banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Malapetaka Perpanjangan Investasi Freeport

Oleh : Putri Efhira Farhatunnisa

PT Freeport masuk ke Indonesia sejak April 1967 setelah adanya UU Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal oleh Soeharto. Sejak saat itulah tanah Papua sang legenda emas dikeruk oleh Freeport, meskipun awalnya bijih tembaga yang dikabarkan. Kontraknya terus diperpanjang hingga kini, bahkan memperpanjang kontrak hingga 20 tahun kedepan.

banner 728x250

PT Freeport Indonesia akan menambah investasinya di Indonesia mencapai USD 18,6 miliar atau setara Rp 282,32 triliun (kurs Rp 15.179) hingga tahun 2041 nanti. Hal ini disampaikan oleh Chairman of the Board and CEO Freeport McMoRan, Richard C. Adkerson ketika memberikan orasi ilmiah di Institut Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selasa (4/10). (kumparan.com 6/10/2022)

Sebesar USD 3 miliar dari investasi tersebut akan digunakan untuk membangun smelter di Gresik, Jawa Timur. Progres pembangunan smelter tersebut sudah 39,9 persen sampai saat ini, ditargetkan akhir 2022 ini akan rampung hingga 50 persen dan mechanical construction selesai pada akhir 2023 sehingga bisa memulai produksi pada pertengahan 2024.

Richard menyebut bahwa smelter ini tidak hanya akan menguntungkan perusahaan namun juga pada pemasukan kas negara. Pundi rupiah tersebut akan dihasilkan dari berbagai pembayaran mulai dari pajak, royalti, dividen hingga biaya dan pembayaran lainnya. Menurutnya manfaat tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya bisnis Freeport yang semakin berkembang di Indonesia.

Keuntungan yang dijanjikan Freeport terlihat menggiurkan, namun apakah itu merupakan kabar gembira atau justru malapetaka? Sejatinya berapapun yang diberikan Freeport, tidak bisa dianggap sebagai keberuntungan. Yang ada Indonesia malah buntung karena harta miliknya dikuasai oleh asing. Tak bisa kita nikmati sepenuhnya, sebagaimana mestinya.

Nyatanya kerugian yang ditimbulkan penguasaan asing atas SDA ini jauh lebih besar. Jika Freeport berkomitmen untuk  menyumbang sebesar Rp. 1.214 triliun hingga 2041 nanti, maka itu tidak sebanding dengan besar kekayaan yang telah mereka keruk dari bumi Papua. Ada angka yang teramat jauh selisihnya, menggambarkan betapa ruginya membiarkan asing mengambil harta kita.

Presiden Direktur Freeport Indonesia, Tony Wenas, mengatakan berdasarkan data 2018, Freeport memproduksi 6.065 ton konsentrat per hari. Setiap ton konsentrat terdiri dari 26,5 persen tembaga, 70,37 gram perak, dan 39,34 gram emas. Jadi per hari Freeport bisa memproduksi ± 240kg emas dari Papua.

Jika harga emas per gram adalah Rp. 500.000,- maka kalikan dengan total produksi emas Freeport perhari 240.000 gram emas, totalnya Rp. 120.000.000.000,- /hari (seratus dua puluh miliar rupiah per hari). Artinya dalan setahun (365 hari) PT Freeport bisa mengambil hampir Rp. 5000 triliun per tahun dari tanah Papua. Sungguh angka yang fantastis bukan?

Dalam kurun 20 tahun kita dijanjikan Rp. 1.214 triliun dan itu belum lah pasti, sedangkan mereka mengeruk kekayaan hampir Rp.5000 triliun per tahun dari kita. Apa ini yang disebut menguntungkan? Jika diizinkan berandai, dengan uang sebesar Rp. 5000 triliun kita akan bisa menyejahterakan rakyat Papua, bahkan mungkin hingga seluruh Indonesia.

Tapi katanya 51 persen saham PT Freeport sudah milik Indonesia yang dibeli PT Inalum (Indonesia Asahan Aluminium), apakah benar begitu? Para pakar masih sanksi atas kepemilikan ini, masih banyak kejanggalan dan fakta yang masih perlu dipertanyakan. Pasalnya dana yang digunakan PT Inalum untuk membeli saham berasal dari BUMN yang ternyata dari obligasi internasional alias utang.

Pakar Ekonomi Islam Dr. Arim Nasim mengatakan bisa saja pemegang obligasi adalah Amerika juga, karena ketika berbicara tentang obligasi internasional maka siapapun bisa memilikinya. Dalam artian pembelian saham ini sama-sama mengalirkan keuntungan pada Amerika, hanya berbeda bentuk saja.

Selain itu, kepemilikan 51% saham bukan murni milik Indonesia namun 58,9% nya merupakan dimiliki Nippon Asahan Aluminium (NNA) milik pemerintah Jepang. Jadi sebagian besar keuntungan dari 51% saham tadi mengalir pada kantong Jepang. Pembelian saham ini juga telah membebani negara, karena harus membayar Rp. 55 triliun lengkap dengan bunganya.

Pengelolaan asing atas Sumber Daya Alam (SDA) juga akan semakin menguatkan neoimperialisme di negeri tercinta ini. Yang nantinya akan berdampak pada politik dan ekonomi Indonesia. Faktanya kini banyak sekali kebijakan yang lebih mengutamakan kepentingan para investor dibanding kebutuhan rakyat. Alhasil masyarakat akan semakin menderita di bawah naungan sistem kapitalisme ini.

Kekayaan yang seharusnya dinikmati pribumi malah diserahkan guna mempertebal kantong orang asing dan para kacungnya. Rakyat dibuat gigit jari dan kelabakan memenuhi kebutuhan hidup. Sedangkan umat berharap bahwa seorang pemimpin akan dapat mengurusi urusan mereka, mempermudah bukannya mempersulit, menyejahterakan bukannya memeras.

Hal ini berbeda dengan sistem ekonomi Islam, dimana SDA dikelola secara penuh oleh negara. Sebagaimana sabda nabi yang berbunyi, “Kaum muslimin berserikat dalam tiga hal, yakni air, rumput, dan air; dan harganya adalah haram.” (HR. Ibnu Majah).

Ketiga hal tersebut haram dimiliki oleh individu, ketika kekayaan negara dimiliki dan dikelola secara utuh oleh negara. Maka hasilnya bisa mengalirkan kebermanfaatan untuk umat. Terlebih negeri katulistiwa ini merupakan negara dengan kekayaan melimpah, jika menggunakan sistem Islam tentu akan menjadi negara yang makmur dan sejahtera.

Jika undang-undang Allah SWT diberlakukan maka tak perlu lagi ada rakyat yang kelaparan, kemiskinan pun akan bisa dientaskan. Semua orang yang memiliki semangat menuntut ilmu dapat mengenyam pendidikan setinggi mungkin. Orang yang memiliki masalah kesehatan bisa memeriksakan diri tanpa harus memikirkan biaya. Tak akan ada lagi ibu yang membunuh anaknya karena kemiskinan yang menjerat.

Kemaslahatan tersebut kini hanya dalam angan, egoisme dan keangkuhan diri tak membiarkan Islam berdaulat. Ketamakan masih menyelimuti, demokrasi pun tetap diminati. Kesejahteraan akan bisa diraih jika kesombongan dikubur dalam, dan mulai menerapkan aturan pemilik semesta. Karena hanya Islam yang mampu mewujudkan angan indah tersebut.

Wallahua’lam bishshawab.


banner 336x280

Tinggalkan Balasan