Oleh: Dedi Suhandi, SE (PKB Ahlia Madya
Pengurus DPD IPeKB Jabar)
Sembilan belas tahun.
Angka yang sederhana, tapi menyimpan ribuan cerita.
Cerita tentang hujan yang mengguyur jaket lapangan.
Cerita tentang debu jalan desa yang menempel di sepatu.
Cerita tentang senyum yang lahir setelah sekian lama ragu.
Hari ini, Ikatan Penyuluh Keluarga Berencana Indonesia genap berusia 19 tahun.
Dan di tanah Tatar Sunda, kami merayakannya bukan dengan pesta.
Kami merayakannya dengan mengingat kembali, untuk apa kami melangkah sejauh ini.
*Awal dari Sebuah Panggilan*
Dulu, saat pertama kali IPeKB lahir, kami hanya punya satu keyakinan:
bahwa keluarga adalah tempat pertama manusia belajar tentang dunia.
Jika keluarganya kuat, maka bangsanya akan berdiri tegak.
Di Jawa Barat, keyakinan itu kami bawa kemana-mana.
Ke Bandung yang hiruk pikuk. Ke Cirebon yang religius. Ke Priangan yang sejuk. Sampai ke Pantura yang keras.
Kami belajar bahasa warga. Kami duduk di bale. Kami minum teh panas sambil mendengar keluh kesah.
Tugas kami tidak pernah sekadar menghitung jumlah akseptor.
Tugas kami adalah menemani.
Menemani pasangan muda yang takut salah melangkah.
Menemani ibu yang lelah tapi tetap ingin anaknya sekolah tinggi.
Menemani remaja yang bingung membedakan rasa ingin tahu dan rasa ingin mencoba.
19 tahun kami belajar, bahwa data tanpa empati akan jadi angka mati.
Dan empati tanpa data akan kehilangan arah.
Maka kami berjalan di tengah-tengah keduanya.
*Di Tengah Badai Zaman*
Perjalanan 19 tahun tidak selalu cerah.
Ada masa ketika stigma tentang KB masih kuat. “KB itu untuk membatasi rezeki”.
Ada masa ketika hoaks berlari lebih cepat dari penyuluhan.
Ada masa ketika kami harus menjelaskan berkali-kali, bahwa berencana bukan berarti tidak ikhlas.
Lalu datang tantangan baru. Stunting. Pernikahan dini. Kekerasan dalam rumah tangga. Kesehatan reproduksi remaja.
Dunia berubah. Media sosial mengubah cara orang menerima informasi.
Tapi satu hal yang tidak berubah: manusia tetap butuh didengar manusia lainnya.
Di titik inilah IPeKB diuji.
Apakah kami akan menyerah dan hanya duduk di kantor?
Atau kami akan turun lagi, dengan cara yang baru?
Kami memilih yang kedua.
Kami belajar membuat konten. Kami belajar berkomunikasi dengan bahasa anak muda.
Kami belajar berkolaborasi dengan IMP, dengan bidan, dengan PKK, dengan kepala desa.
Karena kami sadar, Penyuluh tidak bisa berjalan sendiri.
*Kemendukbangga dan Semangat Bangga Kencana*
Hari ini, kami berada di bawah payung baru: *Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN*.
Nama yang panjang, tapi maknanya dalam.
Karena tugas kami memang bukan hanya soal “ber-KB”.
Tugas kami adalah soal pembangunan manusia. Sejak dalam kandungan, sampai ia dewasa dan berkeluarga.
Program *Bangga Kencana* menjadi kompas kami.
Bangga membangun keluarga. Bangga karena setiap anak lahir bukan karena kebetulan, tapi karena rencana dan cinta.
Bangga karena setiap keluarga di Jawa Barat bisa menjadi rumah pertama yang aman, sehat, dan mendidik.
Bayangkan. Jika 1 Penyuluh di Jabar bisa mendampingi 50 keluarga dengan baik.
Jika 5000 Penyuluh di Jabar bergerak bersamaan.
Berapa banyak anak yang tidak stunting? Berapa banyak remaja yang tertunda menikah sampai siap? Berapa banyak keluarga yang ekonominya naik kelas?
Itulah mengapa 19 tahun ini bukan untuk berpuas diri.
Ini adalah titik tolak. Titik untuk lompat lebih tinggi.
*Refleksi dari Lapangan*
Saya masih ingat, Saat awal tugas Ada seorang bapak di desa binaan yang
Awalnya beliau menolak keras, “Ah, penyuluh mah ngomong wae”.
21 tahun kemudian istrinya datang ke balai. Membawa cucunya yang gizi buruk dan hari ini anak itu sudah sekolah, sehat, dan ibunya jadi kader TPK (Tim PendampingKeluarga).
Saya juga ingat seorang bapak di desa wilayah binaan yang lain.
Dulu beliau marah saat kami bahas penundaan usia nikah.
Beberapa tahun kemudian beliau yang menghubungi kami. “Kang, tolong kasih penyuluhan ke anak saya. Saya tidak mau dia nikah muda”.
Kisah-kisah kecil seperti ini yang membuat 19 tahun terasa sebentar.
Karena setiap satu keluarga yang berubah, rasanya seperti memenangkan satu pertempuran.
*Menatap ke Depan*
Di usia 19, IPeKB tidak boleh lagi menjadi organisasi yang hanya seremonial.
Kami harus jadi organisasi profesi yang berdampak.
Yang anggotanya kompeten. Yang suaranya didengar dalam kebijakan.
Yang datanya bisa dipercaya. Yang gerakannya terukur.
Untuk itu, IPeKB Jawa Barat berkomitmen 3 hal:
*Pertama*, menguatkan kompetensi. Kami akan terus belajar. Tentang komunikasi, tentang data, tentang teknologi.
*Kedua*, memperluas kolaborasi. Dengan Kemendukbangga, pemerintah daerah, kampus, swasta, dan media.
*Ketiga*, menjaga marwah. Menjaga agar Penyuluh KB tetap dikenal sebagai sosok yang terpercaya, humanis, dan berintegritas.
Jawa Barat adalah provinsi dengan penduduk terbesar.
Beban kami besar. Tapi kehormatan kami juga besar.
Karena dari sinilah, perubahan bisa dimulai dan disebarluaskan.
Sembilan belas tahun sudah.
Cukup lama untuk membuktikan bahwa pengabdian tidak butuh sorotan.
Cukup lama untuk membuktikan bahwa kerja senyap di lapangan, pada akhirnya akan terdengar gaungnya.
Terima kasih kepada para pendiri IPeKB.
Terima kasih kepada para senior yang mengajari kami cara berjalan.
Terima kasih kepada rekan-rekan Penyuluh KB se-Jawa Barat yang tidak pernah lelah.
Mari kita terus berjalan.
Dengan kepala tegak, dengan hati yang hangat, dengan langkah yang pasti.
Dari Tatar Sunda, untuk Indonesia.
Karena kami percaya.
*Indonesia yang maju, dimulai dari keluarga yang berencana.*
*Indonesia yang berkualitas, dimulai dari Bangga Kencana.*
*Dirgahayu IPeKB Indonesia*













