Bingkaiwarta, KUNINGAN — Puluhan warga Desa Randusari, Kecamatan Cibeureum, mendatangi Gedung DPRD Kabupaten Kuningan pada Selasa (15/9/2026) siang. Bersama Kepala Desa Randusari, Tata Kasta, sekitar 40 warga mengikuti audiensi untuk menyampaikan keresahan mendalam terkait dampak keberadaan Bendungan Kuningan yang dinilai semakin mengganggu kenyamanan dan membahayakan keselamatan warga.
Kedatangan warga bukan sekadar menyampaikan keluhan, mereka menuntut solusi nyata. Salah satu yang paling mendesak adalah posisi permukiman yang berjarak sangat dekat dengan area pembuangan air bendungan, hanya sekitar 20 meter.
“Kekhawatiran sangat tinggi. Masyarakat merasa cemas. Harapannya, warga yang tinggal paling dekat dengan pembuangan air itu direlokasi,” ungkap Tata Kasta.
Selain ancaman keselamatan, persoalan kualitas air sumur warga juga menjadi sorotan utama. Hasil pemantauan Dinas Kesehatan menunjukkan kandungan E. coli pada sejumlah sumur warga berada di atas ambang batas, sehingga tidak layak digunakan sebagai air minum. Warga pun membawa bukti berupa dua galon air yang diklaim berasal dari lingkungan sekitar bendungan, yang dinilai berbau dan tidak layak konsumsi.
Dalam satu dusun tersebut terdapat sekitar 150 rumah, namun tidak semuanya dipastikan harus dipindahkan. Warga meminta adanya kajian teknis dan peninjauan resmi dari instansi terkait untuk menentukan rumah-rumah yang masuk zona berisiko.
Persoalan ini ternyata bukan hal baru. Sekitar dua tahun lalu, Anggota DPR RI H. Rokhmat Ardiyan juga telah meninjau lokasi, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut konkret.
“Makanya sekarang kami sampaikan lagi melalui DPRD Kabupaten, agar diteruskan ke DPR Pusat. Kami ingin warga sendiri melihat langsung prosesnya, bukan hanya saya yang berjuang,” jelas Tata.
Rohmat, salah satu warga yang hadir, menyampaikan kekecewaannya yang mendalam. Selama empat tahun mereka telah merasakan dampak keberadaan bendungan yang airnya dialirkan untuk pengairan sawah hingga ke Brebes.
“Kami mendukung program pemerintah. Tapi kami sudah bersabar selama empat tahun. Kalau tidak ada kejelasan, kami akan menutup rapat bendungan itu. Kami mohon aspirasi kami didengar, kami ingin direlokasi, menjauh dari lokasi waduk,” tegasnya.
Audiensi tersebut masih berlangsung hingga berita ini diturunkan. Warga berharap keluhan mereka tidak berhenti sekadar disampaikan, tetapi segera direspons dengan langkah nyata, terutama terkait penjaminan keselamatan permukiman, pemeriksaan kualitas air secara objektif, dan kejelasan rencana relokasi bagi warga yang berada di zona paling berisiko. (Abel)



