Bingkaiwarta, KUNINGAN — Pemerintah Kabupaten Kuningan terus memperluas pengembangan komoditas unggulan pertanian rakyat dengan menanam kelapa genjah di lahan seluas 550 hektare. Program ini dirancang sebagai investasi jangka panjang untuk membuka sumber pendapatan baru, menaikkan nilai ekonomi lahan, serta mendorong kesejahteraan petani di seluruh wilayah.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menyampaikan bahwa pengembangan kelapa genjah merupakan langkah strategis pemerintah daerah untuk mendiversifikasi mata pencaharian petani melalui komoditas perkebunan yang berpotensi memberi manfaat berkelanjutan.
“Kelapa genjah ini bukan sekadar program penanaman. Kita sedang menyiapkan sumber pendapatan baru bagi petani. Karena itu, saya menyebut kelapa genjah sebagai tabungan masa depan petani,” ujar Wahyu saat Sosialisasi Perluasan Kelapa Genjah di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, pada Rabu (9/9/2026).
Kelapa genjah memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan jenis kelapa lain: mulai berproduksi dalam usia 3–4 tahun setelah tanam serta memiliki perawakan pohon yang lebih pendek sehingga pemeliharaan dan pemanenan jauh lebih mudah dilakukan.
“Potensi kelapa genjah di Kuningan cukup besar. Kita ingin komoditas ini tidak hanya berkembang dari sisi luas tanam, tetapi juga menjadi sumber ekonomi yang memberikan manfaat nyata bagi petani,” imbuhnya.
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, menegaskan bahwa setiap langkah pembangunan pertanian pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan petani. Keberhasilan tidak diukur semata dari angka produksi yang naik, melainkan dari pendapatan dan kualitas hidup petani yang membaik.
“Orientasi utama pembangunan pertanian adalah kesejahteraan petani. Ketika petani kita sejahtera, ekonomi masyarakat bergerak, desa semakin kuat, dan pada akhirnya Kuningan melesat,” tegas Bupati Dian.
Pengembangan kelapa genjah menjadi salah satu jalan untuk memberi petani lebih banyak pilihan sumber penghasilan sekaligus mengoptimalkan lahan yang tersedia.
“Kita ingin petani memiliki lebih banyak pilihan sumber pendapatan. Kelapa genjah adalah salah satu investasi jangka panjang yang kita harapkan memberikan manfaat bagi petani dan keluarganya. Karena itu, program ini harus dikawal dari penanaman sampai menghasilkan,” katanya.
Pemerintah daerah juga memastikan pengembangan tidak berhenti di tahap penanaman, melainkan terus didorong hingga menjadi kegiatan ekonomi yang memberi nilai tambah nyata.
“Petani sejahtera adalah fondasi Kuningan yang kuat. Ketika petani sejahtera, ekonomi desa tumbuh, daya beli masyarakat meningkat, dan Kuningan melesat,” tandasnya.
Pengembangan kelapa genjah telah berjalan bertahap sejak 2025 dengan dukungan Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan. Tahun pertama dialokasikan seluas 350 hektare dengan 38.500 bibit dan 115.500 kilogram pupuk organik. Memasuki 2026, alokasi bertambah 200 hektare dengan 22.000 tanaman serta 66.000 kilogram pupuk organik.
Secara keseluruhan, Kuningan kini telah mengembangkan 550 hektare dengan sekitar 60.500 pohon kelapa genjah.
“Untuk tahun 2026, setiap hektare dialokasikan sekitar 110 tanaman kelapa genjah dan 330 kilogram pupuk organik. Ini bagian dari upaya memastikan pengembangan tidak hanya berorientasi pada luasan, tetapi juga didukung kebutuhan budidaya di lapangan,” jelas Wahyu.
Langkah ini sekaligus memperkokoh posisi kelapa sebagai komoditas unggulan daerah. Data tahun 2025 mencatat luas areal kelapa di Kuningan mencapai 4.007 hektare dengan produksi 3.588,41 ton. Angka ini menunjukkan bahwa kelapa telah memiliki akar yang kuat di tengah masyarakat petani.
Ke depannya, pemerintah tidak hanya mengandalkan penanaman, tetapi juga memperkuat kelembagaan petani, pendampingan budidaya, kemitraan usaha, pengolahan hasil, hingga pemasaran. Tujuannya membangun rantai nilai yang utuh agar petani tidak sekadar menjual bahan baku, melainkan turut menikmati keuntungan dari hasil olahan kelapa.
“Kelapa merupakan salah satu potensi perkebunan rakyat yang cukup penting di Kabupaten Kuningan. Ke depan, kita ingin produktivitasnya meningkat dan nilai tambahnya semakin besar sehingga manfaat ekonomi yang diterima petani juga semakin kuat,” ujar Wahyu.
Wahyu mengingatkan bahwa penanaman adalah awal, bukan akhir. Tantangan terbesar justru datang setelahnya: memastikan tanaman terawat hingga memasuki masa produktif. Ia mengajak kelompok tani memandang bantuan bibit dan pupuk sebagai titik awal membangun aset, bukan sekadar menerima bantuan.
“Saya hanya titip, setelah ditanam harus benar-benar dipelihara dan dirawat. Jangan sampai kita kuat di penanaman, tetapi lemah di pemeliharaan. Tanaman ini membutuhkan waktu untuk menghasilkan. Karena itu, kelapa genjah harus kita jaga bersama karena ini adalah tabungan masa depan petani,” pesannya.
“Ini bukan sekadar memperluas lahan. Kita sedang menanam harapan untuk masa depan. Kita membuka peluang pendapatan baru bagi petani, meningkatkan nilai ekonomi lahan, dan membangun fondasi pertanian yang lebih kuat,” tambahnya.
Pemkab Kuningan berkomitmen mendampingi pengembangan ini secara terintegrasi dari hulu ke hilir dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Tujuannya tetap satu: memastikan pertanian menjadi tumpuan kehidupan yang lebih baik bagi petani, sehingga ketika petani sejahtera, desa tumbuh, dan Kuningan melesat. (Abel)













