Bingkaiwarta, CIREBON – Pemerintah Kota Cirebon resmi memiliki jajaran direksi definitif Perumda Air Minum Tirta Giri Nata. Direksi baru tersebut langsung dihadapkan pada sejumlah pekerjaan rumah besar, mulai dari memperluas cakupan layanan hingga memastikan distribusi air bersih dapat dinikmati masyarakat selama 24 jam.
Wali Kota Cirebon Effendi Edo mengatakan, proses penetapan hingga pelantikan direksi definitif telah melalui tahapan yang cukup panjang.
Ia berharap jajaran direksi yang baru dapat bekerja lebih cepat, inovatif, serta mampu meningkatkan kualitas pelayanan air bersih bagi masyarakat Kota Cirebon.
“Alhamdulillah hari ini Kota Cirebon sudah ada direksi PDAM yang definitif. Mudah-mudahan direksi yang baru ini bisa semangat, berinovasi untuk bekerja memberikan pelayanan yang baik terhadap kebutuhan air bersih Kota Cirebon,” ujar Effendi Edo.
Menurutnya, persoalan yang diwariskan dari periode sebelumnya harus segera diselesaikan tanpa menciptakan persoalan baru.
Ia meminta direksi baru melakukan inovasi dan akselerasi agar berbagai persoalan pelayanan air bersih dapat ditangani secara bertahap.
“Persoalan-persoalan masa lalu kita harus cepat selesaikan, tapi tidak membuat persoalan baru. Artinya inovasi dan akselerasi untuk percepatan itu kita lakukan,” tegasnya.
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian Pemkot Cirebon adalah masih adanya wilayah yang belum mendapatkan pasokan air secara penuh selama 24 jam.
Effendi mengatakan, kondisi tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang harus diselesaikan direksi baru.
“Ini salah satunya nanti yang kita selesaikan. Inovasi-inovasi yang sudah terdahulu itu harus diselesaikan,” katanya.
Untuk memastikan kinerja direksi berjalan sesuai target, Effendi menegaskan evaluasi akan dilakukan secara rutin.
“Setiap bulan kita evaluasi,” ujarnya.
40-50 Persen Warga Belum Terlayani
Sementara itu, Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Giri Nata Kota Cirebon, Andri Satria, mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan selama masa kepemimpinannya.
Berdasarkan data yang disampaikannya, jumlah pelanggan Perumda Air Minum Tirta Giri Nata saat ini berada di kisaran 57.000 pelanggan.
Jika satu pelanggan diasumsikan terdiri dari sekitar tiga orang, maka jumlah masyarakat yang telah mendapatkan layanan diperkirakan mencapai 150.000 hingga 160.000 jiwa.
Namun, Andri menyebut cakupan pelayanan saat ini masih belum mampu menjangkau seluruh masyarakat Kota Cirebon.
“Kurang lebih sekarang masih ada sekitar 40 sampai 50 persen lagi yang belum kita layani di Kota Cirebon. Itu menjadi target yang diberikan oleh Bapak Wali Kota untuk diselesaikan,” kata Andri.
Target tersebut menjadi tantangan besar bagi jajaran direksi baru, terlebih masa jabatan direksi berlangsung selama lima tahun.
Andri mengatakan pihaknya akan berupaya menyelesaikan persoalan pelayanan secara bertahap dalam periode tersebut.
“Masih cukup banyak masyarakat Kota Cirebon yang belum mendapatkan akses air bersih. Masih cukup banyak masyarakat Kota Cirebon yang belum terlayani secara 24 jam. Itu menjadi target kita untuk kita selesaikan secara perlahan-lahan, satu per satu dalam lima tahun ke depan,” ujarnya.
Kehilangan Air Jadi Salah Satu Persoalan
Andri mengungkapkan, dari pemetaan awal yang dilakukan, terdapat sejumlah persoalan utama yang perlu segera ditangani.
Di antaranya tingkat kehilangan air yang masih cukup tinggi, cakupan pelayanan yang belum luas, serta kontinuitas distribusi air yang belum berlangsung selama 24 jam di sejumlah wilayah.
“Kita mempunyai permasalahan dari sisi kehilangan air yang cukup tinggi. Yang kedua, cakupan layanan masih kecil. Yang ketiga, kontinuitas, bahwa masih cukup banyak daerah yang belum mendapat layanan secara 24 jam,” jelasnya.
Persoalan kebocoran atau kehilangan air juga menjadi salah satu target utama yang akan ditekan.
Menurut Andri, pengurangan kehilangan air nantinya dapat memberikan tambahan kapasitas yang bisa dimanfaatkan untuk memperluas pelayanan kepada masyarakat.
“Itu menjadi salah satu target kita untuk kita kurangi, sehingga nanti selisih air yang bisa kita dapatkan akan kita gunakan untuk mendapatkan perluasan pelayanan kepada masyarakat yang belum terlayani,” katanya.
Konsolidasi Internal Jadi Langkah Awal
Untuk tahap awal, Andri mengatakan jajaran direksi akan melakukan konsolidasi internal selama satu bulan ke depan.
Konsolidasi tersebut dilakukan untuk memetakan kembali berbagai persoalan utama yang dihadapi perusahaan, sekaligus mengumpulkan data sebagai dasar penyusunan langkah strategis.
“Yang pertama, yang pasti dalam satu bulan ke depan kita akan melakukan konsolidasi di internal, pemetaan kembali permasalahan-permasalahan utama,” ujarnya.
Langkah tersebut juga bertepatan dengan proses penyusunan Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) yang akan berlangsung dalam tiga hingga empat bulan ke depan.
Menurut Andri, RKAP akan menjadi salah satu instrumen penting untuk menentukan program dan langkah yang akan dijalankan perusahaan pada tahun mendatang.
“Periode tiga sampai empat bulan ke depan adalah periode proses pembuatan RKAP. Itu menjadi salah satu tolok ukur kita untuk merencanakan apa yang akan kita laksanakan di tahun depan,” pungkasnya. (ARL)













