banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Selingan Spesial di Screening Film Kuningan: Monolog ‘Renderrrr!’ Angkat Isu Gegar Budaya

 

Bingkaiwarta, KUNINGAN – Pada senja yang mulai turun di Erion Space, suara percakapan pengunjung restoran berpadu dengan obrolan para sineas yang memenuhi ruang terbuka tersebut. Jumat (6/3/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, pertunjukan monolog berjudul “Renderrrr!” menghiasi rangkaian acara Screening Film Kuningan yang diselenggarakan oleh Forum Film Kuningan, sebagai selingan tak biasa yang menyajikan pesan mendalam. Dalam waktu sepuluh menit, pertunjukan yang digelar di panggung kecil itu berhasil membuka ruang refleksi tentang film, ingatan, dan kebudayaan lokal.

banner 728x250

Aktor sekaligus sutradara teater Kuningan, D. Ipung Kusmawi, membawakan monolog tersebut dengan gaya santai namun penuh unsur satir. Penonton yang sebagian besar terdiri dari sineas lokal, komunitas kreatif, dan pengunjung restoran, tampak fokus mengikuti alur cerita meskipun pertunjukan berlangsung di ruang terbuka. Suasana riang tercipta ketika sang aktor melempar celetukan bernuansa humor, dan pada satu adegan, Ipung bahkan mengajak penonton berpartisipasi dengan mengucapkan beberapa potong dialog bersama menciptakan suasana akrab sekaligus reflektif.

Monolog “Renderrrr!” menandai kembalinya Ipung ke format panggung monolog setelah cukup lama terlibat dalam produksi teater berskala kolosal. Sebelumnya, pada penghujung tahun lalu, ia pernah tampil dalam monolog “Sandal Jepit Bapak” pada pameran lukisan perupa Asep Deni. Kini, melalui panggung sederhana di acara Screening Film Kuningan, ia kembali menghadirkan karya monolog dengan pendekatan personal sekaligus kontekstual.

Seperti pada karya-karya sebelumnya, Ipung mengerjakan hampir seluruh aspek kreatif pementasan mulai dari penulisan naskah, pemeran utama, hingga menyutradarai pertunjukannya. “Semuanya lebih kepada penyesuaian tematik acara. Dengan waktu proses yang relatif cepat, maka dibutuhkan naskah yang bisa cepat pula dimaknai secara totalitas. Dan naskah hasil karya sendiri adalah solusinya,” ujarnya sambil tertawa ringan usai pementasan.

Dalam lakon “Renderrrr!”, Ipung menghadirkan sosok seorang sutradara film lokal yang resah menyaksikan perubahan budaya di desanya. Tokoh itu melihat bagaimana bahasa ibu semakin jarang digunakan, suara seruling tak lagi terdengar, aroma kayu bakar di dapur perlahan digantikan oleh ritme kehidupan modern, hingga suara kecipak tanah becek di sawah yang kini terasa semakin jauh.

Tokoh tersebut menyebut perubahan itu sebagai akibat dari “pengarsipan media yang tidak rapi”. Ia percaya bahwa kebudayaan bisa hilang bukan hanya karena dilupakan, tetapi juga karena tidak pernah direkam menimbulkan seruan berulang sepanjang monolog untuk merekam, menyimpan, dan tidak menghapus jejak budaya lokal dalam bentuk media apa pun.

Dengan tempo permainan yang naik turun kadang jenaka, kadang kontemplati, Ipung membawa penonton pada renungan tentang gegar budaya yang sedang berlangsung. Tema ini selaras dengan diskusi utama acara tentang potensi budaya lokal sebagai bahan dan sumber cerita film.

Pada bagian akhir, tokoh sutradara lokal yang diperankannya mengucapkan kalimat yang menyodorkan tantangan bagi para sineas hadir: “Diskusi tentang film tidak seharusnya berhenti sebagai notulen atau catatan seminar. Diskusi harus segera berubah menjadi adegan yang kemudian dieksekusi dalam produksi film nyata,” ungkap Ipung.

Di tengah ruang terbuka yang sederhana, monolog singkat itu pun berakhir sebagai pesan untuk masa depan: bahwa kebudayaan tidak hanya perlu dibicarakan, tetapi juga direkam, disimpan, dan terus diceritakan kembali. (Abel)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan