banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Akar Masalah Tak Diatasi, Kerusuhan di Papua Terus Terjadi

Oleh : Ummu Aimar

Seorang prajurit TNI berinisial Serka IDW mengalami luka tembak oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) Papua, pimpinan Numbuk Telenggeng. Saat peristiwa terjadi, aparat TNI sedang melaksanakan patroli gabungan di Gereja Golgota Gome, Ilaga, Papua Tengah.

banner 728x250

“Bahwa benar telah terjadi penembakan oleh gerombolan KKB dari kelompok Gome Pimpinan Numbuk Telenggeng kepada Aparat Keamanan yang sedang melaksanakan Patroli Gabungan di sekita Gereja Golgota Gome di Ilaga pukul 09.00 WIT, mengakibatkan satu personel TNI atas nama Serka IDW mengalami luka tembak pada paha kanan,” kata Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Kaveleri Herman Taryaman dalam keterangannya (Minggu (13/11/2022
https://www.jawapos.com)

Tindakan teror di Papua layak disebut sebagai tindakan terorisme. Sebab, tindakan tersebut menimbulkan ketakutan dan mengganggu keamanan masyarakat. Karena menimbulkan kerusakan, kehilangan harta dan nyawa melayang.

Dengan itu, penyelesaian konflik Papua tak cukup hanya dengan dialog. Harus ada penyelesaian hukum secara tuntas terhadap oknum KKB pelaku teror dan pembantaian warga sipil dan aparat. Jika hal tersebut dibiarkan tanpa kepastian hukum yang jelas, tak hayal nyawa melayang semakin bertambah.

Diperlukan sikap tegas dan kebajikan yang tepat untuk mengakhiri konflik papua yang terus berkepanjangan ini.
Konflik Papua dapat diselesaikan menggunakan cara yang tersistematis, agar tumbuh kesadaran untuk integrasi. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang bersatu.

Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) adalah kelompok yang telah resmi dikategorikan sebagai teroris oleh Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) tahun 2021 lalu, yang dikenal dengan Organisasi Papua Merdeka (OPM) telah melakukan aksi teror selama puluhan tahun.

Kelompok  ini tiada henti terus melakukan terornya, seakan tak pernah hilang nyali. Terbukti berulang kali merusak fasilitas umum dan dengan brutalnya menghilangkan nyawa. Berlarut-larutnya keadaan ini seakan menunjukkan tiada ketegasan pemerintah dalam menumpas keberadaan kelompok ini.

Berbagai macam ancaman dan kekerasan yang dilakukan kelompok  secara biadab ini, tidak lepas dari upaya mereka untuk melepaskan Papua dari wilayah Indonesia. Mereka terus menciptakan teror, karena merasa adanya diskriminasi, ketidakadilan, dan jauhnya dari kesejahteraan.

Hingga saat ini juga tidak mampu ditumpas hingga padam. Persoalan ini tak pernah tuntas terselesaikan dan terus menjadi masalah utama yang mengancam nyawa baik warga sipil, petugas pelayanan publik, aparat keamanan, hingga pemuka agama.

Ketidakberdaulatannya negara ini telah menghilangkan wibawa pemerintah di kancah internasional.
Pemerintah juga gagal memenuhi kesejahteraan masyarakat. Tidak terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat Papua dengan baik, tidak adanya pendidikan dan kesehatan yang layak adalah salah satu pemicu utamanya.

Bahkan pembangunan berbagai macam infrastruktur tak dapat menjamin kesejahteraan mereka. Seharusnya pemerintah menyadari betul, bahwa pemenuhan kesejahteraan tidak bertumpu pada pembangunan berbagai macam infrastruktur-infrastrukturRakyat lebih butuh terpenuhinya kebutuhan dasar mereka, sandang pangan, dan papan, mereka ingin hidup layak, terpenuhi pendidikan dan kesehatan mereka.

Dan adanya ketidakadilan menyebabkan berbagai macam konflik telah menimpa masyarakat Papua. Mulai dari tragedi berdarah yang menghilangkan banyak nyawa yang belum tuntas dan masih menghantui warga Papua.

Belum lagi persoalan diskriminasi yang masih sering diterima masyarakat Papua. Bahkan, persoalan diskriminasi ini tiada henti terus dihembuskan oleh media internasional. Isu rasisme menjadi isu yang paling sering dimainkan untuk menyulut tuntutan disintegrasi. Inilah kebusukan korporat dunia dalam menebar propagandanya terhadap masyarakat Papua.

*Akar Persoalan

Berulangnya kerusuhan di Papua menjadi catatan kelam pemerintah yang dianggap menganaktirikan provinsi paling timur ini. Setidaknya terdapat tiga faktor yang memicu konflik di Papua, yaitu ketimpangan dan kesejahteraan, keamanan, dan keadilan. Sehingga negara dianggap gagal dalam menyelesaikan persoalan Papua. Inilah yang menjadi akar persoalannya.

Jelas faktor keamanan juga yang seperti setengah hati diselesaikan. Sering kali rakyat melihat justru kerusuhan ini seperti sengaja dipelihara untuk kepentingan kekuasaan dan ekonomi. Ini karena bukan suatu yang mustahil di demokrasi ini.

Belum lagi sikap pemerintah yang dianggap lembek terhadap KKB. Inilah bukti demokrasi telah nyata menyebabkan negara mandul dalam menyelesaikan permasalahan di Papua. Kesejahteraan, ketimpangan, ketidakamanan, dan ketidakadilan selalu menyelimuti kehidupan masyarakat Papua.

Dampak aksi teror KKB yang terus berulang memang menjadi bukti tak terbantahkan, bahwa negara tiada berdaya dalam menumpas kelompok teroris. Akhirnya negara gagal memberi rasa aman.
Sudah seharusnya negara mengerahkan kekuatan untuk menumpas mereka hingga ke akarnya. Menutup pintu terbukanya kembali peluang munculnya kelompok-kelompok teroris lainnya. Sehingga negara mampu menjalankan fungsinya sebagai pelindung warga negaranya.

Sesungguhnya pintu disintegrasi memiliki peluang besar terbuka lebar di dalam sistem kapitalisme saat ini. sistem ini dalam memberikan jaminan kesejahteraan yang merata akibat sistem ekonomi yang timpang, berbagai macam ketidakadilan yang dihadapi masyarakat Papua, serta ketidakmampuan negara berdaulat di hadapan kancah perpolitikan dunia.

Tidak ada pilihan lain, untuk menutup pintu munculnya kelompok-kelompok yang mengancam disintegrasi ini, negarap harus mampu menjalankan fungsinya.  Negara harus memberlakukan hukum yang adil dan menuntaskan segala konflik yang terjadi di Papua. Persoalan keadilan ini bukan hanya PR besar di tanah Papua, namun juga di seluruh Indonesia. Keadilan seakan sudah menjadi hal langka dalam sistem demokrasi-kapitalisme saat ini.

Dan yang utama dalam Islam adalah negara harus memiliki wibawa di hadapan dunia. Ini berarti negara harus berdaulat, harus mandiri dari segala macam bentuk intervensi asing.

Tidak ada jalan lain, jika Indonesia ingin terbebas dari kelompok teroris yang terus disintegrasi dan menciptakan teror di tengah masyarakat, strategi yang dapat diambil adalah dengan mencampakkan sistem demokrasi kapitalisme, dan menggantinya dengan sistem yang mampu menjalankan fungsi sebuah negara, meriayah urusan umat.
Sistem Islam dengan penerapan syariat Islam secara kaffah, adalah jawabannya. Telah terbukti selama berabad-abad lamanya mampu memimpin dunia.

Wallahu’alam…


banner 336x280

Tinggalkan Balasan