Bingkaiwarta, KUNINGAN — Sebagai upaya nyata memperkuat mitigasi bencana sekaligus memulihkan vegetasi di kawasan rawan longsor, Tim Pelaksana PPK Ormawa bersama Himpunan Mahasiswa Sipil Universitas Kuningan (HMS UNIKU) bergandengan tangan dengan Pemerintah Desa Pajambon serta berbagai mitra eksternal melaksanakan aksi ekologi bertajuk “Penanaman Tanaman Pengikat Tanah”, kemarin.
Fokus utama kegiatan ini adalah penanaman rumput vetiver (Vetiveria zizanioides) dan berbagai jenis tanaman berakar kuat di sepanjang lereng kritis Desa Pajambon, guna memperkokoh struktur tanah dan meminimalkan risiko longsor.
Kegiatan dipimpin langsung oleh Tim Pelaksana PPK Ormawa HMS UNIKU selaku koordinator utama. Para mahasiswa turun langsung ke lokasi untuk memobilisasi peserta, menyiapkan peralatan, serta memastikan seluruh proses penanaman berjalan sesuai kaidah teknis konservasi tanah yang benar.
Kepala Desa Pajambon, Dra. Nani Ariningsih, hadir mendampingi seluruh prosesi, memberikan arahan lokasi strategis, serta melakukan penanaman simbolis. Hal ini sekaligus menandai dimulainya gerakan bersama pemulihan lingkungan dan penguatan sinergi antara kampus dengan pemerintah desa.
Dukungan penuh juga datang dari berbagai pihak. Perhutani dan Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) turut memberikan arahan teknis, melakukan penanaman simbolis, serta menyumbangkan bibit tanaman berupa durian dan alpukat. Sementara itu, Dinas Lingkungan Hidup bersama KUA Kramatmulya menyumbang bibit mangga, kelapa, durian, dan petai untuk memperkokoh zona rawan. Mapala Timbal dan Komunitas Akar pun turut berperan aktif melaksanakan penanaman secara langsung di lapangan.
Meski dihadapkan tantangan topografi lereng yang curam, terjal, serta jalur licin dan berisiko, seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar dan aman. Komunitas Akar mengerahkan peralatan keselamatan seperti tali pengaman dan teknik perintisan akses, sehingga titik-titik yang sulit dijangkau tetap dapat dikerjakan dengan selamat.
Melalui kolaborasi ini, diharapkan pemulihan vegetasi berjalan optimal, struktur tanah menjadi lebih kokoh, dan risiko bencana tanah longsor di Desa Pajambon dapat ditekan seminimal mungkin. (Abel)













