banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
Berita  

Koran Bekas Menyusut, Pedagang di Cirebon Beralih ke Kertas Kiloan

 

Bingkaiwarta, CIREBON – Peralihan kebiasaan masyarakat dari membaca koran cetak ke media digital ternyata membawa dampak hingga ke pasar tradisional. Bagi sebagian pedagang kecil, koran bekas yang selama ini menjadi andalan untuk membungkus sayuran, bumbu dapur hingga jajanan kini semakin sulit ditemukan.

banner 728x250

Jika pada era 1990-an hingga 2000-an koran bekas mudah diperoleh, kondisi berbeda dirasakan dalam beberapa tahun terakhir. Menyusutnya peredaran media cetak membuat pasokan kertas bekas yang biasa dimanfaatkan pedagang ikut berkurang.
Dahulu, koran bekas banyak dijual oleh pengepul berdasarkan berat kilogram.

Kertas-kertas tersebut kemudian dibeli pedagang dengan harga murah untuk membungkus barang dagangan, termasuk makanan dan jajanan tradisional.
Kini, pedagang justru harus mencari alternatif agar tetap bisa menekan biaya operasional.

Suria, salah seorang pedagang jajanan tradisional yang biasa berjualan secara berkeliling, mengaku kesulitan mendapatkan koran bekas untuk membungkus dagangannya.

Kalaupun tersedia, koran yang ditawarkan kepadanya kebanyakan berasal dari luar negeri. Hal itu terlihat dari tulisan dan bahasa yang digunakan dalam pemberitaan di dalamnya.

“Biasanya ada yang lewat menawarkan koran bekas yang sudah digulung-gulung. Harganya Rp2.000 per gulung, sudah dapat banyak. Kalau dilihat dari tulisan beritanya pakai bahasa asing, bukan koran dari Indonesia,” ucapnya Sabtu (10/10/2026).

Biasanya, satu gulungan berisi sekitar 20 lembar koran bekas. Kertas tersebut kemudian dipotong sesuai ukuran yang dibutuhkan untuk membungkus dagangan.

Karena koran bekas semakin sulit didapat, Suria kini memilih membeli kertas campuran dari pengepul di Pasar Plered, Kabupaten Cirebon. Harganya sekitar Rp8.000 per kilogram, dengan isi beragam, mulai dari kertas fotokopi kartu keluarga (KK), ijazah, hingga lembar soal dan ujian.

“Biasa beli kiloan di Pasar Plered, sekilonya Rp8.000. Karena memang koran sudah tidak ada. Kalau beli kertas cokelat yang memang buat makanan itu mahal. Jadi beli yang kiloan buat bungkus kacang, biar murah,” tuturnya.

Bagi pedagang kecil, selisih harga bahan pembungkus menjadi pertimbangan penting. Penggunaan kertas bekas dinilai lebih terjangkau dibandingkan membeli kertas khusus kemasan makanan.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perubahan industri media turut memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat di tingkat bawah. Ketika informasi semakin mudah diakses melalui telepon genggam, kebutuhan terhadap koran cetak berkurang dan ketersediaan koran bekas ikut terdampak.

Di sisi lain, kenaikan biaya produksi dan bahan baku kertas juga menjadi tantangan bagi industri media cetak. Kondisi tersebut membuat keberadaan koran semakin berkurang di tengah masyarakat.

Bagi Suria dan pedagang kecil lainnya, perubahan itu bukan sekadar soal bergesernya cara orang membaca berita. Mereka juga harus mencari bahan pembungkus alternatif yang tetap murah agar usaha sehari-hari bisa terus berjalan.

Meski demikian, penggunaan kertas bekas untuk membungkus makanan perlu memperhatikan kebersihan dan keamanan bahan. Kertas bertinta, terlebih dokumen bekas yang memuat data pribadi, bukan pilihan ideal untuk kontak langsung dengan makanan. (ARL)


banner 336x280

Tinggalkan Balasan