Bingkaiwarta, CIGANDAMEKAR – Kabupaten Kuningan kembali menorehkan prestasi dan kepercayaan tinggi di sektor pertanian. Daerah ini terpilih menjadi lokasi utama pelaksanaan Gerakan Pengendalian (Gerdal) serentak tingkat Provinsi Jawa Barat, sebagai langkah strategis pengamanan produksi padi dari ancaman Organisme Pengganggu Tumbuhan (OPT) yang mengancam kerusakan lahan. Kegiatan besar ini dipusatkan di Desa Koreak, Kecamatan Cigandamekar, kemarin. Hal ini sekaligus menjadi bukti keunggulan penerapan sistem Pengendalian Hama Terpadu (PHT) yang diterapkan di Kuningan dan dijadikan contoh bagi daerah lain.
Gerakan pengendalian ini digelar sebagai respons cepat dan tepat atas teridentifikasinya serangan hama Penggerek Batang Padi (PBP) yang menyerang hamparan seluas 50 hektare, dengan tingkat intensitas serangan mencapai 10,63 persen. Penanganan dilakukan secara menyeluruh dan terpadu, mulai dari pengamatan cermat di lapangan, pemanfaatan kekuatan musuh alami, pengelolaan lingkungan pertanahan yang sehat, hingga penggunaan pestisida secara tepat sasaran, terukur, dan sesuai kaidah PHT.
Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian melalui Ketua Tim Kerja/Kelompok Substansi Pengendalian OPT Serealia Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Gandi Purnama, memberikan apresiasi tinggi. Ia menegaskan bahwa Pengendalian Hama Terpadu bukan sekadar teknik bertani biasa, melainkan pendekatan sistemik yang menjaga keseimbangan alam sekaligus menjamin keberlanjutan produksi.
“PHT bukan sekadar metode teknis, tetapi sebuah pendekatan sistemik yang mengutamakan keseimbangan alam dan keberlanjutan produksi. Apa yang dilakukan di Kuningan ini sangat luar biasa, menunjukkan praktik pengendalian yang sangat baik, rapi, dan bisa dijadikan contoh teladan bagi daerah-daerah lain di Indonesia,” ujarnya bangga.
Lebih jauh, Gandi memaparkan tiga kunci emas keberhasilan Gerakan Pengendalian yang telah diterapkan Kuningan dengan tepat. Kunci itu adalah kolaborasi melibatkan semua pihak, pelaksanaan di hamparan luas, dan dilakukan secara terus-menerus sampai hama benar-benar bersih.
“Tiga kunci keberhasilan Gerdal itu adalah: dilakukan bersama-sama, dilakukan dalam areal yang luas, dan dilakukan secara berkelanjutan. Jika ketiga prinsip ini diterapkan, efektivitasnya sangat tinggi dan risiko penyebaran hama bisa ditekan drastis. Kuningan sudah membuktikannya,” tegasnya.
Apresiasi senada juga disampaikan Kepala Balai Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura (BPTPH) Provinsi Jawa Barat, Ir. R. Nungke Rochjatti. Menurutnya, terpilihnya Kuningan sebagai pusat kegiatan Gerdal serentak se-Jawa Barat bukanlah kebetulan semata, melainkan hasil dari kecepatan dan keseriusan daerah dalam merespons setiap potensi bahaya.
“Kuningan punya respons yang sangat cepat dan luar biasa. Tidak hanya bergerak cepat menindak di lapangan, tapi juga aktif membangun kesadaran petani lewat pendampingan dan komunikasi yang sangat intens. Sinergi antara pemerintah daerah, petugas POPT, penyuluh, dan petani berjalan sangat solid. Inilah alasan utama Kuningan layak menjadi lokasi pusat Gerdal tingkat Jawa Barat,” katanya.
Kegiatan strategis ini dihadiri langsung oleh jajaran penting, mulai dari Koordinator SATPEL Wilayah III Indramayu Pipin Rudianto, Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr. Wahyu Hidayah, Kepala UPTD Brigade Proteksi Tanaman Yudi Frayudi, Kepala UPTD KPP/BPP Cilimus Diana, unsur Forkopimcam, penyuluh pertanian, petugas POPT, hingga para kelompok tani yang menjadi garda terdepan di lapangan.
