Bingkaiwarta, KADUGEDE– Teknologi drone kini menjadi alat bantu baru dalam upaya pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) padi di Kabupaten Kuningan. Brigade Proteksi Tanaman Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan mengaplikasikan teknologi tersebut dalam pelaksanaan Gerakan Pengendalian (Gerdal) OPT pada areal milik Kelompok Tani Sri Dewi 3 di Desa Windujanten, Kecamatan Kadugede, Selasa (3/2/2026).
Kegiatan di Windujanten difokuskan untuk mengatasi serangan Bacterial Leaf Blight (BLB/Kresek) pada lahan seluas 10 hektare. Pelaksanaannya melibatkan tim Brigade Proteksi Tanaman bersama Petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (POPT), dengan didampingi langsung Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah.
Menurut Wahyu, penggunaan drone membawa manfaat signifikan dalam hal efektivitas dan efisiensi biaya. “Biaya per hektare dengan drone hanya sekitar Rp250.000, jauh lebih ekonomis dibandingkan metode manual yang bisa mencapai Rp350.000 hingga Rp700.000, tergantung kondisi lahan dan kebutuhan tenaga kerja,” jelasnya. Selain itu, penyemprotan dengan drone juga lebih cepat dan merata, menjadikannya solusi ideal untuk lahan luas yang membutuhkan penanganan segera.
Tak hanya mengawasi pelaksanaan teknis, Wahyu juga berkomunikasi langsung dengan para petani untuk memperkuat pemahaman tentang Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Ia menekankan bahwa pengendalian OPT tidak hanya bergantung pada penyemprotan, melainkan harus diawali dengan pemantauan rutin dan penerapan praktik budidaya yang tepat. “Penggunaan pestisida harus berdasarkan rekomendasi agar tidak menimbulkan resistensi atau merusak ekosistem pertanian,” tambahnya.
Selain lokasi Windujanten, pada hari yang sama juga dilakukan empat kegiatan Gerdal OPT lainnya di berbagai kecamatan dengan fokus pada jenis OPT yang berbeda:
– Serangan Wereng Batang Cokelat (WBC) seluas 10 hektare di Poktan Muda Mandiri, Desa Bangunjaya, Kecamatan Subang.
– Serangan tikus seluas 10 hektare di Poktan Mulya Tani, Desa Cikubangmulya, Kecamatan Ciawigebang.
– Serangan BLB/Blas seluas 5 hektare di Poktan Tani Mukti, Desa Babakanmulya, Kecamatan Cigugur.
– Serangan BLB seluas 10 hektare di Poktan Mekar Saluyu, Desa Bungur Beres, Kecamatan Cilebak.
Wahyu menjelaskan bahwa seluruh kegiatan merupakan tanggapan cepat atas laporan dari petani, sekaligus bentuk peran aktif pemerintah dalam menjaga produktivitas tanaman padi. “Setiap laporan harus ditindaklanjuti segera karena penundaan bisa berisiko menurunkan hasil panen. Oleh karena itu, pendekatan yang kami gunakan disesuaikan dengan kondisi lokasi dan jenis OPT yang menyerang,” ucapnya.
Diskatan Kabupaten Kuningan akan terus melakukan pemantauan pasca-gerdal melalui POPT di lapangan untuk mengevaluasi efektivitas pengendalian dan mencegah serangan kembali, sebagai bagian dari komitmen dalam memperkuat ketahanan pangan daerah. (Abel)














