Bingkaiwarta, KUNINGAN – Perubahan cuaca yang bersifat anomali dan berubah sangat drastis, dari panas terik tiba-tiba menjadi hujan disertai udara dingin, belakangan ini menjadi perhatian serius. Menyikapi kondisi tersebut, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Kuningan mengimbau masyarakat untuk segera memperkuat sistem imun guna menangkal berbagai penyakit yang kerap muncul di musim peralihan (pancaroba).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kuningan, dr. Edi Martono, menyoroti bahwa fluktuasi suhu yang ekstrem merupakan beban berat bagi tubuh. Tubuh manusia dipaksa bekerja ekstra keras untuk terus beradaptasi dengan perubahan lingkungan yang terjadi secara tiba-tiba.
“Perubahan cuaca yang ekstrem, dari panas mendadak jadi dingin atau sebaliknya, memang seringkali melemahkan daya tahan tubuh. Tubuh butuh waktu dan energi untuk menyesuaikan diri,” ujar dr. Edi, Kamis (30/4/2026).
Berdasarkan data dan tren dari tahun-tahun sebelumnya, penyakit yang paling rentan menyerang saat kondisi cuaca seperti ini adalah gangguan pada saluran pernapasan. Keluhan utama yang paling sering ditemukan di fasilitas kesehatan adalah batuk dan pilek.
“Yang paling banyak dikeluhkan masyarakat saat ini tentu batuk dan pilek. Ini berkaitan erat dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dipicu perubahan suhu,” jelasnya.
Meskipun sering dianggap penyakit ringan, dr. Edi memberikan peringatan keras agar masyarakat tidak meremehkan gejala apa pun yang muncul. Jika dibiarkan tanpa penanganan yang tepat, kondisi sederhana pun bisa berubah menjadi penyakit serius.
“Jangan pernah meremehkan sakit sekecil apa pun. Semua penyakit bisa menjadi berbahaya jika tidak segera diobati. Tingkat keparahannya sangat bergantung pada seberapa cepat kita merespons dan kondisi kesehatan masing-masing individu,” tegasnya.
Lantas, bagaimana cara efektif membentengi diri dari serangan penyakit di musim pancaroba ini? Menurut dr. Edi, kuncinya terletak pada kedisiplinan menerapkan pola hidup sehat.
“Pertama, pastikan waktu istirahat cukup, idealnya 6 hingga 8 jam per malam, dan hindari begadang. Kedua, atur pola makan dengan baik, teratur, dan sesuai kebutuhan kalori, jangan berlebihan,” saran dr. Edi.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjaga jadwal makan agar tidak telat. Ketidakaturan makan di tengah cuaca yang tidak menentu rentan memicu gangguan kesehatan lain, seperti masalah asam lambung, karena produksi asam di dalam tubuh tetap berjalan secara alami.
Sebagai perlindungan tambahan, Dinkes juga mendorong masyarakat untuk tetap aktif berolahraga, menjaga kebersihan lingkungan sekitar, serta mengonsumsi vitamin atau suplemen penambah daya tahan tubuh jika dirasa perlu. (Abel)