Tanaman padi yang menjadi fokus pengamatan saat itu terdiri dari berbagai varietas unggul, antara lain Inpari, Mapan P05, dan varietas lokal, dengan usia tanaman berkisar antara 30 hingga 40 hari setelah tanam. Dalam penanganannya, selain penggunaan insektisida berbahan aktif dimehipo yang terukur, ekosistem sawah Kuningan juga sangat mendukung karena keberadaan musuh alami seperti Lycosa sp. dan Paederus sp. yang berperan aktif memangsa hama secara alami.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan, Dr. Wahyu Hidayah, menegaskan kembali bahwa pengendalian di Kuningan tidak lagi bergantung pada cara lama. PHT sudah menjadi fondasi utama dan budaya bertani yang berkelanjutan.
“Pengendalian tidak bisa lagi hanya mengandalkan cara kimiawi semata. Kita harus mengedepankan prinsip PHT yang memadukan pengamatan teliti, pemanfaatan musuh alami, pengelolaan lingkungan yang baik, serta intervensi yang tepat sasaran dan terukur. Dengan cara inilah produktivitas pertanian kita terjaga dan alam tetap lestari,” tegas Wahyu.
Ia menambahkan, Pemkab Kuningan terus memperkuat sistem deteksi dini dan respons cepat. Hal ini dijalankan lewat sinergi erat antara Brigade Proteksi Tanaman, petugas POPT, penyuluh, dan kelompok tani agar setiap ancaman terdeteksi sebelum meluas.
“Kami ingin memastikan setiap laporan serangan ditangani cepat, terukur, dan berbasis data nyata. Yang kita bangun bukan hanya kemampuan menanggapi masalah, tapi sistem kewaspadaan dini. Agar ancaman bisa dikendalikan sejak dini sebelum menjadi bencana,” ujarnya.
Karena itu, Wahyu kembali mengimbau seluruh petani untuk tidak ragu dan tidak menunda pelaporan jika menemukan gejala serangan hama atau penyakit. Kecepatan informasi adalah kunci keberhasilan pengamanan panen.
“Saya mengajak seluruh petani, jangan diam saja. Segera lapor jika ada indikasi hama atau penyakit. Semakin cepat ketahuan, semakin cepat ditangani, kerugian bisa diminimalkan sampai nol persen,” imbaunya.
Sebagai bentuk kemudahan dan kecepatan layanan, Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian menyediakan jalur khusus komunikasi. Petani bisa langsung menghubungi Brigade Proteksi Tanaman melalui nomor 0852-1614-8391. Nomor ini adalah jalur darurat layanan deteksi dini dan respons cepat pengamanan pertanian di Kuningan.
“Jangan menunggu sampai rusak parah. Laporkan dari gejala awal, biar petugas segera turun identifikasi dan beri solusi tepat. Ingat, kecepatan adalah kunci keamanan panen kita,” tegas Wahyu.
Ia juga menekankan bahwa di balik keberhasilan teknologi dan sistem, partisipasi aktif petani tetap menjadi faktor penentu utama. Ketika petani paham dan terlibat langsung, pengendalian menjadi jauh lebih efektif dan efisien.
“Saat petani paham PHT dan terlibat aktif, perlindungan tanaman itu kuat dan berkelanjutan. Itulah yang terus kami dorong dan bangun di Kuningan,” katanya.
Gerakan pengendalian serentak ini juga berlangsung di seluruh kabupaten/kota se-Jawa Barat dengan pola baru, yaitu pendekatan hibrida: aksi di lapangan dipadukan dengan koordinasi dan pemantauan daring. Cara ini memungkinkan pertukaran data cepat, sinkronisasi langkah, dan penguatan sistem kewaspadaan di seluruh sentra produksi padi Jawa Barat.
Melalui langkah cepat, kolaboratif, dan berbasis ilmu pengetahuan ini, Kabupaten Kuningan tidak hanya berhasil menekan potensi kerugian hasil panen, tetapi juga telah membuktikan diri sebagai model perlindungan tanaman yang adaptif, cerdas, dan berkelanjutan. Sebuah langkah nyata untuk memperkuat ketahanan pangan, baik bagi masyarakat Kuningan maupun menyokong ketahanan pangan nasional. (Abel)













