Oleh : Dr. Mualim, MA (Ketua STIS Husnul Khotimah Kuningan)
Genderang Pilkada 2024 Kuningan sudah mulai dibunyikan. Bermunculan tokoh – tokoh yang menawarkan diri untuk memimpin Kuningan 5 tahun ke depan. Siapa diantara mereka yang akan terpilih hanya Tuhan Yang Tahu, selain kita hanya bisa menunggu. Dalam Islam, mengajukan diri menjadi calon pemimpin itu sah-sah saja. Al Qur’an sendiri mengabadikan, kisah Nabi Yusuf as yang menawarkan diri menjadi menteri di Mesir suatu ketika dahulu. Namun, jika seseorang terlalu ambisi itu yang harus diwaspadai.
Sejatinya menjadi pemimpin bukan merupakan penghormatan tetapi lebih kepada amanah yang pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Kaedah berbahasa Arab mengatakan “al qiyadatu takliif wa laisat tasyriif” (Kepemimpinan itu merupakan tanggungjawab dan amanah bukannya suatu kemuliaan atau kebanggaan). Rasulullah saw mengingatkan dalam dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari dan Muslim: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
Paling tidak ada dua tugas utama yang harus diemban oleh seorang pemimpin. Pertama, seorang pemimpin harus bisa memberikan khidmah (pelayanan). Dalam pandangan Islam, sejatinya pemimpin adalah pelayan bagi rakyat yang dipimpinnya. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits dari Uqbah bin ‘Amir ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.’” (HR Ibnu Asakir, Abu Nu’aim).
Hadits tersebut mengingatkan bahwa hakikatnya seorang pemimpin itu adalah pelayan masyarakat yang harus siap melayani berbagai kepentingan masyarakat yang dipimpinnya. Bukan malah sebaliknya, minta dilayani dan diberikan previllag atau berbagai keistimewaan karena jabatan yang diembannya.
Kedua, seorang pemimpin harus bisa memberikan qudwah (keteladanan). Menjadi pemimpin bukanlah pekerjaan yang mudah, karena menyangkut banyak hal mulai dari pencapaian visi misi sampai pada urusan kesejahteraan rakyat menjadi urusan dan tanggung jawab seorang pemimpin. Menjadi pemimpin (baca pemimpin politik) bukan hanya sekedar karena mendapatkan suara terbanyak saat Pilkada, atau sekedar mendapatkan selembar Surat Keputusan (SK) sebagai bentuk legalitas dan alat otoritas untuk berkuasa atau memerintah. Namun, lebih dari itu pemimpin harus bisa menjadi sosok panutan dan sebagai agen of changes dalam masyarakat yang dipimpinnya. Keteladanan sebagai salah bentuk integritas memegang peranan penting dalam menunjang kesuksesan seorang pemimpin dalam memajukan dan mensejahterakan masyarakat yang dipimpinnya. Keteladanan juga bisa menjadi energi positif yang bisa menjadi titik kuat (strong point) visi dan misi yang telah ditetapkannya. Keteladanan merupakan keseluruhan perilaku pimpinan yang dapat dilihat, dikenali dan ditiru oleh seluruh anak buah serta masyarakat yang dipimpinnya. Sebaliknya, keteladanan bukan hanya sekadar perkataan kosong atau janji-janji manis tetapi lebih merupakan bukti nyata dari perilaku kepemimpinan yang ditunjukkan pada setiap waktu dan kesempatan secara natural (alami) tanpa mengandung unsur pencitraan.
Demikianlah, dua tanggungjawab utama seorang pemimpin. Semoga masyarakat Kuningan ke depan, mampu mendapatkan seorang pemimpin yang terbaik yang dapat membawa Kuningan menjadi lebih baik. Seorang pemimpin yang berjiwa melayani bukan minta dilayani. Seorang pemimpin yang bisa dijadikan teladan bagi seluruh lapisan masyarakat yang dipimpinnya….Amiin Ya Rabbal Alamin.













