banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Kelaparan, Bencana Sistematis

Oleh : Nengani Sholihah
Aktivis Muslimah

Manusia terlahir dengan potensi yang diberikan oleh Pencipta. Potensi ini tentunya diberikan sebagai modal untuk menjalani kehidupan di dunia, sebagai bekal untuk hidup di kehidupan yang kekal. Namun, potensi ini merupakan sebuah persoalan yang harus dipecahkan dengan benar. Oleh karena itu, Allah Maha Pencipta memberikan peraturan untuk menyelesaikam persoalan tersebut. Potensi tersebut salah satunya adalah pemenuhan kebutuhan jasmani, seperti makan, minum, tidur, dan lain-lain.

banner 728x250

Pemenuhan kebutuhan jasmani haruslah terpenuhi. Jika tidak, seseorang akan mengalami kondisi yang mengkhawatirkan, mulai dari kelaparan, kekurangan gizi, sampai pada kematian. Sayangnya meskipun dunia ini penuh dengan bahan makanan yang bisa diolah dan dimakan, namun nyatanya dunia mengalami kelaparan akut dan ancaman kelaparan yang meningkat. Berdasarkan laporan PBB kelaparan meningkat 24 juta pada tahun 2023 dari tahun sebelumnya. Sehingga kelaparan menyentuh angka 282 juta di 59 negara. (cnnindonesia.com, 4/5/2024)

Ada banyak faktor yang menyebabkan kelaparan melanda di berbagai negara. Misalnya saja ketidaknyamanan akibat koflik (perang) merupakan salah satu penyumbang terbesar. Bagimana tidak, infrastruktur yang merupakan akses untuk menyalurkan makanan hancur. Lahan yang merupakan tempat untuk menanam pun tidak ada lagi. Sehingga makanan sulit untuk didapat bahkan ditemukan. Kemudian rumah yang sejatinya menjadi tempat tinggal pun hancur tidak bersisa. Akibatnya memaksa penduduk untuk mengungsi ke tempat yang lebih aman dan memiliki sumber makanan.

Hal ini tidak tercipta begitu saja. Namun ada dalang dibalik konflik yang terus dipelihara. Bisa kita lihat dengan mata kepala dan mendengar dengan telinga kita tentang penderitaan rakyat di wilayah konflik. Kekurangan bahan makanan yang mereka alami. Bahkan sampai mengalami kelaparan serta ketidaknyamanan yang dirasakan oleh seluruh masyarakat, adalah akibat dari konflik yang dipelihara tanpa ada satu pun negara di dunia yang bisa membantu untuk menyelesaikan dengan tuntas. Dari jumlah rakyat yang mengalami kelaparan, sekitar 60% nya berada di negri-negeri konflik. (wfpusa.org, 2024)

Kemudian faktor lain penyebab kelaparan adalah cuaca ekstrem yang menyebabkan lahan pertanian, peternakan, dan tanaman hancur. Tidak hanya itu tingkat produktivitas lahan pun menurun akibat banjir, badai, topan, dan lainnya. Sehingga menyebabkan penduduk harus mengungsi dan tidak memiliki sumber makanan yang tetap.

Perubahan iklim terjadi semata-mata bukan karena faktor alam, namun para ilmuan menyatakan bahwa aktivitas manusia lah yang menyebabkan iklim berubah dengan begitu cepat. Misalnya saja pembakaran energi, barang manufaktur dan industri, menebang hutan, menggunakan transportasi, serta konsumsi berlebihan yang menimbulkan banyak sampah. Semua aktivitas itu menyebabkan pemanasan global dan perubahan iklim yang ekstrem. Karena pengolahan yang kurang tepat sehingga lingkungan tidak terjaga dengan baik dan benar.

Akar Permasalahan

Sejatinya permasalahan kelaparan dengan berbagai faktor yang menyababkannya merupakan akibat dari salahnya menerapkan sebuah sistem kehidupan. Bagaimana tidak, sebagai yang menciptakan manusia dan seluruh alam juga kehidupan, Allah Swt. telah memberikan panduan kepada manusia untuk menjalani kehidupan dengan baik dan benar. Namun manusia dengan sombongnya enggan menjalankan peraturan tersebut. Mereka merasa bahwa kehidupan dunia hanya bisa diatur oleh aturan manusia belaka. Akhirnya manusia dengan segala keterbatasannya berusaha menciptakan sebuah sistem kehidupan.

Kapitalisme yang digadang-gadang mampu memberikan kesejahteraan hidup pada manusia, nyatanya hanya memberikan keniscayaan akan kesejahteraan tersebut. Bagaimana tidak, dengan alasan kesejahteraan, para penganut kapitalisme berusaha menguasai sumber daya alam dengan penjajahan gaya baru.

Dalam kapitalisme, pertumbuhan ekonomi suatu negara dilihat dari industri, sarana, dan prasarana yang menunjang. Karena fokus ekonomi kapitalisme hanya ada pada produksi. Untuk menopang hal tersebut, negara yang ingin maju atau berkembang akan jor-joran dalam pembangunannya. Dana yang dihabiskannya pun tidaklah sedikit. Negara akan mengambil dana dari APBN maupun APBD. Namun, ketika dana itu kurang dan memang selalu kurang, negara akan membuka pintu seluas-luasnya pada utang dan ivestasi. Kehadiran para investor bagi negara-negara seperti ini bagaikan angin segar yang menyejukkan. Karena bisa mendorong pertumbuhan ekonomi, penyerapan tenaga kerja, dan akhirnya kesejahteraan akan dirasakan. Benarkah demikian?

Padahal dari sini lah penjajahan gaya baru dimulai. Utang dan investasi harus dikembalikan kepada investor dengan keuntungan yang sudah ditambahkan. Jika tidak mampu membayar utang dengan bunganya yang telah jatuh tempo maka debitor akan mengambil aset yang dimiliki oleh negara. Akhirnya aset negara dijual untuk di-swastanisasi. Alhasil produk yang dihasilkan dibayar dengan mahal.

Sementara itu, harapan penyerapan tenaga kerja pun tidak terealisasi sempurna. Jika pun ada tenaga kerja, upah yang dibayarkan amatlah murah. Karena para investor fokus pada benefit yang diperoleh dari penanaman modal. Tidak mengurusi urusan rakyat negara tersebut. Bagi mereka berinvestasi adalah meraih keuntungan. Jika terjadi kelaparan, kemiskinan, angka pengangguran meningkat bukanlah tanggung jawabnya. Selain itu, negara pun hanya menjadi regulator dari investor. Maka mau tidak mau rakyat dipaksa berjuang sendiri untuk memenuhi kebutuhan jasmaninya. Akibatnya kesenjangan tidak bisa dibendung. Yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin. Kesejahteraan yang diharapkan pun tidak terlealisasi.

Islam Mengatasi Masalah Tanpa Masalah

Sejatinya rakyat tidak akan pernah terselamatkan dari bencana kelaparan selama sistem yang diterapkan adalah sistem yang merusak. Karena bencana kelaparan adalah masalah sistematis. Maka penyelesaiannya pun dengan sebuah sistem juga. Langkah utama adalah mengganti dan mencampakkan sistem kapitalis. Terapkanlah sistem Islam karena inilah satu-satunya institusi yang mampu membawa kesejahteraan pada rakyatnya.

Dalam sistem ekonomi Islam, negara akan menerapkannya dengan beberapa mekanisme.

Pertama, negara akan menjauhkan jeratan riba dari segala kegiatan perekonomian. Baik yang dilakukan oleh individu maupun negara itu sendiri. Karena riba akan mengantarkan pada kehancuran yang nyata.

Kedua, negara akan memenuhi kebutuhan pokok massal, seperti pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Sehingga alokasi pendapatan keluarga hanya akan memenuhi kebutuhan individu saja.

Ketiga, dalam kondisi tertentu negara akan memberi nafkah kepada individu rakyatnya dan tidak mewajibkan perempuan untuk bekerja. Sehingga kebutuhan hidup individu per individu akan terpenuhi.

Keempat, negara akan mengelola sumber daya alam secara adil. Konsep kepemilikan Islam menjadikan pengelolaan sumber daya alam untuk menjadi sumber pemasukan negara. Alokasi pemasukan diperuntukan layanan publik berkualitas dan gratis. Kemudian penguasaan sumber daya alam menjamin terbuka luas lapangan pekerjaan serta dengan gaji yang besar. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan rakyat. Maka kepemilikan dalam Islam diatur dengan baik dan dibagi menjadi kepemilikan individu, negara, dan umum.

Kepemimpinan dalam Islam diibaratkan seperti pengembala kambing. Kepemimpinan adalah sebuah amanah yang diberikan untuk mengurusi semua urusan rakyatnya per individu. Bukanlah amanah yang diberikan untuk memuaskan para kapitalis yang mementingkan urusannya sendiri. Pemimpin dipilih untuk menjamin kesejahteraan rakyat dan mejaga agar tidak keluar dari wilayah pengembalaannya.

Kelaparan yang melanda dunia saat ini adalah akibat dari salahnya menerapkan sistem dalam kehidupan serta dipimpin oleh pemimpin yang tidak amanah. Maka masih betahkah dengan kapitalisme?

Wallahualam bishshawab


banner 336x280

Tinggalkan Balasan