banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Kinerja Kejaksaan Agung “Disorot”

  • Bagikan
Akademisi dan Pemerhati Publik Abdusy Syakur Amin mengatakan penilaian lembaga Survei yang menunjukkan kinerja Kejaksaan tidak memuaskan

Bingkaiwarta, JAKARTA – Akademisi dan Pemerhati Publik Abdusy Syakur Amin mengatakan penilaian lembaga Survei yang menunjukkan kinerja Kejaksaan tidak memuaskan berbanding terbalik dengan fakta yang ada. “Saya melihatnya begini. Banyak kasus kasus yang tidak tersentuh oleh APH sebelumnya, ditangan Kejaksaan saat ini berani disentuh. Dan ada tersangkanya,” jelas Syakur saat diminta tanggapan kinerja Kejaksaan selama dua tahun terakhir, lewat saluran telepon, kemarin.

Syakur mengatakan, kondisi ini adalah sebuah potret bahwa kejaksaan saat ini berani. Seperti kasus monumental yang besar yang merugikan negara bisa diungkap. ASABRI, Jiwasraya, sebelumnya tidak, itu kenapa?

banner 336x280

Dia menyebut Kejaksaan adalah lembaga negara yang bekerja dan terikat pada Undang Undang yang seringkali dalam pelaksanaannya silent (sembunyi-bunyi). Setiap langkah hukum dilakukan dengan cukup hati hati agar tidak melanggar hak dan menjunjung keadilan untuk setiap masyarakat.

“Konsekwensinya adalah tidak semua harus di ekspos kepada masyarakat. Hal inilah yang seringkali menjadi perdebatan diantara pihak yang merasa ingin tahu perkembangan sebuah kasus,” ujar Syakur yang juga Rektor Universitas Garut ini.

Dijelaskan Syakur, sebelum ada putusan ingkrah, kasus tidak boleh diekspos. padahal ini ranah Kejagung, sedangkan setelah ingkrah itu wilayah Institusi lain dalam hal ini MA,” jelasnya.

Sehingga dengan kondisi seperti itu cukup sulit bagi Kejagung untuk mengekspose keberhasilan selaku suatu institusi, karena tidak bisa lepas dari kinerja lembaga lain.

“Padahal fakta membuktikan banyak sekalu kasus bahkan beberapa mega kasus yang berhasil ditangani dengan baik,” ungkapnya.

Karena itulah, Syakur menilai pandangan lembaga survey atau kelompok yang menyebutkan bahwa Kinerja Kejaksaan Agung tidak memuaskan lebih kepada perbedaan pandangan kelompok tersebut.

Ia berharap masyarakat cerdas dalam menilai setiap narasi atau berita yang berkembang. “Saya rasa inilah pentingnya kita bersama-sama, masyarakat belajar literasi digital agar kita tidak salah dalam menerima informasi,” pungkasnya. (Abel Kiranti)


banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!