Bingkaiwarta, LEBAKWANGI – Upaya menjaga stabilitas produksi pangan pada musim tanam kemarau periode April–September 2026 terus diperkuat. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) Kabupaten Kuningan menggelar Gerakan Pengendalian (Gerdal) hama Penggerek Batang Padi (PBP) secara terpadu di Kelompok Tani (Poktan) Paguyuban II, Blok Kikisik, Desa Sindang, Kecamatan Lebakwangi, pada Selasa (21/04/2026).
Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan serentak nasional yang dilaksanakan secara hybrid, dengan titik pusat koordinasi wilayah Jawa Barat di Kabupaten Karawang. Di Kuningan, aksi nyata difokuskan pada areal seluas 20 hektare melalui penyemprotan langsung di lapangan.
Kepala Dispertan Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, hadir langsung memimpin kegiatan tersebut, didampingi oleh Kepala UPTD Brigade Proteksi Tanaman, aparat desa, petugas Pengamat Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), serta penyuluh pertanian.
Dalam keterangannya, Wahyu menegaskan bahwa pengendalian secara pre-emptif atau dini menjadi kunci utama dalam menjaga produktivitas, terutama saat fase persemaian yang sangat rentan, sekaligus menghadapi tantangan musim kemarau.
“Penggerek batang padi adalah hama strategis yang dampaknya bisa sangat signifikan jika tidak ditangani sejak awal. Larva masuk ke dalam batang dan merusak jaringan tanaman, menyebabkan gejala sundep pada fase vegetatif dan beluk pada fase generatif yang berujung pada kehilangan hasil,” jelasnya.
Wahyu menjelaskan, kondisi musim kemarau dengan suhu tinggi dan keterbatasan air justru mempercepat siklus hidup hama sekaligus menurunkan daya tahan tanaman. Oleh karena itu, strategi yang diterapkan harus mengintegrasikan pengendalian hama dan mitigasi kekeringan.
“Kita tidak bisa memisahkan masalah hama dan kekeringan. Tanaman yang stres kekurangan air akan lebih mudah diserang OPT. Karena itu, selain pengendalian hama, kami dorong pengaturan pola tanam, efisiensi irigasi, pemanfaatan embung, hingga budidaya hemat air,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran petani dalam deteksi dini. Pengendalian harus berbasis data lapangan dan didukung penggunaan varietas unggul yang adaptif terhadap kekeringan.
Selain aksi penyemprotan, kegiatan ini juga diisi dengan sosialisasi teknis dan dialog langsung dengan petani untuk menyerap aspirasi serta kebutuhan riil di lapangan.
Sebagai dukungan nyata, Dispertan juga menyalurkan bantuan sarana pengendalian berupa 20 botol insektisida jenis Vista 400 SL yang difokuskan untuk areal seluas 20 hektare tersebut.
Langkah ini menjadi bukti komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan dalam memperkuat sistem ketahanan pangan, memastikan produksi tetap aman dan optimal di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks. (Abel)













