Bingkaiwarta, CIREBON – Pemandangan berbeda terlihat di lobi Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD Gunung Jati, Kota Cirebon.
Sejumlah blangkar yang biasanya berjajar untuk melayani pasien dari ambulans kini nyaris tak tersisa.
Dalam kondisi normal, sekitar 15 blangkar biasanya tersedia di area depan lobi IGD. Namun dalam satu hingga dua pekan terakhir, jumlah blangkar yang terlihat standby hanya tersisa sekitar dua hingga tiga unit.
Blangkar lainnya terpakai untuk menangani pasien yang datang dan membutuhkan penanganan di IGD.
Kabid Keperawatan RSUD Gunung Jati Cirebon, Yogi Yana, membenarkan adanya peningkatan kunjungan pasien dalam satu hingga dua pekan terakhir.
Menurutnya, lonjakan paling terlihat pada pasien anak. Selain itu, terdapat pula peningkatan pasien dewasa dengan berbagai keluhan penyakit dalam.
“Untuk akhir-akhir ini, interval satu sampai dua minggu ke belakang, memang jumlah kunjungan pasien di IGD mengalami peningkatan. Khususnya peningkatan pasien anak, ditambah pasien dewasa, khususnya dengan penyakit dalam,” kata Yogi.
Untuk pasien anak, keluhan yang paling banyak ditemukan masih berkaitan dengan batuk, pilek dan demam atau hipertermi.
Peningkatan jumlah pasien juga dipengaruhi bertambahnya rujukan dari sejumlah rumah sakit di sekitar Cirebon.
Sebagian pasien anak dirujuk karena fasilitas pelayanan anak di rumah sakit pengirim telah mengalami keterbatasan kapasitas.
“Batuk, pilek, panas, itu masih mendominasi,” ujarnya.
Sementara pada pasien dewasa, kasus yang ditangani cukup beragam. Di antaranya pasien dengan hipertensi, demam dan berbagai penyakit dalam lainnya.
Setiap pasien yang datang ke IGD terlebih dahulu mendapatkan penanganan dan observasi. Durasi observasi berkisar dua hingga empat jam sebelum dokter menentukan apakah pasien diperbolehkan pulang atau harus menjalani rawat inap.
Untuk pasien rujukan, kata Yogi, sebagian besar memang sudah memiliki indikasi untuk menjalani perawatan lebih lanjut.
BOR Ruang Anak Naik
Peningkatan kunjungan pasien juga ikut berdampak terhadap tingkat keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) di ruang perawatan anak.
Jika sebelumnya BOR pasien anak berada di kisaran 60 hingga 65 persen, kini rata-rata meningkat menjadi 70 hingga 80 persen.
Bahkan, tingkat keterisian di Ruang Kemuning yang digunakan untuk perawatan bayi telah mencapai sekitar 91 persen.
Meski demikian, pihak rumah sakit memastikan kapasitas tempat tidur secara keseluruhan masih mencukupi.
RSUD Gunung Jati juga telah menambah area perawatan di lantai dua gedung IGD yang dapat menampung sekitar 20 pasien. Area tersebut dapat digunakan untuk pasien anak maupun dewasa sesuai kebutuhan.
Untuk perawatan anak dan neonatal, rumah sakit memiliki sejumlah ruang, mulai dari PICU dengan 13 tempat tidur, NICU 18 tempat tidur, hingga HCU Neonatal sebanyak 22 tempat tidur.
Selain itu terdapat ruang perawatan PS1 sebanyak 23 tempat tidur, PS2 sebanyak 22 tempat tidur, PS3 sebanyak 23 tempat tidur, PS4 sebanyak 19 tempat tidur, Kemuning 34 tempat tidur dan Saripamudai 14 tempat tidur.
Yogi menjelaskan, kondisi IGD yang tampak penuh tidak selalu menggambarkan seluruh tempat tidur rawat inap telah terisi.
Menurutnya, kepadatan di IGD sering terjadi karena pasien datang dalam waktu yang bersamaan sehingga terjadi penumpukan sementara.
“Kadang pasien ini datang berbarengan. Jadi terlihatnya menumpuk. Tapi untuk tingkat keterisian kami masih tersedia,” jelasnya.
Siapkan Alih Fungsi Ruang
Manajemen RSUD Gunung Jati juga telah menyiapkan langkah antisipasi apabila lonjakan pasien terus meningkat.
Salah satu opsi yang disiapkan adalah mengalihfungsikan sementara ruang perawatan yang memiliki tingkat keterisian rendah menjadi ruang khusus pasien anak maupun dewasa.
Namun, opsi tersebut belum diterapkan karena kapasitas yang tersedia saat ini dinilai masih memadai.
“Kami tidak menutup kemungkinan merubah fungsi kalau memang dibutuhkan. Salah satu indikatornya ruang perawatan yang BOR-nya rendah bisa dialihfungsikan menjadi ruang perawatan khusus, apakah yang dibutuhkan anak atau dewasa,” kata Yogi.
Ia menegaskan, rumah sakit akan terus menyesuaikan kapasitas pelayanan dengan perkembangan kebutuhan masyarakat, terutama jika tren peningkatan kunjungan pasien terus berlanjut. (ARL)













