Oleh: Ika Mustaqiroh, S.Pd.I
(Aktivis Muslimah, Mompreneur)
Diketahui Fajar Nugroho siswa SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten meninggal dunia usai diceburkan ke kolam oleh teman-temannya saat merayakan ulang tahun Senin (08/07/2024) siang.
Menurut Kapolsek Cawas, sebelum kejadian para anggota OSIS mengadakan rapat untuk membahas lomba yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juli besok. Kebetulan pada hari yang sama, korban Fajar Nugroho sebagai ketua OSIS sedang berulang tahun.
Lalu korban diberi tepung dan ramai-ramai diceburkan ke kolam taman sedalam 1,75 meter. Saat itu korban yang diduga tidak bisa berenang memegang pralon di atas kolam yang ada kabel listriknya dan tersetrum lalu meninggal dunia. Teman korban yang sempat menolong pun tersetrum namun tidak meninggal dunia.
Meski pihak keluarga menganggap insiden kejutan ulang tahun yang berujung maut sebagai musibah namun polisi tetap memeriksa beberapa teman korban yang terlibat. Dari enam orang yang diperiksa, empat orang yang merupakan teman dalam kegiatan OSIS sudah dilakukan klarifikasi. (kompas.tv, 11/7/2024)
Merayakan ulang tahun dengan memberikan kejutan telah menjadi tren bagi remaja. Biasanya mereka melemparkan tepung, telur, menceburkan ke kolam atau sungai, atau memberikan prank kepada yang berulang tahun. Tindakan ini kadang diberikan secara berlebihan sehingga menyebabkan trauma, cedera hingga kematian bagi korban.
Selain Ananda Fajar, kejutan maut ulang tahun juga pernah menimpa ananda Farhana siswi SMP dari Batam yang terkena prank lantaran dituduh maling oleh guru dan teman-teman sekelasnya, sehingga menyebabkan kerusakan syaraf otak, koma lalu meninggal. Begitu juga ananda Riyan dari Kulon Progo, Yogyakarta, yang diceburkan teman-temannya ke sungai, Riyan yang tidak bisa berenang akhirnya tenggelam dan meninggal, dan lain sebagainya.
Seringkali perbuatan merayakan ulang tahun yang dilakukan remaja sekedar menunjukan eksistensi diri, bersenang-senang dan jauh dari kata produktif dan manfaat. Perilaku remaja seringkali dilakukan secara spontan, dan abai atas resiko yang mungkin terjadi. Hal ini dikarenakan perbuatan remaja seringkali tanpa disertai pemikiran jernih dan mendalam karena ketidak pahaman mereka atas kaidah berpikir dan beramal. Serta tidak sadar akan adanya pertanggung jawaban atas setiap perbuatan di sisi Allah SWT.
Padahal, jika remaja faham bahwa dirinya adalah hamba Allah dan tujuan hidup mereka adalah untuk beribadah kepada Allah, maka mereka akan memilah mana perbuatan yang baik dan buruk, memikirkan apa saja perbuatan yang akan mendatangkan ridho Allah atau murkaNya. Namun, pemikiran ini jarang ada dalam benak remaja sebab mereka hidup dalam pendidikan dan lingkungan sekulerisme yang menyebabkan cara hidup mereka liberal jauh dari tuntuntan syariat Islam.
Hal ini dipengaruhi oleh pendidikan, masyarakat dan negara sekuler. Dalam pendidikan, para remaja hanya mendapatkan jam pelajaran agama 2 jam seminggu dan muatan agama tidak bersinergi dengan mata pelajaran yang lainnya. Meskipun kini telah berjamur pendidikan Islam terpadu, tapi hanya sebagian kecil masyarakat yang mampu mengaksesnya lantaran biayanya sangat mahal.
Selain itu, lingkungan masyarakat saat ini juga bebas, sekuler, serba permisif dan indivisualistik. Aktifitas amar makruf nahi munkar sering kali ditinggalkan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, acara-acara TV atau podcast yang mengajarkan prank/menjaili orang lain menjadi hal yang biasa bahkan diangggap sebuah hiburan. Na’udzubillah.
Dalam Islam, usia remaja sudah terkategori sebagai mukalaf, yaitu orang yang terkena taklif syarak. Artinya, perbuatan mereka terikat dengan syariat. Jika melanggar, mereka mendapat sanksi atas perbuatannya. Negara akan menegakkan sanksi berdasarkan ketentuan syariat Islam. Jika anak sudah akil balig, ia menanggung perbuatannya sendiri. Siapa pun pelakunya, usia remaja ataupun dewasa, akan diberlakukan sanksi yang sama. Namun, faktanya remaja saat ini sering mendapat sanksi ringan. Sehingga tidak memberikan efek jera bagi mereka.
Selama generasi diasuh dengan sistem sekuler, tidak akan terbentuk profil generasi saleh dan salihah. Sampai berapa lama lagi kita disuguhkan kejutan ultah maut yang menelan korban remaja? Mari selamatkan generasi dengan memformat ulang sistem pendidikan negeri ini berdasarkan syariat Islam kafah. Yang akan mencetak manusia berkepribadian Islam yang memiliki pola pikir dan sikap sesuai Islam. Sementara dalam masyarakat Islam, tidak akan pernah mengizinkan sedikit pun merayakan sesuatu yang bersifat kesenangqn dan uforia semata. Oleh karena itu budaya ulang tahun tidak akan pernah tumbuh subur di tengah-tengah masyarakat Islam. Kehidupan yang tentram jauh dari kerusakan ini hanya ada dalam bingkai negara daulah Islamiyah yang akan melindungi nyawa generasi dan menghapuskan kebiasaan salah yang berujung maut ini. InsyaAllah mari kita perjuangkan.













