Bingkaiwarta, TANGERANG SELATAN – Dalam rangka mendukung penguatan karakter, integritas, dan wawasan kebangsaan generasi muda sebagai pilar pembangunan nasional, Kepala Badan Pengendalian Pembangunan dan Investigasi Khusus (BAPPISUS), Aris Marsudiyanto menghadiri kegiatan Masa Ta’aruf Mahasiswa (MASTAMA) Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) di Kampus UMJ, Cirendeu, Tangerang Selatan, Banten pada Rabu (23/9/2026).
Kegiatan yang diikuti sekitar 3.000 mahasiswa baru tersebut mengusung tema “Pemuda Berdaulat, Indonesia Maju”.
MASTAMA menjadi ruang awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan akademik sekaligus membangun karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, serta kesadaran akan peran generasi muda dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Dalam kesempatan tersebut, Kepala Bappisus menekankan bahwa kedaulatan pemuda dimulai dari kedaulatan berpikir.
Menurutnya, mahasiswa perlu memiliki kemampuan berpikir mandiri, menguji informasi, memahami persoalan secara objektif, serta bertanggung jawab atas setiap sikap dan keputusan. Pesan tersebut dinilai semakin relevan di tengah derasnya arus informasi digital. Mahasiswa tidak cukup hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga harus dapat membedakan fakta, opini, kepentingan, dan informasi yang belum terverifikasi.
Aris menyampaikan bahwa generasi muda perlu membangun lima kecerdasan secara seimbang, yaitu kecerdasan intelektual (Intelligence Quotient), emosional (Emotional Quotient), spiritual (Spiritual Quotient), kreativitas (Creativity Quotient), dan kemampuan menghadapi kesulitan (Adversity Quotient).
“Kecerdasan intelektual membentuk kemampuan berpikir kritis dan berbasis data. Kecerdasan emosional membantu kita mengelola diri dan menghadapi perbedaan. Kecerdasan spiritual menjadi landasan nilai dan integritas. Kreativitas mendorong lahirnya inovasi, sementara adversity quotient membentuk ketangguhan dalam menghadapi tekanan dan perubahan,” ujar Kepala Bappisus.
Menurutnya, kelima kecerdasan tersebut perlu menjadi bekal mahasiswa dalam menghadapi kompleksitas kehidupan sekaligus mempersiapkan diri menjadi sumber daya manusia yang kompeten, berintegritas, adaptif, dan memiliki kepedulian terhadap lingkungan sosial. Ia juga mengingatkan bahwa sikap kritis harus berjalan bersama integritas dan tanggung jawab.
“Kritis tanpa integritas bisa menjadi sekadar kegaduhan. Keberanian tanpa tanggung jawab bisa menjadi masalah. Karena itu, keberanian berpikir harus berjalan bersama ilmu pengetahuan, integritas, dan kepedulian terhadap kepentingan masyarakat,” tegasnya.
Kepala Bappisus menilai mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai generasi yang akan melanjutkan estafet pembangunan. Karena itu, ilmu pengetahuan yang diperoleh di kampus perlu diterjemahkan menjadi kemampuan membaca persoalan dan menghadirkan solusi bagi masyarakat.
“Indonesia maju tidak dibangun hanya oleh orang-orang yang berada di pusat kekuasaan, tetapi juga oleh jutaan anak muda yang memilih untuk menjadi bagian dari solusi,” tambahnya.
Senada dengan hal tersebut, Wakil Rektor IV UMJ, Septa Chandra, menyampaikan bahwa perguruan tinggi tidak hanya berperan dalam pengembangan akademik, tetapi juga membentuk karakter, kemampuan berkomunikasi, tanggung jawab, dan kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat.
Menurutnya, semangat “Pemuda Berdaulat, Indonesia Maju” perlu diwujudkan melalui budaya akademik yang sehat, keberanian menyampaikan gagasan, kemampuan berdialog, serta kesiapan memberikan kontribusi nyata bagi bangsa. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Kepala Bappisus Kembali mengajak seluruh peserta untuk ikut mensosialisasikan Gerakan Nasional Jempol Baik di depan ribuan mahasiswa baru UMJ.
Gerakan ini merupakan ajakan untuk membangun budaya digital yang sehat dengan menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab.
Ia mengajak mahasiswa tidak sekadar menjadi pengguna ruang digital, tetapi turut membangun ekosistem informasi yang positif dengan memilih, mendukung, dan menyebarkan konten yang benar, edukatif, inspiratif, serta bermanfaat bagi masyarakat.
“Jempol kita kelihatannya kecil, tetapi dampaknya bisa besar. Satu unggahan dapat menyebarkan informasi, satu komentar dapat memengaruhi orang lain. Karena itu, sebelum menggunakan jempol, gunakan juga pikiran dan hati. Pastikan yang kita dukung dan sebarkan adalah sesuatu yang baik dan bermanfaat,” ujar Kepala Bappisus.
Melalui Gerakan Jempol Baik, mahasiswa didorong untuk tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, tidak memperkuat provokasi maupun ujaran kebencian, serta lebih aktif memberikan apresiasi terhadap karya, prestasi, dan berbagai kegiatan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi BAPPISUS, pembangunan nasional tidak hanya membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kompetensi, tetapi juga generasi yang mampu berpikir objektif, menjaga integritas, memahami perkembangan zaman, dan ikut mengawal kepentingan masyarakat.
Semangat tersebut menjadi bagian dari pesan
“Pemuda Berdaulat, Indonesia Maju” membangun generasi yang berdaulat dalam berpikir, bertanggung jawab dalam bersikap, dan hadir sebagai bagian dari solusi pembangunan Indonesia. (ARL)













