banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Dari Limbah Restoran Jadi Pakan dan Pupuk, Arunika Cigugur Hadirkan Solusi Sampah Bernilai Ekonomi

 

Bingkaiwarta, CIGUGUR — Sampah organik yang kerap dianggap beban lingkungan kini diubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi melalui inovasi budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) yang dikembangkan oleh Arunika di kawasan Cigugur, Kabupaten Kuningan. Melalui konsep pertanian terintegrasi, limbah dapur restoran diolah sedemikian rupa sehingga menghasilkan pakan ternak sekaligus pupuk tanaman, menutup siklus yang selama ini terputus antara pengelolaan sampah, peternakan, dan pertanian.

banner 728x250

Heni Hidayati, S.E., M.M.A., penggagas inisiatif ini, menjelaskan bahwa konsep sederhana namun berdampak besar ini lahir dari kepedulian nyata terhadap persoalan sampah sekaligus kebutuhan akan sistem pangan yang mandiri dan berkelanjutan.

“Intinya sederhana, apa yang selama ini kita buang, sebenarnya masih memiliki nilai yang bisa dimanfaatkan kembali,” ujar Heni, Rabu (28/10/2026).

Alur kerjanya dimulai dari pengumpulan limbah dapur restoran yang kemudian diolah menggunakan larva maggot BSF. Maggot yang tumbuh dimanfaatkan sebagai pakan ternak berkualitas, terutama untuk ayam petelur dan ayam kampung. Sementara sisa media budidaya yang dikenal sebagai kasgot, diolah menjadi pupuk alami yang kemudian digunakan untuk menumbuhkan tanaman sayuran dan buah-buahan. Semua berjalan dalam satu siklus tertutup — sampah diolah, menghasilkan pakan dan pupuk, yang kemudian menghasilkan pangan, dan sisa dari proses tersebut kembali diolah.

“Jadi hampir tidak ada yang terbuang. Volume sampah yang harus dibuang berkurang drastis, dan yang kami dapat justru input untuk kegiatan pertanian dan peternakan kami,” jelas Heni.

Untuk sementara, pengelolaan yang berjalan difokuskan pada sampah organik. Sementara untuk sampah anorganik seperti plastik, Arunika bekerja sama dengan Bank Sampah Indonesia (BSI) Kuningan. Ke depan, Heni memiliki harapan yang lebih jauh — sampah plastik pun dapat diolah menjadi produk bermanfaat seperti bahan paving, batako, maupun kerajinan, tanpa harus dibakar yang justru merusak lingkungan.

Lebih dari sekadar solusi lingkungan, Heni melihat pengelolaan sampah sebagai potensi ekonomi yang belum digarap secara maksimal. Model yang sedang dikembangkan di Arunika diharapkan dapat menjadi proyek percontohan, khususnya bagi pelaku usaha kuliner, bahwa bertanggung jawab terhadap limbah usaha ternyata sejalan dengan membuka lapangan pekerjaan baru dan menghasilkan produk bernilai jual.

“Kita jangan selalu bergantung pada anggaran atau pihak luar. Potensi dari dalam daerah sendiri bisa dikembangkan untuk membangun ekosistem pangan yang mandiri,” tegasnya.

Arunika kini menjadikan kawasan tersebut sebagai laboratorium hidup untuk menyempurnakan konsep pertanian terintegrasi ini. Gagasan jangka panjangnya pun menarik — pengembangan kawasan arboretum di kawasan Palutungan yang menggabungkan pelestarian alam, wisata, dan pertanian berkelanjutan. Dengan dukungan pemerintah dan masyarakat, Heni yakin model ini dapat direplikasi di berbagai penjuru Kuningan, menjadikan sampah bukan lagi masalah, melainkan peluang. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan