Bingkaiwarta, LURAGUNG – Kalingga El Sakhi Ibrahim, seorang balita laki-laki berusia 14 bulan dari Dusun Puhun RT 02 RW 06 Desa Luragung Landeuh, Kecamatan Luragung, Kabupaten Kuningan, harus berjuang melawan penyakit langka yang dideritanya.
Anak dari pasangan Widiani Ambarwati (27) dan Pandu Puji Nugraha (25) ini, saat lahir sudah didiagnosa menderita gangguan fungsi hati kronis dan kebocoran jantung. Namun, kondisinya masih belum parah seperti saat ini.
“Anak kami dropnya di usia 10 bulan, saat usia di bawah 10 bulan masih stabil kondisi kerusakan hatinya masih stadium 3,” ujar Widiani saat dihubungi bingkaiwarta.co.id melalui pesan Whatsapp, Rabu (26/10/2022).
Kondisi Kalingga saat ini sangat memprihatinkan. Perutnya membesar dengan urat yang semakin terlihat. Karena menurut medis, ia kekurangan albumin/protein.
Ia menjelaskan, saat ini anaknya diharuskan rutin satu bulan sekali menjalankan pengecekan laboratorium dan rawat jalan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta.
Biaya yang dibutuhkan pun besar. Bahkan seringkali ia menunda memeriksakan anaknya karena belum memiliki uang. Gaji hasil bekerja suaminya sebagai satpam di cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Kuningan, tidak cukup.
“Yang paling berat bagi kami biaya susu (khusus medis) dan obat yang tidak dicover BPJS. Untuk susu aja 4-8 juta per bulan. Dan untuk obat 1 juta per bulan. Saya beli susu semampunya, kadang kalo enggak ada minjem dulu ke teman atau tetangga. Kalo lagi ada uang kontrol ke Jakarta, kalo belum ada, saya tunda kontrolnya per 2 bulan,” tuturnya.
Widiani dan suaminya betul-betul membutuhkan bantuan biaya untuk pengobatan anaknya. Karena seringkali tidak tahu harus berbuat apa, seringkali ia mengirimi pesan akun-akun resmi sosial media milik instansi daerah hingga tokoh terkenal untuk meminta bantuan.
Ia pun berharap pemerintah Kabupaten Kuningan bisa membantunya. Setidaknya dengan sedikit bantuan bisa mencukupi kebutuhan pengobatan rutin anaknya.
“Harapan kami ingin agar anak kami dibantu, didampingi hingga impiannya (cangkok hati) bisa terlaksana secepatnya.
Kami benar-benar butuh bantuan dan pendampingan, khususnya dari pemerintah maupun warga Kabupaten Kuningan,” ucap Widiani.
Widiani seolah dipacu oleh waktu di tengah kebingungannya. Satu sisi ingin melihat anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik, namun di sisi lain kemampuan ekonomi untuk mewujudkannya belum bisa ia temui.
“Kita kejar-kejaranan dengan waktu, karena kalo urat diperutnya ini makin parah dikhawatirkan pecah, ini yang memicu sering buang air besar ditambah muntah darah,” katanya. (rmdty)













