Bingkaiwarta, KUNINGAN – Dalam rangka pengendalian hama tikus yang merebak dibeberapa wilayah yang menyerang areal pertanian, Pemerintah Indonesia secara serentak menggelar Gerakan Masal Bangun Rubuha (Rumah Burung Hantu) secara nasional. Upaya ini pun dilakukan di wilayah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan.
Rumah Burung Hantu (RUBUHA) adalah struktur buatan yang dirancang khusus untuk menarik dan mendukung populasi burung hantu, yang secara alami merupakan predator dari hama-hama pertanian tertentu, memakan hama seperti tikus, kumbang, dan serangga lainnya yang merugikan tanaman pertanian. Upaya ini merupakan langkah yang murah, mudah dan ramah lingkungan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah di lokasi pemasangan Rubuha mengatakan, bahwa pihaknya melakukan Gerakan Pengendalian (Gerdal) dalam rangka pengendalian serangan tikus dengan membangun atau membuat Rumah Burung Hantu (RUBUHA). Hal ini sebagai upaya gerakan pengendalian serangan tikus secara efektif, efisien, murah, dan memiliki nilai konservasi yang tinggi.

“Jadi kami melakukan konservasi burung hantu agar memiliki tempat untuk berteduh, tempat untuk dia bisa mencari mangsa di wilayah hamparan areal sawah. 1 Rubuha bisa untuk 5 Ha sawah dan kami melakukan Gerdal secara massal di seluruh wilayah Kabupaten Kuningan,” ujar Wahyu.
Menurut Wahyu, pihaknya telah melakukan pembangunan Rubuha di Kabupaten Kuningan sebanyak 25 buah Rubuha. Metode ini merupakan cara konservasi burung hantu untuk pengendalian tikus. Harapannya pengendalian tikus dapat dilakukan secara mudah, murah, dan memiliki nilai konservasi yang tinggi, melalui konservasi burung hantu.
“Banyak manfaat yang didapatkan dengan pemasangan Rubuha, dengan memasang Rubuha, tidak hanya mengurangi kerusakan lingkungan akibat pestisida tetapi juga meningkatkan hasil pertanian secara keseluruhan,” jelasnya.
Melalui rubuha ini, kata Wahyu, serangan tikus dapat terkendali secara maksimal, murah, mudah, efisien dan ramah lingkungan. Dengan memfasilitasi populasi burung hantu, adanya rubuha membantu mempertahankan keseimbangan ekosistem lokal. Hal ini penting untuk menjaga keanekaragaman hayati dan stabilitas ekosistem pertanian.
“Manfaat lainnya yaitu pengurangan penggunaan pestisida dan potensi peningkatan hasil panen dapat mengurangi biaya produksi bagi petani, sehingga meningkatkan keuntungan mereka dalam jangka panjang,” imbuhnya.
Rubuha bukan hanya menawarkan solusi praktis untuk masalah pertanian saat ini, tetapi juga berpotensi menjadi bagian integral dari pertanian masa depan yang lebih berkelanjutan dan efisien.
“Ayo mari kita lestarikan burung hantu karena dengan burung hantu, maka hama serangan tikus di wilayah pertanian dapat dikendalikan,” kata Wahyu. (Abel)













