banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Filsafat Apel dan Perbedaan Pemikiran, Nusron Wahid: Ruang Kritisi Kebijakan Harus Tetap Terbuka

 

Bingkaiwarta, SLEMAN – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, menekankan pentingnya menjaga tradisi dialektika berpikir di lingkungan akademik. Menurutnya, keberagaman pemikiran justru memperkaya wawasan, dan ruang untuk kritik serta perbedaan pandangan harus tetap terbuka, termasuk terhadap kebijakan negara. Hal itu disampaikannya dalam Kuliah Umum di Politeknik Agraria STPN, Sleman, D.I. Yogyakarta, pada Jumat (4/9/2026), yang juga menghadirkan Rocky Gerung sebagai pembicara.

banner 728x250

“Tradisi dialektika berpikir, tidak boleh mati di mana pun kita berada. Sebagai insan akademik di kampus ini, meskipun kampus ini adalah sekolah semi-kedinasan, saya minta untuk tidak segan-segan untuk mengundang berbagai tokoh dari level mana pun yang sifatnya itu kritik dan kritis terhadap negara. Termasuk kritis terhadap kebijakan kita,” ujar Menteri Nusron dalam sambutannya.

Menteri Nusron menilai perbedaan pemikiran justru menjadi kekayaan apabila setiap pihak diberikan ruang untuk menyampaikan dan mempertukarkan gagasannya. Ia menggambarkan hal itu melalui analogi “filsafat apel” yang dikaitkan dengan pemikiran Bernard Shaw.

“Kalau ada dua orang, saya sama Rocky, masing-masing punya sebuah apel, kemudian kita tukarkan masing-masing apel kita, maka jadinya tetap sama, masing-masing tetap memiliki satu buah apel. Tetapi kalau kita mempunyai dua pemikiran yang berbeda, kemudian pemikiran itu kita saling tukarkan, maka jadinya kita mempunyai dua buah pemikiran yang berbeda,” jelas Menteri Nusron.

Ia berharap tradisi kuliah umum dan dialektika berpikir di Politeknik Agraria STPN dapat terus menjadi ruang terbuka untuk saling berbagi pendapat. “Sharing pendapat itu akan menjadikan kita kaya akan pendapat dan kaya akan hasrat,” tambahnya.

Kuliah umum bertema “Tanah, Negara, dan Rakyat: Memaknai Kembali Transformasi Pelayanan Pertanahan dalam Perspektif Kebangsaan” ini juga menghadirkan Rocky Gerung yang memaparkan pandangan kritisnya. Dalam pemaparannya, ia menegaskan pentingnya perdebatan dan pertukaran gagasan yang sejati.

“Pikiran, kuliah umum, kalau tidak ada yang bantah, dia jadi doa. Doa nggak boleh dibantah, pikiran harus dibantah. Itu bedanya,” tegas Rocky Gerung.

Di hadapan ratusan Taruna/i, ia juga menjelaskan pendekatan filosofis untuk kembali menelaah akar dari berbagai konsep. “Saya sengaja mengambil cara berpikir filosofi untuk membongkar akarnya. Supaya ada konsep-konsep radikal. Kita membongkar tanah untuk menemukan akar. Kita membongkar pikiran supaya tidak ada yang disembunyikan secara politis. Itu intinya,” pungkasnya.

Rocky Gerung menyampaikan tiga konsep pemaknaan atas tanah, yaitu:

– Bagi masyarakat adat, tanah memiliki nilai magis karena berkaitan dengan kehidupan dan warisan leluhur;

– Bagi negara, tanah memiliki fungsi sosial yang diwujudkan melalui pengaturan dan hukum;

– Bagi korporasi, tanah dipandang sebagai komoditas yang memiliki nilai bisnis.

Kuliah umum ini diikuti oleh sejumlah Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Kementerian ATR/BPN, Plt. Direktur Politeknik Agraria STPN, seluruh Kepala Kantor Wilayah BPN Provinsi beserta jajaran, serta lebih dari 500 Taruna/i Politeknik Agraria STPN. (Abel/hms)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan