Bingkaiwarta, KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperkuat ketahanan pangan dari tingkat yang paling dasar: rumah tangga. Setelah dua tahun sukses menggerakkan program TAMAN MASAGI, pada tahun 2026 inisiatif tersebut berkembang lebih luas menjadi TATAPAKAN JATI — Tanam Tanah Pekarangan, Jaga dan Tekan Inflasi.
Pengembangan ini ditandai dengan penyerahan benih dan sarana produksi pertanian kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) penerima manfaat Tahun Anggaran 2026, yang berlangsung di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan pada Kamis (1/10/2026). Tahun ini, gerakan menjangkau 92 kelompok di 92 lokasi dengan enam jenis komoditas unggulan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, M.Si., menjelaskan bahwa perubahan nama bukan sekadar seremonial, melainkan perluasan makna dan jangkauan.
“TAMAN MASAGI kita mulai dari halaman rumah. Sekarang kita perluas menjadi TATAPAKAN JATI karena yang ingin kita optimalkan bukan hanya halaman, tetapi seluruh tanah pekarangan yang masih bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan pangan,” ujar Wahyu.
Ia menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak harus selalu dimulai dari lahan pertanian yang luas. Ruang terbatas di sekitar rumah pun dapat menjadi sumber pangan keluarga yang berkelanjutan.
“Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Bisa dimulai dari ruang yang kita miliki di sekitar rumah dan dikelola secara produktif,” katanya.
Wahyu menekankan bahwa keberhasilan program tidak diukur dari seberapa banyak bantuan yang disalurkan, melainkan dari perubahan yang terjadi di lapangan. Bantuan benih dan sarana produksi hanyalah titik awal, bukan titik akhir.
“Ukuran keberhasilannya bukan berapa bantuan yang kita berikan, tetapi apakah pekarangan menjadi produktif, tanaman menghasilkan, pangan dimanfaatkan keluarga, terjadi perubahan perilaku, dan ada kontribusi terhadap ketahanan pangan serta pengendalian inflasi,” tegasnya.
Oleh karena itu, penyuluh pertanian akan terus melakukan pendampingan teknis di lapangan, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pemanfaatan hasil panen.
Sementara itu, Ketua TP PKK Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Helayati, S.Sos., mengajak seluruh Kelompok Wanita Tani untuk tidak berhenti sekadar sebagai penerima bantuan, tetapi menjadi penggerak di lingkungannya masing-masing.
“Kita tidak harus menunggu memiliki lahan yang luas untuk mulai menghasilkan pangan. Pekarangan yang sederhana dapat ditanami cabai, tomat, sayuran, tanaman obat maupun komoditas lainnya,” ujar Ela.
Lebih dari sekadar produksi pangan, program ini juga mendorong penerapan pola pangan beragam, bergizi seimbang, dan aman (B2SA). Hasil pekarangan diharapkan langsung masuk ke meja makan keluarga, meningkatkan asupan gizi sekaligus menekan pengeluaran rumah tangga.
“Kita tidak hanya berbicara tentang menanam. Kita sedang membangun pola hidup yang lebih sehat, keluarga yang lebih mandiri, dan lingkungan yang lebih produktif,” tambahnya.
TATAPAKAN JATI memiliki visi yang sederhana namun berdampak besar: satu tanaman yang tumbuh di pekarangan memiliki rantai manfaat yang panjang — dari tanah menjadi pangan, dari pangan menjadi gizi, dan dari gizi menjadi kesehatan keluarga.
Pemerintah Kabupaten Kuningan berharap sinergi antara pemerintah desa dan kelurahan, penyuluh pertanian, TP PKK, KWT, dan masyarakat dapat terus diperkuat, sehingga pemanfaatan pekarangan bukan lagi sekadar program, melainkan budaya hidup sehat dan mandiri pangan di tengah masyarakat. *** (Abel)
Dari halaman menjadi pekarangan.
Dari pekarangan menjadi pangan.
Dari keluarga menjadi kekuatan.













