendidikan, penguatan tradisi keilmuan Islam, pengakuan terhadap lulusan, pengembangan kemandirian pesantren, serta perlindungan santri sebagai bagian dari agenda penguatan ekosistem pesantren.

Penguatan tersebut juga sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren yang menempatkan pesantren dalam tiga fungsi utama, yakni pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Melalui fungsi pemberdayaan, pesantren memiliki kesempatan semakin luas untuk mengembangkan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat, termasuk penguatan ekonomi lokal, peningkatan keterampilan, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Basnang berharap peringatan Hari Santri 2026 dapat mempererat kolaborasi antara pemerintah, ulama, pengasuh pesantren, dan masyarakat dalam mengembangkan pendidikan pesantren yang berkualitas dan responsif terhadap kebutuhan bangsa.

Momentum tersebut juga menjadi pengingat bahwa pengabdian santri tidak dibatasi oleh ruang kelas, halaqah, ataupun lingkungan pondok pesantren. Nilai-nilai yang dipelajari santri perlu menghadirkan manfaat dalam kehidupan masyarakat yang lebih luas.

Melalui Munajat Santri untuk Negeri, pesantren kembali menegaskan kontribusinya dalam menjaga persatuan, memperkuat solidaritas kemanusiaan, dan membangun kepedulian sosial.

Puncak Hari Santri 2026 sekaligus memperlihatkan bahwa bakti santri kepada Indonesia terus berlanjut dalam berbagai bentuk pengabdian, mulai dari doa dan pendidikan hingga kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (ARL)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan