Bingkaiwarta, KUNINGAN – Ketua Lembaga Koordinasi Kesejahteraan Sosial (LKKS) Kabupaten Kuningan, Hj. Ela Helayati, atau akrab disapa Bunda EL, membagikan tujuh prinsip dasar keterampilan mengasuh anak kepada para orang tua dalam acara perpisahan Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 38 Kuningan, Sabtu (20/6/2026).
Di hadapan orang tua murid dan guru, Bunda EL menegaskan bahwa setiap anak terlahir memiliki karakter, bakat, kelebihan, dan kekurangan yang berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, orang tua tidak boleh menyamaratakan pola pendidikan bagi setiap anak.
“Tugas kita bukan membuat semua anak menjadi sama, melainkan membantu mereka tumbuh menjadi pribadi terbaik sesuai potensi yang dimilikinya,” ujarnya.
Berdasarkan pengalaman membesarkan ketiga anaknya, Bunda EL menguraikan tujuh prinsip dasar pengasuhan:
✅ Hadir secara utuh – Berikan perhatian tulus, dengarkan, pahami, dan hargai cerita anak, bukan sekadar ada di sampingnya.
✅ Padukan kasih sayang dan ketegasan – Menyayangi tidak harus menuruti semua keinginan; mendisiplinkan pun tidak perlu dengan kemarahan.
✅ Jadilah teladan – Anak lebih banyak meniru apa yang dilihat, mulai dari sikap jujur, sopan santun, hingga kebiasaan beribadah.
✅ Tanamkan tanggung jawab dan kemandirian – Biasakan anak melakukan hal sederhana sendiri sejak dini.
✅ Dukung pendidikan sepenuh hati – Keterbatasan latar belakang pendidikan orang tua bukan alasan untuk kurang memperhatikan proses belajar anak.
✅ Bentuk rasa syukur dan mental pantang menyerah – “Boleh sederhana, tapi kaya semangat dan kerja keras; jangan batasi cita-cita hanya karena keterbatasan,” pesannya.
✅ Seimbangkan ikhtiar dan doa – Usaha mendampingi anak dibarengi dengan permohonan tulus kepada Tuhan demi masa depan terbaik mereka.
Di akhir arahannya, Bunda EL mengimbau orang tua memanfaatkan masa libur sekolah untuk mempererat ikatan keluarga. Ia mengajak agar waktu luang anak tidak hanya dihabiskan dengan gawai, melainkan diisi dengan kegiatan positif seperti salat berjamaah, membantu pekerjaan rumah, dan berbincang mengenai cita-cita.
“Pendidikan sejati tidak hanya berlangsung di sekolah, tetapi juga dibangun dengan kuat di dalam lingkungan keluarga,” pungkasnya. (Abel)













