banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

Hari Santri, Sekedar Romantisme Sejarah, Santri Pun Salah Arah

Oleh: Widdiya Permata Sari
(Komunitas Muslimah Perindu Syurga)

dibulan ini negeri baru saja memperingati hari santri Nasional yang di meriahkan bahkan di rayakan oleh para santri dari berbagai daerah, banyak sekaligus kegiatan yang dilakukan para santri untuk merayakan hari santri tersebut. Namun kegiatan tersebut sangatlah jauh dari kegiatan santri yang sesuai seperti yang diajarkan Rasulullah yaitu tentang jihad.

banner 728x250

Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (Wasekjen MUI), KH Arif Fahrudin, mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional (HSN) selalu diperingati setiap 22 Oktober dengan mengambil momentum lahirnya Resolusi Jihad yang difatwakan oleh Hadratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri sekaligus Rais Akbar Nahdlatul Ulama pada 22 Oktober 1945.

Kiai Arif menyampaikan, spirit Resolusi Jihad tersebut untuk menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan RI yang masih seumur jagung pasca proklamasi kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945. Kolonial Belanda waktu itu masih belum bisa rela atas kemerdekaan RI.(republika.co.id, 22/10/2022)

Padahal sudah jelas peringatan Hari Santri adalah bentuk penghargaan terhadap adanya seruan Jihad melawan penjajah. Namun sungguh ironis, saat ini peringatan hari santri justru bertentangan dengan karakter santri yang menjadi sebab penetapan hari santri. Bahkan para santri dibiarkan diam pada kondisi negeri ini yang masih terjajah.

Padahal harus disadari bahwa penjajahan gaya baru sedang mencengkram negeri ini dengan sangat kuat, seperti faktanya berbagai jenis UU dan kebijakan yang dikeluarkan penguasa hanya menguntungkan pemilik modal yakni kapitalis dan hanya menyengsarakan rakyat terutama orang yang beragama islam. Inilah fakta penerapan sistem kapitalis-sekuler.

Dari berbagai fakta tersebut maka seharusnya agenda utama para santri yaitu mengusir penjajahan dari negeri kaum muslimin dengan semangat jihad seperti yang diajarkan oleh rasulullah. Dan negara lah yang seharusnya mendorong para santri untuk menjadi pelaku perubahan di tengah penjajahan yang masih bercokol.

Namun alih-alih mengarahkan potensi para santri pada kebangkitan islam, negara justru membajak potensi mereka demi kepentingan ekonomi yang hanya menguntungkan para pemilik modal dan penguasa. Bahkan yang lebih miris ketika pembelajaran para santri diterapkannya kurikulum moderasi beragama yang menerapkan nilai-nilai barat.

Bagaimana mungkin santri akan memberikan kontribusi positif terhadap kebangkitan umat dan peradaban yang mulia jika santri justru dikebiri dalam mengamalkan islam?

Seharusnya para santri dibina dengan benar melalui pemikiran islam secara kaffah yang cemerlang. Karena santri sebagai calon ulama akhir zaman harus mendapat perhatian dan pencerahan agar paham masalah umat saat ini. Harapannya dari kalangan santri dan ulama akan lahir gelombang perubahan untuk menentang segala bentuk penjajahan yang diciptakan oleh sistem kapitalisme-sekuler berdasarkan tuntunan islam kaffah.

Karena para santri sejatinya adalah kaum muda harapan negeri. Sehingga santri adalah orang yang mendalami agama islam bahkan beribadah para santri sangatlah bersungguh-sungguh. artinya sudah jelas ketika peran para santri dikembangkan sebagaimana depinisinya maka sungguh benar potensi santri untuk membangkitkan umat.

Di sistem rusak saat ini sejatinya pemuda berideologi islam hanya mampu dicetek oleh kelompok dakwah berasaskan ideologi islam, kelompok yang mengharuskan perjuangan untuk membangkitkan kehidupan islam melalui gerakan penyadaran yang dikemas secara kreatif dan diiringi ideologi yang shahih.

Sebagaimana kelompok dakwah Rasulullah yang di bentuk di Makkah. Kelompok ini berhasil beliau bina dengan ideologi islam dan mampu tercetak pemuda-pemuda yang imannya kuat, amalnya tinggi dan siap berjuang demi kemuliaan Islam.


banner 336x280

Tinggalkan Balasan