Bingkaiwarta, DARMA — Membekali generasi muda agar cerdas dan bijak di ruang digital, Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Kuningan menggelar kegiatan edukasi literasi digital bagi siswa Kelas VIII MTs Negeri 5 Kuningan, Kamis (8/10/2026) di Balai Desa Darma. Mengusung tema “Game Online vs Judol: Kenali Perbedaannya, Pilih Masa Depanmu”, kegiatan ini mengajak pelajar memahami manfaat sekaligus risiko yang ada di dunia maya.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Publik (IKP) Diskominfo Kabupaten Kuningan, Nana Suhendra, M.Pd., yang hadir sebagai narasumber menjelaskan bahwa kemudahan yang ditawarkan teknologi harus diiringi kemampuan untuk menyaring dan mengendalikannya.
“Perkembangan teknologi ini membuat kita mendapatkan kemudahan. Tapi di balik kemudahan, kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, akan menjadi sebuah jeratan,” ujar Nana.
Ia menegaskan bahwa teknologi itu sendiri tidak jahat, namun ketidaktahuan dan ketidakwaspadaan dapat menjeratkan seseorang ke dalam masalah. “Tidak ada orang yang jahat, yang ada itu orang yang terjerat. Ketika orang itu terjerat, orang itu akan menjadi jahat, salah satunya terjerat Judol dan Pinjol Ilegal. Jadi berhati-hatilah ini adalah candu yang akan menggiring rentetan kejahatan,” ungkapnya.
Dalam sesi interaktif, Nana menjelaskan bahwa game online pada dasarnya sah-sah saja sebagai sarana hiburan, asalkan tidak berlebihan. Namun, ia memperingatkan agar siswa tidak sekalipun mendekati judi online. “Kalau game online itu sewajarnya. Tapi kalau untuk judi online kami tidak merekomendasikan sama sekali. Jangan sekali-kali mendekati karena itu adalah jeratan,” tegasnya.
Ia juga memaparkan data bahwa pemerintah telah menutup sekitar 3,1 juta situs dan konten terkait judi online sejak Oktober 2024 hingga Juli 2026. Judol kerap memicu masalah beruntun — ketika kalah, orang tergoda mencari pinjaman untuk menutup kerugian, sehingga terjebak dalam lingkaran pinjol yang semakin menjerat.
Sesi diskusi pun menghadirkan pengalaman berharga dari para siswa. Fikri, salah seorang siswa, berani berbagi refleksinya soal perundungan. Ia mengaku pernah berada di dua sisi — pernah menjadi korban sekaligus pernah ikut membully teman.
“Saya selaku yang pernah membully dan dibully,” ungkap Fikri. Dari pengalaman itu, ia menyadari bahwa ada cara yang lebih baik daripada menyakiti orang lain. “Berpikir sebelum bertindak, dan jangan bertindak sebelum berpikir,” pesannya yang disambut hening dan tepuk tangan teman-temannya.
Sementara itu, Aura mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan saat bermain game. “Bisa untuk refreshing ketika sudah lelah dengan belajar, tapi harus tahu waktu — untuk salat, membantu orang tua, dan kegiatan bermanfaat lainnya,” katanya.
Nana juga mengingatkan siswa agar berhati-hati membagikan data pribadi di internet, serta tidak mengucilkan teman yang sedang bermasalah. “Ketika ada teman yang curhat, mohon untuk didengarkan. Kita juga belajar untuk saling menghargai dan mendengarkan, bukan berarti mengasingkan,” tuturnya.
Kepala MTsN 5 Kuningan, H. Sueb, S.Ag., M.Pd.I., menyambut baik kegiatan ini. Ia menyebutkan sekitar 60–70 persen siswanya masih memerlukan bimbingan agar tidak tersesat dalam pemanfaatan teknologi digital. “HP atau dunia digital saat ini banyak sekali manfaatnya. Tapi potensi untuk dimanfaatkan ke arah yang negatif juga besar,” ujarnya.
Kegiatan ditutup dengan pesan mendalam: teknologi adalah alat, bukan pengendali. Game boleh dimainkan, judi harus dijauhi, pinjol bukan solusi, dan kebaikan adalah pilihan yang selalu lebih baik daripada menyakiti sesama. (Abel)













