Bingkaiwarta, DARMA – Menghadapi ancaman serangan hama yang membayangi hasil panen, Pemerintah Kabupaten Kuningan mengambil langkah taktis dan cepat. Melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan), pemerintah menggagas Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) sebagai bentuk mitigasi. Upaya ini difokuskan pada penanganan lahan seluas 15 hektare yang terdeteksi menjadi sasaran empuk serangan hama tikus, guna mencegah kerusakan yang meluas dan menjaga stabilitas produksi padi di daerah tersebut.
Sebagaimana diketahui, tikus sawah atau Rattus argentiventer merupakan salah satu musuh utama para petani. Hama ini memiliki daya reproduksi yang tinggi dan kemampuan adaptasi yang kuat, sehingga mampu menyerang tanaman secara terus-menerus mulai dari tahap awal hingga mendekati masa panen. Jika dibiarkan, populasi yang meledak dapat mengakibatkan penurunan hasil panen yang drastis hingga menyebabkan kegagalan panen atau puso.
Merespons kekhawatiran tersebut, Diskatan Kabupaten Kuningan segera mengerahkan pasukannya ke lokasi. Kegiatan Gerdal OPT dilaksanakan di hamparan lahan binaan Kelompok Tani Tunas Mandiri 1, Desa Bakom, Kecamatan Darma, kemarin.
Turun langsung ke lokasi, Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, memimpin jalannya kegiatan. Ia didampingi oleh tim Brigade Proteksi Tanaman, Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta dibantu aktif oleh para petani setempat.
Dalam keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa serangan tikus adalah ancaman nyata yang harus dihadapi bersama. Pengendalian yang dilakukan secara perorangan dinilai kurang efektif. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen untuk bergerak serentak dalam satu hamparan lahan agar populasi hama dapat ditekan secara signifikan.
“Setiap aduan yang masuk dari lapangan langsung kami tindaklanjuti. Tim kami turun untuk melakukan identifikasi hingga aksi penanganan langsung. Ini merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjaga agar produksi pangan tetap aman dan terjaga,” ujar Wahyu.
Selain melakukan penanganan teknis di lapangan, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi para petani. Mereka dibekali pengetahuan mengenai karakteristik hama, pola serangan, hingga strategi pengendalian terpadu yang ramah lingkungan. Para petani didorong untuk menerapkan pola pengendalian kolektif, mulai dari membersihkan lahan, memusnahkan sarang, hingga menggunakan bahan pengendali yang tepat guna.
Sebagai bentuk dukungan, pihak Diskatan juga menyalurkan bantuan berupa rodentisida ke lokasi. Bantuan ini diharapkan dapat mempercepat penekanan populasi hama sekaligus mencegah serangan meluas ke area pertanian lainnya.
Wahyu kembali mengingatkan bahwa kunci utama keberhasilan penanganan ini terletak pada kekompakan petani. “Jika dilakukan secara serentak, maka siklus hidup tikus dapat terputus. Inilah kuncinya,” tegasnya.
Sementara itu, para petani menyambut baik langkah cepat yang diambil oleh pemerintah. Kehadiran tim Diskatan dinilai memberikan kepastian hukum dan semangat baru bagi petani dalam menghadapi tantangan di lapangan.
Tindakan ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam menjaga ketahanan pangan daerah. Dengan adanya respons cepat, edukasi yang memadai, serta dukungan sarana yang tepat, potensi gangguan terhadap pertanian dapat diminimalisir. Melalui sinergi yang solid antara pemerintah dan petani, Kuningan optimistis mampu menekan dampak serangan hama serta menjaga padi sebagai komoditas strategis tetap aman. (Abel)













