Oleh: Widdiya Permata Sari
(Komunitas Gen Hijrah)
Kabar duka kembali menyelimuti dunia Islam. Di saat perhatian global tersedot pada tragedi di Gaza, Sudan, sebuah negeri Muslim yang kaya sumber daya alam, terus dicekik oleh krisis kemanusiaan yang memilukan. Tragedi terbaru yang terkuak di El-Fasher, Darfur Barat, menguak kembali betapa mengerikannya perang saudara yang melibatkan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) dan tentara Sudan.
Perang saudara ini telah menyebabkan kelaparan dan dugaan genosida di wilayah Darfur barat. Kekhawatiran terutama dirasakan penduduk Kota el-Fasher setelah kota tersebut direbut oleh RSF baru-baru ini.
Lebih dari 150.000 orang tewas dalam konflik di seluruh negeri, dan sekitar 12 juta lainnya telah meninggalkan rumah mereka akibat pertikaian tersebut. PBB menyebutnya sebagai krisis kemanusiaan terbesar di dunia. (bbc.com, 06/11/2025)
Sungguh menyayat hati melihat kondisi yang menimpa saudara-saudara seiman kita di Sudan. Pembunuhan massal, penyiksaan kejam terhadap pria, dan kekerasan seksual terhadap wanita dan anak-anak menjadi catatan kelam yang tak terhindarkan. Kekejian ini semakin parah karena RSF diduga kuat mendapat dukungan dari kekuatan asing, seperti Uni Emirat Arab (UEA), yang turut mengepung warga sipil.
Namun, essentialnya, konflik ini bukanlah semata-mata pertikaian etnis atau perang saudara murni. Krisis yang telah berlangsung puluhan tahun ini, dan semakin memanas dalam tiga tahun terakhir, adalah arena perebutan pengaruh politik dan perampokan sumber daya alam. Negara-negara adidaya Barat, terutama Amerika Serikat dan Inggris, bersama sekutu-sekutu regional mereka (Zionis dan UEA), menjadikan Sudan sebagai bidak dalam ‘proyek Timur Tengah baru’ mereka.
Sudan, yang memiliki cadangan emas terbesar di Arab, piramida bersejarah, dan aliran Sungai Nil yang vital, hanyalah objek bagi hegemoni global. Lembaga dan hukum internasional terbukti tak berdaya, bahkan seringkali dituding hanya melanggengkan kepentingan negara-negara adidaya atas negeri-negeri Muslim. Dunia telah lama disesatkan oleh propaganda yang menyajikan krisis Sudan sebagai masalah internal, sementara ribuan nyawa melayang dan jutaan orang mengungsi, menjadikannya krisis pengungsian terbesar di dunia.
Krisis Sudan adalah alarm keras bagi seluruh umat Islam. Penderitaan mereka adalah cerminan dari terpecah belahnya umat di bawah sistem sekuler-kapitalisme yang ditanamkan oleh penjajah. Ideologi nasionalisme telah merobohkan benteng solidaritas persaudaraan seiman (ukhuwah islamiyah), membuat para pemimpin Muslim dunia sibuk dengan kepentingan kekuasaan masing-masing dan tak mampu memberikan solusi nyata.
Membiarkan pertumpahan darah ini terus terjadi adalah sebuah kewajiban yang terabaikan. Kita harus menyadari bahwa ini adalah perang peradaban pertarungan antara Islam dan ideologi kufur. Harapan untuk mengakhiri krisis berkepanjangan ini tidak dapat digantungkan pada penguasa Muslim yang berkhianat atau pada institusi internasional yang berpihak.
Satu-satunya solusi yang bersifat komprehensif dan fundamental adalah dengan mengembalikan umat Islam pada sistem politiknya yang utuh: Khilafah Islamiyah. Hanya di bawah naungan seorang Khalifah dan penerapan syariat Islam secara kaffah (menyeluruh) persatuan negeri-negeri Muslim dapat terwujud. Khilafah akan menyatukan kekuatan, melindungi harta benda kaum Muslimin dari perampokan asing, dan menindak kedzaliman yang dilancarkan oleh negara-negara kafir penjajah.
Oleh karena itu, kewajiban kita adalah mengedukasi umat agar memiliki kesadaran ideologis, memahami akar masalah, dan termotivasi oleh keimanan untuk berjuang menegakkan kembali sistem Islam. Inilah jalan dakwah yang dicontohkan oleh Rasulullah saw dan para Sahabat: membangun kesadaran tanpa kekerasan, sehingga syariat Allah dapat diterapkan untuk menyelesaikan segala problematika kehidupan dan membawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil’alamin).
Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam satu kepemimpinan untuk menghentikan penderitaan di Sudan, Gaza, dan seluruh dunia.
Wallahu a’lam bish-shawab.













