banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250
banner 728x250

banner 728x250
Berita  

Tadarus Sejarah Mengenal Jati Diri Sunda

Bingkaiwarta, KUNINGAN – Akhir-akhir ini, media sosial diramaikan oleh pernyataan salah satu anggota DPR-RI Komisi 3 Fraksi PDI-P, Arteria Dahlan. Dimana, Ia mempersoalkan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) agar ditindak tegas karena menggunakan Bahasa Sunda dalam sebuah forum. Tentunya persoalan ini menjadi sebuah polemik yang berkepanjangan khususnya bagi masyarakat Jawa Barat yang dominan penduduknya merupakan bersuku Sunda.

Tokoh Pendidikan Kabupaten Kuningan sekaligus Pendiri Sekolah Penerbangan pertama di Kabupaten Kuningan, Nana Mulyana Latief mengatakan, persoalan Arteria Dahlan menjadi bahan kajian serta refleksi bagi kita semua terkait sebuah makna Sunda yang memiliki nilai kalungguhan serta kewibawaan bagi masyarakat Jawa Barat.

banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280
banner 336x280

Sunda bukan hanya sebuah bahasa, tapi merupakan sebuah kedaulatan wilayah kerajaan pada masa lalu. Menurut Nana, masyarakat Kabupaten Kuningan diharapkan mampu mengenal jati diri “Sunda” bukan sebagai bahasa pengantar daerah saja, melainkan sebagai jati diri kalungguhan masyarakat adat yang paham akan jati dirinya.

“Keprihatinan saya terhadap Sejarah dan Budaya lokal yang makin tergerus oleh perkembangan zaman dan teknologi dengan berupaya melakukan sebuah pelurusan serta penelurusan terhadap Sejarah Kabupaten Kuningan,” ungkapnya kepada bingkaiwarta.co.id, Jumat (21/1/2022).

Dikatakan Nana, pihaknya selalu melakukan “Tadarus Sejarah “ dengan harapan masyarakat Kabupaten Kuningan lebih memahami siapa jati diri pendahulu para pemimpin Kuningan yang membawa Kuningan menjadi sebuah nama “Nagari Kuningan”.

Sementara itu, Budayawan Lokal Kesultanan Cirebon sekaligus Penulis Buku Sejarah Cirebon, Raden Hamzaiya menjelaskan, makna “Sunda” merupakan perwujudan daripada sebuah Kerajaan yang berdaulat.

“Jika Kerajaan Sunda berdiri sebagai sebuah wilayah yang berdaulat dengan Ibu Kota Pajajaran, masyarakat harus lebih paham jika ada sebuah kekeliruan terhadap pemahaman sebuah kronologis Sejarah. Pajajaran adalah Ibu Kota atau pusat kekuasaan daripada Kerajaan Sunda yang dipimpin oleh Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi,” jelasnya.

Lebih jauh, pria berkacamata ini memaparkan, jika landasan daripada teori tersebut, kenapa masyarakat lebih mengenal sebutan Kerajaan Pajajaran daripada Kerajaan Sunda? Berdasarkan teori Robert Von Heine Geldern, dimana kerajaan-kerajaan yang berdiri di wilayah Asia Tenggara pada umumnya lebih dikenal nama ibu kotanya.

“Tentunya ketika membahas Kerajaan Sunda maka akan berkaitan dengan Kesultanan Pakungwati yang didirikan oleh Pangeran Cakrabuana selaku anak daripada Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi,” kata Raden Hamzaiya. (Abel Kiranti)


banner 336x280
banner 336x280
banner 120x600

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!