Bingkaiwarta, LURAGUNG — Cuaca ekstrem berupa angin kencang disertai hujan lebat yang melanda Desa Luragunglandeuh dan sekitarnya pada Senin (2/11/2026) sekitar pukul 14.30 WIB menyebabkan kerusakan di SMP Negeri 1 Luragung. Sebanyak 14 ruangan di sekolah tersebut terdampak, sehingga mengganggu kenyamanan serta keamanan proses pembelajaran.
Berdasarkan laporan pihak sekolah, terpaan angin dan curah hujan tinggi merusak sejumlah bagian atap, membuat beberapa plafon runtuh, serta menyebabkan air hujan masuk ke ruangan dan menimbulkan genangan. Dari 14 ruangan yang terdampak, terdapat 13 ruang kelas dan satu laboratorium komputer.
Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi di Ruang Kelas 7.1 dan 8.1 yang mengalami keruntuhan plafon disertai banjir. Sementara itu, Ruang Kelas 7.2, 7.3, 7.9, 7.10, 7.11, 8.2, 8.3, dan 8.4 mengalami kebocoran atap serta genangan air. Ruang Kelas 9.6, 9.7, dan 9.8 dilaporkan mengalami pergeseran dinding dan kerusakan plafon. Kondisi rembesan atap dan genangan juga terjadi di laboratorium komputer.
Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kabupaten Kuningan Rizal Arif Gunawan menyampaikan bahwa SMPN 1 Luragung sebenarnya sudah tercatat dalam data program revitalisasi sekolah tahun 2026. Namun hingga saat ini belum ada panggilan untuk mengikuti bimbingan teknis.
“Untuk SMPN 1 Luragung memang sudah masuk data revitalisasi tahun ini. Tetapi sampai sekarang belum ada panggilan bimtek,” ungkap Rizal saat di konfirmasi, Selasa (3/11/2026).
Sementara itu, Kepala SMPN 1 Luragung Drs. Dadang Sutisna, M.Pd., telah menyampaikan laporan resmi kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kuningan. Pihak sekolah memohon agar segera dilakukan peninjauan, pendataan, serta bantuan penanganan dan perbaikan terhadap bangunan yang terdampak.
Pihak sekolah berharap pemerintah daerah dan instansi terkait bergerak cepat agar ruang belajar yang rusak dapat kembali aman digunakan. Hal ini penting mengingat peserta didik berhak memperoleh pendidikan di lingkungan yang layak dan bebas dari risiko bahaya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa cuaca ekstrem dapat mengancam sarana pendidikan. Oleh karena itu, penanganan pascabencana, pemeliharaan bangunan, serta percepatan program revitalisasi menjadi hal yang perlu diperhatikan secara serius demi keselamatan warga sekolah. (Abel)













