banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

TV Analog Dilarang, Siapa yang Diuntungkan?

Oleh : Widdiya Permata Sari (Muslimah Perindu Surga)

Banyak skali berseliweran detik-detik video siaran tv analog dihentikan dan dipindahkan menjadi digital.

banner 728x250

Untuk menonton televisi masyarakat Jabodetabek kini sudah beralih ke siaran TV digital. Sebab, antena konvensional saat ini sudah dimatikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) pada Rabu, 2 November 2022 tepat pukul 24.00 WIB.

Dengan beralih ke siaran digital, pemerintah menjanjikan pengalaman menikmati konten siaran televisi lokal yang lebih baik bagi masyarakat.

Meski begitu, penghentian siaran TV analog atau analog switch off (ASO) ini masih belum bisa diterima oleh kalangan masyarakat Gorontalo. Sebab, sebagian besar masyarakat daerah serambi madinah masih menggunakan TV analog.

“Kami sudah tahu, bahwa di Jabodetabek ini sudah diberlakukan program TV digital. Tetapi kami belum bisa beralih ke program ini, alasannya salah satunya ketersediaan alat Set Top Box,” kata Abd Farid warga Kota Gorontalo (Liputan6.com, 06/11/2022).

Hampir semua masyarakat merasa sedih akibat siaran TV analog dimatikan, bagaimana mereka tidak bersedih, karena agar mereka bisa menonton siaran tv lagi mereka harus membeli sebuah box digital, alih-alih mereka membeli untuk biaya hidup dan makan mereka pun sulit. Apalagi di masa sekarang yang semua harganya naik.

Padahal dengan adanya digital semua akses informasi yang terjadi di negeri ini bisa didapat dengan cepat dan lebih luas. Adanya perkembangan internet, TV digital  dan sebagainya adalah bukti fisik perkembangan tersebut.

Sayangnya perkembangan teknologi saat ini tidak bisa dijangkau dan nikmati lagi oleh seluruh masyarakat, seperti transformasi TV digital saat ini yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan atas karena tidak semua masyarakat siap dengan perubahan ini.

Sudah jelas semuanya ketika TV analog diberhentikan akan sangat menyulitkan masyarakat karena ada komponen yang harus di beli untuk dqpat mengakses kembalikm siaran tv. Maka negara dengan mudahnya akan mendorong semua perusahaan untuk  memproduksi alat untuk mengakses TV digital yaitu Set Top Box(STB). Dengan demikian perubahan ini hanya menguntungkan korporasi tanpa mementingkan masyarakat bawah.

Inilah atmosfer dalam kehidupan dalam sistem kapitalisme, pemilik teknologi adalah yang punya modal besar dan mayoritas mereka adalah swasta. Karena bagi kapitalisme teknologi adalah komoditas ekonomi, dimana ketika semua orang ingin menikmati siaran teknologi mereka harus mengeluarkan sejumlah uang untuk menikmati teknologi tersebut.

Sangat berbeda dengan sistem Islam dalam memandang urusan teknologi. Faktanya teknologi adalah instrumen pendukung kehidupan. Sehingga makin luas teknologi semestinya berbanding lurus dengan penyediaan lapangan pekerjaan dan pengelolaan kehidupan yang membaik.

Seperti halnya menurut Syekh Abdul Qadim Zallum dalam buku sistem keuangan negara khilafah menjelaskan:

Sarana pelayanan pos, surat menyurat, telepon, kiriman kilat, teleks, sarana televisi, perantara satelit dan lain-lain, merupakan salah satu jenis infrastruktur milik negara yang disebut marafiq sehingga dapat dimanfaatkan di wilayah pedesaan maupun provinsi selama sarana tersebut bermanfaat dan dapat membantu.

Maka perkembangan TV analog ke digital dan efisiensi pengguna frekuensi semata-mata akan dikembangkan untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Pengembangan ini akan dibiayai oleh negara  yang dananya berasal dari baitul mal pos kepemilikan negara yang berasal dari harta usyur, kharaj, ghanimah, jizyah dan sejenisnya.

Tanggung jawab penuh dari negara dalam menyediakan layanan publik telekomunikasi akan membuat masyarakat siap dengan berbagai transformasi teknologi.


banner 336x280

Tinggalkan Balasan