banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Bukan Cerita Sederhana! Fakta Hukuman Dijemur dan Lari Muncul, Keluarga: Belum Ada Kesepakatan Damai

Bukan Cerita Sederhana! Fakta Hukuman Dijemur dan Lari Muncul, Keluarga: Belum Ada Kesepakatan Damai

Bingkaiwarta, KUNINGAN — Seiring berjalannya waktu, urutan kejadian yang sebenarnya di SMP Negeri 1 Japara perlahan mulai terungkap seutuhnya. Di saat korban masih berjuang memulihkan kesehatannya setelah terpapar cairan pembersih lantai, muncul fakta baru yang ikut menyita perhatian publik: adanya pemberian hukuman kepada siswa yang terlibat pertengkaran di lingkungan sekolah.

Dalam pertemuan klarifikasi yang berlangsung pada Rabu (14/10/2026), Guru Seni Budaya SMPN 1 Japara, Adit, secara terbuka mengakui telah memberikan hukuman kepada kedua siswa tersebut. Hukuman berawal dari teguran, lalu meminta keduanya keluar kelas dan berdiri di pinggir lapangan yang terkena sinar matahari, kemudian dilanjutkan dengan perintah berlari mengelilingi lapangan sekolah setelah jam pelajaran usai.

banner 728x250

“Saya mengakui menghukum kedua anak tersebut karena keduanya terlibat pertengkaran. Sudah dicoba beberapa kali diperingatkan, tetapi tetap tidak digubris dan tetap membuat kegaduhan,” ujar Adit dalam pertemuan tersebut.

Adit menjelaskan bahwa saat itu bertepatan dengan pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia juga menyebut tidak mengetahui adanya insiden sebelumnya berupa dugaan penyemprotan cairan pembersih lantai ke salah satu siswa. Oleh karena itu, hukuman yang diberikannya didasarkan pada pertengkaran yang dilihatnya langsung, bukan pada insiden cairan pembersih lantai.

Mengenai lama berlari, Adit menyebut: “Saya tidak menyebut harus berapa putaran, tetapi saat putaran keempat saya berhentikan,” ujarnya.

Paman korban, Hermawan, menceritakan bahwa ketika kondisi korban perlahan membaik, anak tersebut mulai menceritakan apa yang dialaminya. Dari penuturan itu, keluarga mengetahui bahwa korban dan siswa lainnya tidak hanya bertengkar, tetapi juga sempat dijemur dan disuruh berlari mengelilingi lapangan hingga empat putaran. Informasi inilah yang kemudian membuat keluarga mempertanyakan rangkaian penanganan yang terjadi di sekolah.

Hermawan juga meluruskan informasi yang menyebut persoalan telah selesai secara kekeluargaan. “Belum terpikirkan akan melakukan pelaporan dan lain-lain. Keluarga ingin fokus terhadap kesembuhan korban. Mohon doanya,” tegasnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa fokus utama saat ini adalah pemulihan korban, dan belum dapat dimaknai sebagai kesepakatan damai.

Menyusul informasi tersebut, Kepala SMPN 1 Japara, Oon Suharyono, mengadakan pertemuan khusus dengan keluarga korban. Oon menjelaskan bahwa saat insiden berlangsung, dirinya tidak berada di lingkungan sekolah, sehingga semua informasi yang diterima berasal dari laporan guru. Dalam pertemuan itulah, pihak sekolah menghadirkan Adit untuk menguraikan kronologi pemberian teguran dan hukuman secara langsung kepada keluarga korban.

Kasus ini kini berkembang menjadi lebih luas. Bukan hanya soal paparan cairan pembersih lantai, tetapi juga bagaimana sekolah merespons konflik antarsiswa. Penanganan di sekolah seharusnya tidak berhenti pada pemberian sanksi, tetapi juga mencakup penelusuran penyebab konflik dan memastikan tidak ada siswa yang membutuhkan pertolongan medis terabaikan.

Keterbukaan informasi menjadi kunci utama agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh. Sekolah diharapkan tidak sekadar menjaga nama baik, tetapi lebih mengutamakan pemulihan korban dan perbaikan sistem ke depan. Semua pihak berharap proses ini berjalan transparan, objektif, dan selalu mengutamakan kepentingan terbaik bagi anak-anak kita. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan