banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Moderasi Beragama dan Islam Kaffah

  • Bagikan

Oleh: Ummu Nadiatul Haq
(Penggiat Literasi)

Di akhir tahun 2019, Kemenag mengeluarkan buku moderasi beragama. Jika kata moderasi disandingkan dengan kata beragama menjadi moderasi beragama. Istilah itu telah merujuk pada sikap mengurangi kekerasaan, atau
menghindari keekstreman dalam
praktik beragama (Tim Penyusun Kementerian Agama, 2019).

banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280

Dalam proyek moderasi ini, kaum muslimin dipaksa untuk mengartikan agama dan ajarannya sesuai dengan cara pandang barat, yakni Islam yang mudah kompromi terhadap nilai-nilai mereka, toleran terhadap sistem hidup mereka dan rela meninggalkan aturan Islam demi kerukunan, kesetaraan gender dan perdamaian dunia menurut barat.

Di kemendikbud, buku-buku agama di sekolah direvisi yang berisi toleransi, kerjasama antar agama di perayaan agama tertentu. Umat Islam diminta bersikap toleran dengan toleransi
kebablasan sehingga cenderung pada
pluralisme, mengakui semua agama benar dan sinkretisme. Kaum muslimin dipaksa menerima demokrasi, humanisme, menentang terorisme dan radikalisme dan toleran terhadap penyimpangan akidah.

Toleransi yang kebablasan akan membuat muslim ikut merayakan agama lain dan menjadikan muslim memiliki kedangkalan akidah, tidak meyakini Islam dengan keyakinan yang 100 persen.

Moderasi beragama akan membuat kaum muslimin tetap beragama Islam namun mengadopsi cara berpikir bukan berasal dari Islam yang dianutnya, melainkan akan tunduk pada pola pikir Barat. Jadi secara tidak langsung program ini justru menjauhkan kaum muslimin dari Islam yang sebenarnya. Mereka akan membuat kaum muslimin memposisikan Islam sama seperti agama lainnya, hanya sebagai
ibadah ritual saja, meletakkannya
sekadar di ranah privat saja. Dan memutilasi ajaran-ajaran dasarnya sehingga mandul dalam pengaturan kehidupan secara kafah/menyeluruh.

Penerapan Islam Kaffah Mewujudkan
Toleransi yang Sebenarnya.

Kaum muslimin yang sudah bersyahadat, bersaksi dengan mengucapkan “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan melainkan Allah. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.” Tentu ini harus diyakini bahwa kita sudah mengikat untuk taat pada Allah dan Rasul-Nya, apapun yang disyariatkan Sang Pencipta harus ditaati dan apapun yang dilarang harus kita tinggalkan.

Allah Swt menyeru kepada orang beriman secara langsung untuk masuk ke dalam Islam secara Kaffah, jangan terjebak oleh arus Moderasi Beragama.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

“Wahai orang-orang yang beriman masuklah kamu kepada Islam secara menyeluruh. Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” QS al-Baqarah (2): 208

Jadi ketika sudah memeluk Islam, kita diperintahkan untuk mengambil Islam dan syariahnya secara keseluruhan dari sumber Al-Qur’an dan sunah. Kita tidak boleh berislam model prasmanan. Memilih yang disukai, dan meninggalkan yang tidak disukai.

Upaya barat untuk menghancurkan Islam dengan isu moderasi beragama, menjauhkan Islam dari pemeluknya begitu massif dilakukan dengan berbagai cara. Kita harus waspada dan kembali pada Islam sebenarnya.

Dalam sistem Islam, tanpa moderasi beragamapun, Islam sudah menjalankan toleransi dengan agama lain. Agama selain Islam yang tunduk pada kepemimpinan Islam akan diperlakukan sama seperti muslim dalam hal hak sebagai warga negara daulah Islam. Ketika non-Islam berada di bawah naungan Islam, tunduk pada aturan Islam dalam menjalani kehidupan, diterapkan hukum Islam atas mereka, mereka justru berada di samping kaum Muslimin. Mereka memiliki hak yang sama dengan kaum Muslimin, yang membedakan adalah masalah akidah dan ibadah yang dijalankan masing-masing. Tidak boleh kaum Muslimin merayakan perayaan agama lain.

Al-Qarafiy berkata, ” sesungguhnya diantara kewajiban tiap Muslim terhadap kafir dzimmi adalah berbuat lembut kepada kaum lemah mereka, menutup kebutuhan kefakiran mereka, memberi makan orang yang kelaparan dari kaum mereka, memberi pakaian kepada yang tidak memiliki pakaian di antara mereka, mengajak mereka bicara dengan kata-kata yang lembut, menanggung penderitaan tetangga dari mereka semampunya, bersikap lembut pada mereka, tidak menakut-nakuti juga tidak mengagungkan, ikhlas memberi nasihat mereka dalam semua urusan, melawan orang yang hendak menyerang dan mengganggu mereka, dan menjaga harta, keluarga, kehormatan dan seluruh hak serta kepentingan mereka. Hendaknya setiap muslim bekerja sama dengan mereka dalam setiap perbuatan yang baik dengan akhlak yang mulia pula”

Wallahu ‘alam bishshawab.


banner 336x280
banner 336x280
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

error: Content is protected !!